<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239</id><updated>2012-02-03T06:31:15.997-08:00</updated><title type='text'>Subandi Rianto</title><subtitle type='html'>Entrepreneur - CEO - Writter</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-6544668395275848796</id><published>2012-02-03T06:21:00.000-08:00</published><updated>2012-02-03T06:25:56.663-08:00</updated><title type='text'>Anyer-Panarukan: Dekapan Kolonial dalam Ekonomi dan Budaya Pantai Utara Jawa</title><content type='html'>Saat Daendels memerintahkan pembangunan jalan melewati punggung bukit di daerah Sumedang-Jawa Barat. Bupati Sumedang, Kusumahdinata (Pangeran Kornell) melawan perintah itu dan mengakibatkan Daendels marah besar. Saat inspeksi mendadak ke Sumedang. Ternyata Bupati Kusumahdinata telah menyiapkan sambutan yang mengagetkan bagi Dandels. Sambutan tersebut adalah dengan menyalaminya menggunakan tangan kiri, sementara di tangan kanannya memgang hulu keris. Simbolisme tersebut mencerminkan perlawanan terhadap penguasaan colonial. Walaupun maksud utama Kusumahdinata adalah meminta keringanan atas beratnya medan Sumedang. Dimana medan bukit yang curam dan terjal tidak mungkin didaki manusia biasa. Maka, permintaan Kusumahdinata dituruti oleh Daendels dengan mengirim pasukan khusus (pasukan zeni) yang bertugas meratakan jalan di atas bukit. Jalan itulah yang menjadi penanda pembangunan jalan raya pos menuju jawa tengah, terus hingga Semarang hingga berakhir di Panarukan Jawa Timur. Keberanian Kusumahdinata dalam membangkang akhirnya diagungkan masyarakat Sunda dengan membuatkan patungnya di jalan Cadas Pangeran.&lt;br /&gt; Asal mula pembangunan jalan raya pos adalah mempercepat mobilisasi militer Dandels. Mobilisasi mutlak diperlukan dalam upaya mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Saat itu, militer-militer Inggris juga memasang posisi di utara Semenanjung Malaysia. Tak ada pilihan lain bagi Daendels, wakil Napoleon di Hindia Belanda untuk membuat jalan raya pos. selain bertujuan memobilisasi militer, jalan raya tersebut berfungsi untuk memperlancar antara komunikasi pusat dengan daerah (kabupaten-kabupaten). Awalnya hanya kendaraan-kendaraan khusus yang diperbolehkan melewati jalan tersebut seperti kereta kerajaan, angkutan khusus hingga kendaraan militer. Tapi, menjelang semakin berkembangnya ekonomi di sepanjang jalan pos. Pemerintah kolonial memutuskan membuka untuk umum. Kereta-kereta dan gerobak-gerobak milik pribumi juga diperbolehkan menggunakan. Keterbukaan itu diperlukan menjelang semakin lancarnya komunikasi dan optimisme kenaikan pertumbuhan ekonomi di Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://cariuangfacebook.com/?id=peluangusaha"&gt;&lt;img &lt;br /&gt;src="http://cariuangfacebook.com/image/banner.gif" alt="kotak &lt;br /&gt;bawah" width="125" height="125" border="0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="style35"/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-6544668395275848796?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/6544668395275848796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=6544668395275848796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/6544668395275848796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/6544668395275848796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2012/02/anyer-panarukan-dekapan-kolonial-dalam.html' title='Anyer-Panarukan: Dekapan Kolonial dalam Ekonomi dan Budaya Pantai Utara Jawa'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-345776285096102917</id><published>2011-05-06T10:24:00.000-07:00</published><updated>2011-08-04T10:36:26.992-07:00</updated><title type='text'>MATERI WORKHSOP FOTOGRAFI MATAKULIAH SEJARAH PERKOTAAN</title><content type='html'>MATERI WORKHSOP FOTOGRAFI MATAKULIAH SEJARAH PERKOTAAN&lt;br /&gt;Download di link ini : &lt;br /&gt;&lt;A HREF="http://www.ziddu.com/download/14885168/MATERIFOTOGRAFIPEMULA.pdf.html&lt;span&lt;br /&gt;style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;"&gt;DIKTAT WORHSOP FOTOGRAFI SEJ. PERKOTAAN&lt;br&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://adsensecamp.com/show/?id=LK8N6Hsl11E%3D&amp;cid=Jw0%2BaU5zMLg%3D&amp;chan=qROmKSIyW%2Bs%3D&amp;type=2&amp;title=3D81EE&amp;text=000000&amp;background=FFFFFF&amp;border=FFFFFF&amp;url=0000FF" type="text/javascript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End: http://adsensecamp.com/ --&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-345776285096102917?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/345776285096102917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=345776285096102917' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/345776285096102917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/345776285096102917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2011/05/materi-workhsop-fotografi-matakuliah.html' title='MATERI WORKHSOP FOTOGRAFI MATAKULIAH SEJARAH PERKOTAAN'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-7514494589000922702</id><published>2011-04-20T08:01:00.000-07:00</published><updated>2012-02-03T04:01:32.390-08:00</updated><title type='text'>Historiografi Sejarah dalam Gaya Penulisan Ibnu Khaldun: Sebuah Tinjauan Historis</title><content type='html'>Oleh: Subandi Rianto &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak&lt;br /&gt; Ibnu Khaldun sebagai salah seorang historiograf modern meletakkan dasar-dasar ilmu sosiologi modern sebagai ilmu bantu Ilmu Sejarah (Penulisan Sejarah). Dimana dasar-dasar tersebut dihasilkan dari analisisnya terhadap peristiwa-peristiwa sejarah pada umat manusia terdahulu. Ibnu Khaldun menganalisis masyarakat dengan penekanan pada perubahan sosial antar individu yang mempengaruhi perkembangan masyarakat tersebut. Sumbangan terbesar Ibnu Khaldun dalam gaya penulisan sejarah strukturalis dan multidisiplin memberikan afiliasi yang kuat akan terbentuknya sintesa-sintesa ilmu lainnya.&lt;br /&gt;Keyword: ibnu khaldun, historiografi, sosiologi modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Biografi Singkat Ibnu Khaldun.&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun dilahirkan di Tunisia pada tanggal 732 Hijrah bersamaan dengan 1332 Masehi. Beliau dilahirkan dari keluarga yang berasal dari Sevilla, Spanyol. Ketika beranjak remaja, beliau belajar al-Qur’an dari kedua orang tuanya, para ilmuwan dan sejarawan Tunisia dan Spanyol. Pada tahun 1375 M, Beliau berhijrah ke Granada untuk mengasingkan diri dari kondisi Tunisia yang mulai ricuh akan perebutan kekuasaan. Ternyata kondisi perpolitikan Granada juga sedang memanas, maka beliau akhirnya memutuskan untuk pergi ke Aljazair (Semenanjung Arab). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di Aljazair, beliau menetap di kampung kecil bernama Qalat Ibnu Salama. Disana waktunya dihabiskan mempelajari ilmu pengetahuan dan menulis buku. Dari tempat itu pula, terbitlah beberapa buku tulisan Ibnu Khaldun yang luar biasa. Seperti Kitab termasuk al Ibar Wa Diwan al-Mubtad Wa al-Khabar. Kitab ini mengandungi enam jilid dan paling terkenal, kitab Mukaddimah. Kitab ini pula yang menjadi rujukan umat islam dalam bidang sosial, ekonomi, sejarah, filsafat dan tata pemerintahan. Kitab Mukaddimah menerangkan dengan jelas mengenai perubahan sosial dalam sebuah masyarakat, rangkuman sejarah umat-umat terdahulu, proses pembentukan Negara, serta proses pembentukan tata niaga industri dan pertanian. Akibat karya-karyanya yang termahsyur inilah, beliau kemudian dikenal sebagai “Prolegomena: oleh para ilmuwan barat yang artinya Ilmuwan yang mengenalkan berbagai ilmu mengenai kehidupan manusia (sebuah pondasi awal berdirinya ilmu sosiologi modern). &lt;br /&gt; Kebijaksanaan Ibnu Khaldun dalam menuangkan pikirannya ke dalam tulisan membuat Sultan Mesir, Sultan Burquq mengangkatnya sebagai Kadi (Hakim Tinggi Negara). Dan beliau mendapat gelar “Waliyudin”. Sebagai Hakim Negara Mesir, beliau merupakan penasehat sultan dalam berbagai bidang. Belaiu memberikan terobosan-terobosan penting mengenai pembelajarn sejarah, tata kelola pemerintahan kerajaan, pemberdayaan ekonomi, ilmu-ilmu alam (fisika dan kimia) serta memberikan konsepsi besar akan sebuah pemerintahan yang ideal. Beliau beranggapan bahwa tugas Negara (kerajaan) adalah mensejahterakan rakyatnya. Negara bukan sebagai lintah penghisap yang terus-terusan menghisap harta rakyatnya melalui pajak dan retribusi. Beliau mendorong agar kerajaan melakukan perdagangan bebas dengan Negara lain agar mendapakan devisa. Beliau juga menganjurkan agar masyarakat bisa dikelola dengan baik oleh Negara agar timbul hubungan timbal-balik yang menguntungkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan&lt;br /&gt;Pemikiran Besar Ibnu Khaldun Mengenai Konsep Sejarah, Sosial, Ekonomi dan Pemerintahan serta Sosiologi Modern sebagai Ilmu Baru.&lt;br /&gt;Gaya pemikiran Ibnu Khaldun dalam menulis sejarah (khususnya sejarah umat terdahulu) adalah dengan mengamati proses interaksi atau proses perubahan sosial yang ada dalam masyarakat (umat-umat terdahulu). Beliau kemudian menuliskan dan memberikan solusi-solusi baru atas analisis sebuah masalah. Sebenarnya gaya penulisan Ibnu Khaldun sudah mendekati tipe sejarah strukturalis (yang diperkenalkan oleh Sartono Kartodirjo). Namun, titik tekan penulisan Ibnu Khaldun pada metode-metode menganalisis perubahan sosial, mobilitas sosial serta interaksi dan hubungan antar masyarakat ketika zaman lampau. Oleh karena gaya penulisannya yang sedemikian. Maka, beliau telah meletakkan pondasi dasar ilmu-ilmu sosiologi modern (sebelumnya Sosiologi Klasik dikenalkan oleh Auguste Comte) yang menekankan pada proses perubahan masyarakat ditentukan oleh masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;Bebarapa pemikiran beliau dapat diulas dalam beberapa bukunya yaitu:&lt;br /&gt;a.  Kitab Muqaddimah, yang merupakan buku pertama dari kitab al-‘Ibar, yang terdiri dari bagian muqaddimah (pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari seluruh persoalan, dan buku tersebut pulalah yang mengangkat nama Ibnu Khaldun menjadi begitu harum.  Adapun tema muqaddimah ini adalah gejala-gejala sosial dan sejarahnya.&lt;br /&gt;b. Kitab al-‘Ibar, wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar, fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi as-Sulthani al-‘Akbar. (Kitab Pelajaran dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan dan Zaman Akhir yang mencakup Peristiwa Politik Mengenai Orang-orang Arab, Non-Arab, dan Barbar, serta Raja-raja Besar yang Semasa dengan Mereka), yang kemudian terkenal dengan kitab ‘Ibar, yang terdiri dari tiga buku: Buku pertama, adalah sebagai kitab Muqaddimah, atau jilid pertama yang berisi tentang: Masyarakat dan ciri-cirinya yang hakiki, yaitu pemerintahan, kekuasaan, pencaharian, penghidupan, keahlian-keahlian dan ilmu pengetahuan dengan segala sebab dan alasan-alasannya. Buku kedua terdiri dari empat jilid, yaitu jilid  kedua, ketiga, keempat, dan kelima, yang menguraikan tentang sejarah bangsa Arab, generasi-generasi mereka serta dinasti-dinasti mereka. Di samping itu juga mengandung ulasan tentang bangsa-bangsa terkenal dan negara yang sezaman dengan mereka, seperti bangsa Syiria, Persia, Yahudi (Israel), Yunani, Romawi, Turki dan Franka (orang-orang Eropa). Kemudian Buku Ketiga terdiri dari dua jilid yaitu jilid keenam dan ketujuh, yang berisi tentang sejarah bahasa Barbar dan Zanata yang merupakan bagian dari mereka, khususnya kerajaan dan negara-negara Maghribi (Afrika Utara).&lt;br /&gt;c. Kitab al-Ta’rif bi Ibnu Khaldun wa Rihlatuhu Syarqon wa Ghorban atau disebut al-Ta’rif, dan oleh orang-orang Barat disebut dengan Autobiografi , merupakan bagian terakhir dari kitab al-‘Ibar yang berisi tentang beberapa bab mengenai kehidupan Ibnu Khaldun. Dia menulis autobiografinya secara sistematis dengan menggunakan metode ilmiah, karena terpisah dalam bab-bab, tapi saling berhubungan antara satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian dan Pemikiran Ibnu Khaldun Mengenai Pondasi Dasar Ilmu Sosiologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seoang pemikir Ibnu Khaldun memiliki watak yang luar biasa yang kadang terasa kurang baik. Dalam hal ini Muhammad Abdullah Enan melukiskan kepribadian Ibnu Khaldun yang istimewa itu dengan mencoba memperlihatkan ciri psikologik Ibnu Khaldun, walaupun diakuinya secara moral ini tidak selalu sesuai. Menurutnya ia melihat dalam diri Ibnu Khaldun terdapat sifat angkuh dan egoisme, penuh ambisi, tidak menentu dan kurang memiliki rasa terima kasih. Namun di samping sifat-sifatnya yang tersebut di atas dia juga mempunyai sifat pemberani, tabah dan kuat, teguh pendirian serta tahan uji. Disamping memiliki intelegensi yang tinggi, cerdas, berpandangan jauh dan pandai berpuisi. Menurut beberapa ahli, Ibnu Khaldun dalam proses pemikirannya mengalami percampuran yang unik, yaitu antara dua tokoh yang saling bertolak belakang, Al-Ghozali dan Ibnu Rusyd. Al-Ghozali dan Ibnu Rusyd bertentangan dalam bidang filsafat. Ibnu Rusyd adalah pengikut Aristoteles yang setia, sedangkan Al-Ghozali adalah penentang filsafat Aristoteles yang gigih. Ibnu Khaldun adalah pengikut Al-Ghozali dalam permusuhannya melawan logika Aristoteles, dan pengikut Ibnu Rusyd dalam usahanya mempengaruhi massa.  Ibnu Khaldun adalah satu-satunya sarjana muslim waktu itu yang menyadari arti pentingnya praduga dan katagori dalam pemikiran untuk menyelesaikan perdebatan-perdebatan intelektual. Barangkali karena itulah seperti anggapan Fuad Baali bahwa Ibnu Khaldun membangun suatu bentuk logika baru yang realistik, sebagai upayanya untuk mengganti logika idealistik Aristoteles yang berpola paternalistik-absolutistik-spiritualistik. Sedangkan logika realistik Ibnu Khaldun ini berpola pikir relatifistik-temporalistik-materialistik. Dengan berpola pikir seperti itulah Ibnu Khaldun mengamati dan menganalisa gejala-gejala sosial beserta sejarahnya, yang pada akhirnya tercipta suatu teori kemasyarakatan yang modern.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Lain Ibnu Khaldun tentang Islam (Filsafat Pendidikan dan Fiqh Agama).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengertian dan Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini akan dibahas pandangan-pandangan Ibnu Khaldun mengenai pendidikan. Menurut Ibnu Khaldun dalam awal pembahasannya pada bab empat dari Muqaddimahnya, dia menyatakan bahwa ilmu pendidikan bukanlah suatu aktivitas yang semat-mata bersifat pemikiran dan perenungan yang jauh dari aspek-aspek pragmatis di dalam kehidupan, akan tetapi ilmu dan pendidikan merupakan gejala konklusif yang lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangannya dalam tahapan kebudayaan. Menurutnya bahwa ilmu dan pendidikan tidak lain merupakan gejala sosial yang menjadi ciri khas jenis insani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kitab Muqaddimahnya Ibnu Khaldun tidak memberikan definisi pendidikan secara jelas, ia hanya memberikan gambaran-gambaran secara umum, seperti dikatakan Ibnu Khaldun bahwa: Barangsiapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman, maksudnya barangsiapa tidak memperoleh tata krama yang dibutuhkan sehubungan pergaulan bersama melalui orang tua mereka yang mencakup guru-guru dan para sesepuh, dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan mempelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan mengajarkannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pendapatnya ini dapat diketahui bahwa pendidikan menurut Ibnu Khaldun mempunyai pengertian yang cukup luas. Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang dibatasi oleh empat dinding, tetapi pendidikan adalah suatu proses, di mana manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Khaldun bahwa secara esensial manusia itu bodoh, dan menjadi berilmu melalui pencarian ilmu pengetahuan. Alasan yang dikemukakan bahwa manusia adalah bagian dari jenis binatang, dan Allah SWT telah membedakannya dengan binatang dengan diberi akal pikiran. Kemampuan manusia untuk berfikir baru dapat dicapai setelah sifat kebinatangannya mencapai kesempurnaan, yaitu dengan melalui proses; kemampuan membedakan. Sebelum pada tahap ini manusia sama sekali persis seperti binatang, manusia hanya berupa setetes sperma, segumpal darah, sekerat daging dan masih ditentukan rupa mentalnya. Kemudian Allah memberikan anugerah berupa pendengaran, penglihatan dan akal. Pada waktu itu manusia adalah materi sepenuhnya karena itu dia tidak mempunyai ilmu pengetahuan. Dia mencapai kesempurnaan bentuknya melalui ilmu pengetahuan yang dicari melalui organ tubuhnya sendiri.  Setelah manusia mencapai eksistensinya, dia siap menerima apa yang dibawa para Nabi dan mengamalkannya demi akhiratnya. Maka dia selalu berfikir tentang semuanya. Dari pikiran ini tercipta berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian-keahlian. Kemudian manusia ingin mencapai apa yang menjadi tuntutan wataknya; yaitu ingin mengetahui segala sesuatu, lalu dia mencari orang yang lebih dulu memiliki ilmu atau kelebihan. Setelah itu pikiran dan pandangannya dicurahkan pada hakekat kebenaran satu demi satu serta memperhatikan peristiwa-peristiwa yang dialaminya yang berguna bagi esensinya. Akhirnya dia menjadi terlatih sehingga pengajaran terhadap gejala hakekat menjadi suatu kebiasaan (malakah) baginya. Ketika itu ilmunya menjadi suatu ilmu spesial, dan jiwa generasi yang sedang tumbuh pun tertarik untuk memperoleh ilmu tersebut. Merekapun meminta bantuan para ahli ilmu pengetahuan, dan dari sinilah timbul pengajaran.  Inilah yang oleh Ibnu Khaldun dikatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan hal yang alami di dalam peradaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun, bahwa di dalam Muqaddimahnya ia tidak merumuskan tujuan pendidikan secara jelas, akan tetapi dari uraian yang tersirat, dapat diketahui tujuan yang seharusnya dicapai di dalam pendidikan. Dalam hal ini al-Toumy mencoba menganalisa isi Muqaddimahnya dan ditemukan beberapa tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Dijelaskan menurutnya ada enam tujuan yang hendak dicapai melalui pendidikan, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Menyiapkan seseorang dari segi keagamaan, yaitu dengan mengajarkan syair-syair agama menurut al-Qur’an dan Hadits Nabi sebab dengan jalan itu potensi iman itu diperkuat, sebagaimana dengan potensi-potensi lain yang jika kita mendarah daging, maka ia seakan-akan menjadi fithrah.&lt;br /&gt;2.    Menyiapkan seseorang dari segi akhlak. Hal ini sesuai pula dengan apa yang dikatakan Muhammad AR., bahwa hakekat pendidikan menurut Islam sesungguhnya adalah menumbuhkan dan membentuk kepribadian manusia yang sempurna melalui budi luhur dan akhlak mulia.&lt;br /&gt;3.    Menyiapkan seseorang dari segi kemasyarakatan atau sosial.&lt;br /&gt;4.    Menyiapkan seseorang dari segi vokasional atau pekerjaan. Ditegaskannya tentang pentingnya pekerjaan sepanjang umur manusia, sedang pengajaran atau pendidikan menurutnya termasuk di antara ketrampilan-ketrampilan itu.&lt;br /&gt;5.    Menyiapkan seseorang dari segi pemikiran, sebab dengan pemikiran seseorang dapat memegang berbagai pekerjaan atau ketrampilan tertentu.&lt;br /&gt;6.    Menyiapkan seseorang dari segi kesenian, di sini termasuk musik, syair, khat, seni bina dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan bukan hanya bertujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan akan tetapi juga untuk mendapatkan keahlian. Dia telah memberikan porsi yang sama antara apa yang akan dicapai dalam urusan ukhrowi dan duniawi, karena baginya pendidikan adalah jalan untuk memperoleh rizki. Maka atas dasar itulah Ibnu Khaldun beranggapan bahwa target pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, karena dia memandang aktivitas ini sangat penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu. Karena kematangan berfikir adalah alat kemajuan ilmu industri dan sistem sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rumusan yang ingin dicapai Ibnu Khaldun menganut prinsip keseimbangan. Dia ingin anak didik mencapai kebahagiaan duniawi dan sekaligus ukhrowinya kelak. Berangkat dari pengamatan terhadap rumusan tujuan pendidikan yang ingin dicapai Ibnu Khaldun, secara jelas kita dapat melihat bahwa ciri khas pendidikan Islam yaitu sifat moral religius nampak jelas dalam tujuan pendidikannya, dengan tanpa mengabaikan masalah-masalah duniawi. Sehingga secara umum dapat kita katakan bahwa pendapat Ibnu Khaldun tentang pendidikan telah sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam yakni aspirasi yang bernafaskan agama dan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2.    Pandangan Ibnu Khaldun mengenai Kurikulum dan Materi Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membahas pandangan Ibnu Khaldun tentang kurikulum perlu kiranya diberikan pengertian kurikulum pada zamannya, karena kurikulum pada zamannya tentu saja berbeda dengan kurikulum masa kini yang telah memiliki pengertian yang lebih luas. Pengertian kurikulum pada masa Ibnu Khaldun masih terbatas pada maklumat-maklumat dan pengetahuan yang dikemukakan oleh guru atau sekolah dalam bentuk mata pelajaran yang terbatas atau dalam bentuk kitab-kitab tradisional yang tertentu, yang dikaji oleh murid dalam tiap tahap pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pengertian kurikulum modern, telah mencakup konsep yang lebih luas yang di dalamnya mencakup empat unsur pokok yaitu: Tujuan pendidikan yang ingin dicapai, pengetahuan-pengetahuan, maklumat-maklumat, data kegiatan-kegiatan, pengalaman-pengalaman dari mana terbentuknya kurikulum itu, metode pengajaran serta bimbingan kepada murid, ditambah metode penilaian yang dipergunakan untuk mengukur kurikulum dan hasil proses pendidikan.  Dalam pembahasannya mengenai kurikulum Ibnu Khaldun mencoba membandingkan kurikulum-kurikulum yang berlaku pada masanya, yaitu kurikulum pada tingkat rendah yang terjadi di negara-negara Islam bagian Barat dan Timur. Ia mengatakan bahwa sistem pendidikan dan pengajaran yang berlaku di Maghrib, bahwa orang-orang Maghrib membatasi pendidikan dan pengajaran mereka pada mempelajari al-Qur’an dari berbagai segi kandungannya. Sedangkan orang-orang Andalusia, mereka menjadikan al-Qur’an sebagai dasar dalam pengajarannya, karena al-Qur’an merupakan sumber Islam dan sumber semua ilmu pengetahuan. Sehingga mereka tidak membatasi pengajaran anak-anak pada mempelajari al-Qur’an saja, akan tetapi dimasukkan juga pelajaran-pelajaran lain seperti syair, karang mengarang, khat, kaidah-kaidah bahasa Arab dan hafalan-hafalan lain. Demikian pula dengan orang-orang Ifrikiya, mereka mengkombinasikan pengajaran al-Qur’an dengan hadits dan kaidah-kaidah dasar ilmu pengetahuan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun metode yang dipakai orang Timur seperti pengakuan Ibnu Khaldun, sejauh yang ia ketahui bahwa orang-orang Timur memiliki jenis kurikulum campuran antara pengajaran al-Qur’an dan kaidah-kaidah dasar ilmu pengetahuan. Dalam hal ini Ibnu Khaldun menganjurkan agar pada anak-anak seyogyanya terlebih dahulu diajarkan bahasa Arab sebelum ilmu-ilmu yang lain, karena bahasa adalah merupakan kunci untuk menyingkap semua ilmu pengetahuan, sehingga menurutnya mengajarkan al-Qur’an mendahului pengajarannya terhadap bahasa Arab akan mengkaburkan pemahaman anak terhadap al-Qur’an itu sendiri, karena anak akan membaca apa yang tidak dimengertinya dan hal ini menurutnya tidak ada gunanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pandangannya mengenai materi pendidikan, karena materi adalah merupakan salah satu komponen operasional pendidikan, maka dalam hal ini Ibnu Khaldun telah mengklasifikasikan ilmu pengetahuan yang banyak dipelajari manusia pada waktu itu menjadi dua macam yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Ilmu-ilmu tradisional (Naqliyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu naqliyah adalah yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits yang dalam hal ini peran akal hanyalah menghubungkan cabang permasalahan dengan cabang utama, karena informasi ilmu ini berdasarkan kepada otoritas syari’at yang diambil dari al-Qur’an dan Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqliyah itu antara lain: ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits, ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh, ilmu kalam, ilmu bahasa Arab, ilmu tasawuf, dan ilmu ta’bir mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Ilmu-ilmu filsafat atau rasional (Aqliyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperolehnya melalui kemampuannya untuk berfikir. Ilmu ini dimiliki semua anggota masyarakat di dunia, dan sudah ada sejak mula kehidupan peradaban umat manusia di dunia. Menurut Ibnu Khaldun ilmu-ilmu filsafat (aqliyah) ini dibagi menjadi empat macam ilmu yaitu: a. Ilmu logika, b. Ilmu fisika, c. Ilmu metafisika dan d. Ilmu matematika. Walaupun Ibnu Khaldun banyak membicarakan tentang ilmu geografi, sejarah dan sosiologi, namun ia tidak memasukkan ilmu-ilmu tersebut ke dalam klasifikasi ilmunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengadakan penelitian, maka Ibnu Khaldun membagi ilmu berdasarkan kepentingannya bagi anak didik menjadi empat macam, yang masing-masing bagian diletakkan berdasarkan kegunaan dan prioritas mempelajarinya. Empat macam pembagian itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Ilmu agama (syari’at), yang terdiri dari tafsir, hadits, fiqh dan ilmu kalam.&lt;br /&gt;2.    Ilmu ‘aqliyah, yang terdiri dari ilmu kalam, (fisika), dan ilmu Ketuhanan (metafisika)   &lt;br /&gt;3.    Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu agama (syari’at), yang terdiri dari ilmu bahasa Arab, ilmu hitung dan ilmu-ilmu lain yang membantu mempelajari agama.&lt;br /&gt;4.    Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu filsafat, yaitu logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Khaldun, kedua kelompok ilmu yang pertama itu adalah merupakan ilmu pengetahuan yang dipelajari karena faidah dari ilmu itu sendiri. Sedangkan kedua ilmu pengetahuan yang terakhir (ilmu alat) adalah merupakan alat untuk mempelajari ilmu pengetahuan golongan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pandangan Ibnu Khaldun tentang materi ilmu pengetahuan yang menunjukkan keseimbangan antara ilmu syari’at (agama) dan ilmu ‘Aqliyah (filsafat). Meskipun dia meletakkan ilmu agama pada tempat yang pertama, hal itu ditinjau dari segi kegunaannya bagi anak didik, karena membantunya untuk hidup dengan seimbang namun dia juga meletakkan ilmu aqliyah (filsafat) di tempat yang mulia sejajar dengan ilmu agama. Menurut Ibnu Khaldun ilmu-ilmu pengetahuan tersebut dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar banyak tergantung pada para pendidik, bagaimana dan sejauh mana mereka pandai mempergunakan berbagai metode yang tepat dan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Pandangan Ibnu Khaldun tentang Metode Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Ibnu Khaldun tentang metode pengajaran merupakan bagian dari pembahasan pada buku Muqaddimahnya. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah pendidikan Islam dapat kita simak bahwa dalam berbagai kondisi dan situasi yang berbeda, telah diterapkan metode pengajaran. Dan metode yang dipergunakan bukan hanya metode mengajar bagi pendidik, melainkan juga metode belajar yang harus digunakan oleh anak didik. Hal ini sebagaimana telah dibahas Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku Muqaddimahnya dia telah mencanangkan langkah-langkah pendidikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Didalam memberikan pengetahuan kepada anak didik, pendidik hendaknya memberikan problem-problem pokok yang bersifat umum dan menyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal anak didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Setelah pendidik memberikan problem-problem yang umum dari pengetahuan tadi baru pendidik membahasnya secara lebih detail dan terperinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Pada langkah ketiga ini pendidik menyampaikan pengetahuan kepada anak didik secara lebih terperinci dan menyeluruh, dan berusaha membahas semua persoalan bagaimapaun sulitnya agar anak didik memperoleh pemahaman yang sempurna. Demikian itu metode umum yang ditawarkan Ibnu Khaldun di dalam proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu Ibnu Khaldun juga menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena dengan metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan mengasah otak, melatih untuk berbicara, disamping mereka mempunyai kebebasan berfikir dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini dapat membuat anak didik berfikir reflektif dan inovatif. Lain halnya dengan metode hafalan, yang menurutnya metode ini membuat anak didik kurang mendapatkan pemahaman yang benar.  Disamping metode yang sudah disebut di atas Ibnu Khaldun juga menganjurkan metode peragaan, karena dengan metode ini proses pengajaran akan lebih efektif dan materi pelajaran akan lebih cepat ditangkap anak didik. Satu hal yang menunjukkan kematangan berfikir Ibnu Khaldun, adalah prinsipnya bahwa belajar bukan penghafalan di luar kepala, melainkan pemahaman, pembahasan dan kemampuan berdiskusi. Karena menurutnya belajar dengan berdiskusi akan menghidupkan kreativitas pikir anak, dapat memecahkan masalah dan pandai menghargai pendapat orang lain, disamping dengan berdiskusi anak akan benar-benar mengerti dan paham terhadap apa yang dipelajarinya. Demikian pandangan Ibnu Khaldun tentang berbagai masalah yang berkaitan dengan pendidikan. Dan apabila kita cermati satu demi satu pandangannya tentang kurikulum materi dan metode pendidikan, maka dapat kita tarik suatu kesimpulan  bahwa ilmuan yang diakui Barat dan Timur ini memang memiliki pandangan yang jauh ke depan dalam berbagai masalah pengetahuan, berfikir universal dan sintetik, sehingga filsafatnya tentang pendidikan tidak pernah dirasanya usang bahkan banyak diteladani baik kawan maupun lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibnu Khaldun Sebagai Historiograf Modern Menyumbangkan Pemikiran Besar Mengenai Gaya Penulisan Sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebagai seorang sejarawan, ilmuwan, peletak dasar ilmu sosiologi dan filsuf, Ibnu Khaldun telah memberikan sumbangan besar bagi berkembangnya Ilmu Penulisan Sejarah. Beliau menggabungkan metode-metode penelitian gejala masyarakat untuk memberikan gaya penulisan yang multidisiplin terhadap sebuah peristiwa sejarah. Mayoritas tulisan beliau tentang sejarah mampu menjelaskan gejala-gejala sosial masyarakat yang terjadi pada umat terdahulu. Rangkuman analisis atas peristiwa sejarah tersebut membuat Ibnu Khaldun mampu menelurkan teori-teori disiplin ilmu lain.&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Abu Al-Maira, Biografi Ibnu Khaldun,&lt; http://jacksite.wordpress.com/2007/04/17/biografi-ibnu-khaldun/&gt; Diakses tanggal 8 November 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juwairiyah, Pemikiran Ibnu Khaldun Mengenai Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: 2004) Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas Penulis:&lt;br /&gt;Subandi Rianto, NIM 120914028&lt;br /&gt;Student of History Department, Faculty of Humanities, University of Airlangga&lt;br /&gt;subandi.rianto@gmail.com, www.subandi-rianto.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-7514494589000922702?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/7514494589000922702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=7514494589000922702' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/7514494589000922702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/7514494589000922702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2011/04/historiografi-sejarah-dalam-gaya.html' title='Historiografi Sejarah dalam Gaya Penulisan Ibnu Khaldun: Sebuah Tinjauan Historis'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-3993689760488602148</id><published>2011-04-20T08:00:00.000-07:00</published><updated>2011-04-20T08:01:13.247-07:00</updated><title type='text'>STUDI PATRONASE DI SULAWESI SELATAN Sebuah telaah terhadap buku “Minawang: Hubungan Patron-Klien  di Sulawesi Selatan” Karya Drs. Heddy Shri Ahimsa Pu</title><content type='html'>Sebuah Pengantar&lt;br /&gt; Budaya Patronase atau Patron-Klien merupakan sebuah ciri khas dari mozaik kebudayaan di Nusantara. Hampir sebagian besar kebudayaan yang mendiami Kepulauan Nusantara memiliki budaya patron-klien, beberapa contohnya adalah Jawa dan Sulawesi Selatan. Dimana budaya ini bersifat emosional dan berkelanjutan. Budaya Patron-Klien telah diteliti bertahun-tahun oleh para antropolog dan menghasilkan pengertian sebagai berikut: &lt;br /&gt; “…suatu kasus khusus hubungan antar dua orang yang sebagian besar melibatkan persahabatan instrumental, di mana seseorang yang lebih tinggi kedudukan sosial ekonominya (patron) menggunakan pengaruh dan sumber daya yang dimilikinya untuk memberikan perlindungan atau keuntungan atas kedua-duanya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya (klien). Hingga kemudian giliran klien membalas pemberian tersebut dengan memberikan dukungan yang umum dan bantuan termasuk jasa-jasa pribadi kepada patron” (scout: 1972)&lt;br /&gt; Secara umum, budaya patron-klien dapat ditemukan dikehidupan masyarakat pedesaan, dimana terjadi hubungan timbal-balik seperti yang didefinisikan di atas. Jika di Jawa bisa dijumpai semenjak zaman kerajaan dengan pola hubungan keloyalan masyarakat terhadap pemberian raja. Berlanjut pada masa kolonial dengan hubungan para bupati dan rakyatnya yang saling mengisi. Patron-Klien ternyata bisa dijumpai juga dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan yang rata-rata suku bangsanya merupakan suku bangsa Bugis, terkenal dengan suku yang suka melaut dan nelayan sebagai pencaharian utamanya. Sangat berbeda dengan Jawa yang agraris dan kental dengan budaya patriarki. Buku ini akan menjelaskan dengan lebih kompleks mengenai tata aturan patron-klien di Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-Ciri Budaya Patron-Klien dan Penjelasannya.&lt;br /&gt; Ahli antropologi Scout memberikan beberapa ciri-ciri utama hubungan sosial Patron-Klien jika dibandingkan dengan hubungan sosial lainnya:&lt;br /&gt;1. Adanya ketidaksamaan (inequality) dalam pertukaran timbal balik.&lt;br /&gt;Merupakan hubungan yang tidak seimbang, karena patron merupakan posisi pemberi yang selalu memberikan bantuan kepada klien agar mereka bisa tetapi hidup dan loyal (bergantung) kepada sang patron.&lt;br /&gt;2. Adanya sifat tatap muka (face to face character) &lt;br /&gt;Sifat tatap muka menandakan bahwa hubungan patron-klien menggunakan hubungan emosional. Dimana dibuktikan dengan panggilan akrab antara sang patron dan klien yang tentu saja unsur rasa (chemistry) terjadi pada hubungan tersebut. &lt;br /&gt;3. Bersifat luwes dan meluas (diffuse flexibility)&lt;br /&gt;Hubungan patron dan klien dikatakan meluwes dan luas bukan hanya pada timbal balik kebutuhan tadi. Tetapi bisa berupa bahwa patron dank lien merupakan teman akrab semasa sekolah dulu, sesame tetangga atau dengan factor-faktor lain yang membuat hubungan keduanya semakin luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patron-Klien di Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt; Ilmuwan Sosial Prancis, Peiras memberikan gambaran terang bagaimana Patron-Klien begitu kuat mengakar pada masyarakat Bugis-Makassar. Dimana kebudayaan itu tidak hanya terjadi pada konteks masyarakat pertanian saja. Namun meluas hingga pada bidang perdagangan, pertambakan dan perairan (nelayan).&lt;br /&gt; Masyarakat Bugis mengenal budaya Patron-Klien dari sebuah filosofi mengenai ajjoareng dan joa. Ajjoareng adalah seseorang yang bisa dijadikan panutan atau punggawa/tetua adat. Sementara para pengikut-pengikutnya (orang yang memuliakan ajjoareng adalah joa). Joa akan selalu mengikat janji setia (loyal) dalam keaadaan apapun terhadap para ajjoareng karena mereka memiliki hubungan timbalebalik yang secara menguntungkan. Dimana para ajjoareng bisa memberikan jaminan harga diri dan kebutuhan hidupnya. Ini menjadi prasyarat mutlaknya kesetiaan dan keloyalan seorang joa kepada ajjoarengnya.&lt;br /&gt; Orang-orang ajjoareng merupakan golongan dari bangsawan (karaeng), sementara joa merupakan orang-orang biasa yang menjadi pengikutnya (disebut orang-orangnya para karaeng). Hubungan patron-klien ini dalam bahasa masyarakat Bugis Sulawesi Selatan disebut “minawang” yang artinya adalah “mengikuti”. Yang maksudnya ikatan antara mereka adalah sukarela dan dapat diputuskan setiap saat.&lt;br /&gt; Budaya patron-klien bukan hal yang baru pada masyarakat Bugis sekarang. Pada masa kolonial pun, seorang pegawai Belanda Kooreman pun telah melihat gejala-gejala pengikutan ini. Ia menulis gejala tersebut dalam sebuah laporan dan menamainya volgelingzijn (kepengikutan):&lt;br /&gt; “… tidak adanya upaya orang-orang kecil melawan keangkuhan para kekejaman para bangsawan (karaeng) membuat mereka –orang-orang kecil- meminta perlindungan kepada bangswan yang lain. Bangsawan yang berani melindungi dan menjamin keselamatannya juga meminta timbal baliknya. Berupa kesetian dan keloyalan terhadap setiap keinginannya…”&lt;br /&gt;Analisis dan Pembahasan Patron-Klien di Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt; Scout memberikan ulasan yang baik mengenai faktor-faktor pendukung eksistensi budaya ini. Antara lain adanya pelapisan kedudukan dalam masyarakat Bugis, pelapisan kekuasaan, kekayaan yang semua dianggap sah oleh masyarakat disana, adanya degradasi keamanan sosial yang memicu orang mencari perlindungan. Perbedaan status, kekuasaan dan kekayaan sangat jelas mempengaruhi adanya ketidakseimbangan distribusi keamanan sosial, kesejahteraan masyarakat serta problematika sosial lainnya. Hal di atas semakin memicu banyaknya peperangan, perampokan serta tindak pidana kriminal lainnya. Sehingga penduduk berinisiasi untuk mencari perlindungan kepada bangsawan (yang notabene para bangsawan bisa mengoyak simpul-simpul terjadinya peperangan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt; Penulis dalam melakukan penelitian menggunakan dua pendekatan, yang pertama adalah pendekatan sistem budaya dan pendekatan keadaan. Pendekatan system budaya lebih melakukan penekanan pada budaya orang Bugis. Sementara, pendekatan kedua lebih melihat pada keadaan, situasi tempat menggejalanya budaya patronase. Penulis melakukan klarifikasi dan pembuktian terhadap teori-teori keadaan yang dikemukakan Scout dan memberikan hasil yang bagus. Penulis memberikan kritik bahwa tidak semua teori-teori tentang keadaan yang dikemukakan Scout bisa ditemukan pada budaya patron-klien masyarakat Bugis-Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas Mahasiswa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subandi Rianto, NIM 120914028&lt;br /&gt;Student of History Department, Faculty of Humanities, Airlangga University&lt;br /&gt;subandi.rianto@gmail.com, Mobile: 085646035208&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-3993689760488602148?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/3993689760488602148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=3993689760488602148' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3993689760488602148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3993689760488602148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2011/04/studi-patronase-di-sulawesi-selatan.html' title='STUDI PATRONASE DI SULAWESI SELATAN Sebuah telaah terhadap buku “Minawang: Hubungan Patron-Klien  di Sulawesi Selatan” Karya Drs. Heddy Shri Ahimsa Pu'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-3536481266095099529</id><published>2011-04-20T07:59:00.002-07:00</published><updated>2011-04-20T08:00:07.105-07:00</updated><title type='text'>Sejarah Melayu dalam Narasi Naskah-Naskah Melayu Kuno: Sebuah Tinjauan Mengenai Situs Kerajaan-Kerajaan Islam di Melayu-Sumatra (Kerajaan Melayu, Ace</title><content type='html'>Oleh: Subandi Rianto &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak&lt;br /&gt; Sejarah Melayu merupakan proses narasi dari sebuah kepulauan panjang yang terbentang antara Semenanjung Malaya (Thailand, Kamboja hingga Malaysia) sampai ujung selatan pulau Sumatra (Swarna Dwipa). Mayoritas sejarah Melayu ditulis untuk mengabadikan kebesaran raja-raja Melayu yang menguasai dua buah semenanjung tersebut. hampir sebagian besar pula naskah-naskah yang menceritakan sejarah melayu ditulis pada masa masuknya Islam ke Nusantara. Naskah-naskah tersebut ditulis menggunakan aksara arab melayu dan berbahasa arab. Ini merupakan sumber sejarah yang terpenting dalam menelusuri akan masuknya Islam ke nusantara melalui jalur berkembangnya kerajaan-kerajaan kecil di semenanjung Malaya.  &lt;br /&gt;Abstrac&lt;br /&gt; Melayu History is the long narrative process to explore history in Semenanjung Malaya (Thailand, Kamboja until Malaysia) until below of Sumatra Island (Palembang). The majority of Melayu History written to record the great of Emperor (King) Melayu who graps the two islands (Semenanjung Malaya and Sumatra). And the majority of Ancient Paper Melayu History was written in Islam Spread to Nusantara Era. That can we look all about paper used arab-Melayu language. These is important part for us to know how Islam can spread to Nusantara.&lt;br /&gt;Pendahuluan &lt;br /&gt; Sejarah Melayu menjadi perbincangan menarik karena mengulas sebuah kisah panjang perjalanan kerajaan-kerajaan kecil dan besar yang pernah berdiri di tanah Melayu. Ada beragam kisah Melayu yang dituliskan secara terpisah oleh para penulis sejarah kenamaan pada zamannya. Beberapa sebagian besar sejarah Melayu memang menyinggung tentang penyebaran Islam karena sudah sejak lama Melayu menjalin hubungan dengan Kekhalifahan Islam di Turki. Sehingga Aceh pun sering mendapat julukan sebagai serambi mekah. Beberapa kitab yang menceritakan tentang sejarah Melayu merupakan kitab-kitab ternama sampai sekarang seperti Bustanussalatin (Taman Raja-Raja) karya Nurudin Ar-Raniri, Tajussalatin (Mahkota Raja-Raja) karya Buchari Al-Jauhari serta Sulalatussalatin yang lebih dikenal dengan Peraturan Raja-Raja.  &lt;br /&gt; Masyarakat Melayu menuliskan sejarah tanah dan kerajaan mereka ke dalam naskah-naskah merupakan buah inspirasi dari Raja Iskandar Zulkarnaen (Alexander Agung). Dimana pasca Iskandar Zulkarnaen menaklukkan India, dan pasukannya meminta agar ekspedisi dihentikan. Beberapa pengikut Iskandar Zulkarnaen menyebar pulang dan ada yang menyebar ke tanah-tanah Melayu. Selama dalam perjalanan penaklukannya dari Macedonia hingga India, Iskandar Zulkarnaen menuliskan sejarah perjalanannya dalam sebuah kitab yang menginspirasi orang-orang Melayu untuk menuliskan sejarah kebesaran raja-raja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan dan Pokok Masalah&lt;br /&gt; Kitab-kitab klasik Melayu yang menceritakan mengenai perkembangan kerajaan-kerajaan Melayu beberapa diantaranya telah diutarakan di atas. Sejatinya ada puluhan naskah yang menceritakan hal-hal serupa. Namun, semuanya terbagi atas bagian-bagian yang berbeda antara satu sama lain. Pembahasan esai ini akan fokus pada keterangan beberapa naskah-naskah klasik Melayu sebagai sumber sejarah untuk menelusuri kerajaan-kerajaan Islam yang pernah bertahta di bumi Melayu.&lt;br /&gt;1. Bustanussalatin (Taman Raja-Raja), merupakan buah karya Nurudin Ar-Raniri menceritakan sejarah raja-raja Melayu, silsialah para keluarga Sultan hingga keseluruhan proses berdirinya Imperium Melayu di Semenanjung Malaya (Mulai dari Kerajaan Aceh, Samudera Pasai, hingga Kerajaan Melayu). Nurudin Ar-Raniri merupakan sastrawan dan sejarawan terkenal dalam masa kerajaan Aceh, Samudera Pasai hingga Melayu. Oleh karena itu, tulisan Nurudin ini bersifat karya sejarah.&lt;br /&gt;2. Tajussalatin (Mahkota Raja-Raja), kitab yang ditulis Buchari Al-Jauhari ini sudah muncul sebelum Bustanussalatin ditulis oleh Nurudin Ar-Raniri. Tajussalatin lebih berisi mengenai agama-agama yang dianut raja-raja Melayu (lebih tepatnya madzab-madzab antara Sultan). Kitab ini banyak menyadur dari kitab-kitab di Persia. Berisi lebih banyak aturan-aturan agama untuk seorang raja. Kitab ini banyak diterjemahkan dalam bahasa selain Arab-Melayu dan dibaca kalangan raja-raja lain dan masyarakat luas (terutama raja-raja Islam di Jawa kemudian hari).&lt;br /&gt;3. Sulalatussalatin (Peraturan Raja-Raja), karya yang dieditori Tun Seri Lanang ini merupakan sebuah naskah yang menceritakan awal mula sejarah Melayu muncul. Mulai diperkenalkannya beberapa raja-raja besar yang memerintah Melayu. Ada Raja Linggi Syah Johan dari kawasan Perak (Aceh), Raja Suran dari Lenggui, dan Raja Cendani Wasis dan Onang Kui dari Bija Negara-Malaya. Dalam naskah selanjutnya juga diutarakan bahwa raja-raja besar Islam Melayu merupakan keturunan dari Raja Besar Iskandar Zulkarnaen (Alexander Agung). Hal ini pulalah yang memberikan rasa bangga kepada masyarakat Melayu akan kebesaran raja-raja mereka yang mewarisi kebesaran Iskandar Zulkarnaen.&lt;br /&gt;4. Hikayat Melayu, merupakan sebuah naskah sambung menyambung antar raja-raja yang pernah bertahta di Melayu. Penulis terakhir adalah Sultan Mahmud Syah. Beliau menyempatkan menulis hikayat tersebut sebelum akhirnya Portugis menyerang Malaka pada tahun 1511.&lt;br /&gt;5. Hikayat Raja Akil (Hikayat Siak),  merupakan salah satu bagian sejarah Melayu yang menceritakan mengenai sejarah Kerajaan Siak dalam hubungannya dengan Malaka. Naskah ini tersimpan di dalam dua tempat, yaitu di Museum Pusat Jakarta (ANRI) dan Museum Leiden dengan kode naskah CodOr 7304 dan 6342.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah-naskah yang menceritakan tentang sejarah Melayu jumlahnya sangat banyak sekali. Naskah-naskah tersebut bahkan tercerai berai, ada yang dibawa ke Belanda (khususnya Leiden) atau beberapa diantaranya masih ada di museum-museum Malaysia dan Indonesia. Secara keseluruhan, sejarah Melayu mengandung 34 cerita (bab). Berikut saduran singkat sejarah Melayu hasil dari interpretasi terhadap naskah-naskah klasik Melayu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pembukaan (Mukaddimah)&lt;br /&gt;B. Kisah-kisah Pra-Malaka&lt;br /&gt;1. Bercerita mengenai Raja Iskandar Agung menyerang Hindi (India). (BAB 1)&lt;br /&gt;2. Bercerita mengenai asal-usul Demang Lebar Daun di Pelambang. (BAB 2-6)&lt;br /&gt;3. Kisah-kisah awal mengenai berdirinya kerajaan Islam di Melayu (Samudera Pasai) (BAB 7-9)&lt;br /&gt;4. Serangan Majapahit atas Tumasek untuk kedua kalinya, serta keruntuhan Kerajaan Besar Majapahit (awal-awal berdirinya Demak). (BAB 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubenur Jenderal Raffles yang memang sangat menyukai kebudayaan Indonesia juga ikut menulis catatan mengenai kisah-kisah sejarah Melayu. Dimana Raffles lebih menuliskannya (menafsirkan dari interpretasi naskah-naskah klasik) menggunakan bahasa yang sangat ilmiah dan bersifat naratif laporan. Berikut catatan Raffles mengenai sejarah Melayu:&lt;br /&gt;1. CERITA 1=IKHTISAR (Pembukaan/mukaddimah)&lt;br /&gt;Pembukaan sejarah Melayu menceritakan bahwa Bendahara Negara Melayu, Tun Seri Lanang merupakan editor dari segala penulisan mengenai naskah-naskah klasik Melayu. Dalam pembukaan ini juga disampaikan sedikit cerita mengenai Sultan Alaudin Rihayat Syah (Sultan dari kerajaan Islam di Sumatera  -pen).  &lt;br /&gt;2. CERITA 2: Menceritakan mengenai perjalanan Raja Syuran (Iskandar Zulkarnain) dalam menaklukkan negeri Hindi, serta menyebarnya secara turun-temurun keturunan Raja Iskandar ke tanah Melayu.&lt;br /&gt;3. CERITA 3 : Menceritakan negeri Andalas (Sumatera) yang diperintah oleh keturunan Raja Syuran dan pengembaraannya hingga bertemu dengan Demang Lebar Daun. (Menceritakan berdirinya Kerajaan Siak, Indragiri dan Palembang).&lt;br /&gt;4. CERITA 4 : Menceritakan sebuah serangan Majapahit/Kerajaan di Jawa (Ekspedisi Pamalayu –pen) atas Temasik untuk kedua kalinya. Namun, berakhir dengan kegagalan. Cerita 4 ini juga mengungkapkan bahwa salah satu raja Majapahit adalah putri keturunan Melayu (Cucu dari Raja Iskandar Zulkarnain) (Raja Jayanegara Majapahit merupakan putrid dari Dara Petak (seorang putri Melayu yang dijadikan tawanan oleh Ekspedisi Pamalayu), dara petak kemudian menikah dengan Raden Wijaya dan mempunyai putra Kalagemet (Raja Jayanegara)-pen)&lt;br /&gt;5. CERITA 5 : Raja Singapura melakukan hubungan lawatan dengan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Melayu-Sumatera dan mengadakan perkawinan politik.&lt;br /&gt;6. CERITA 6 : Hikayat Pasai, menceritakan mengenai berdirinya kerajaan Samudera Pasai, mulai cerita mengenai Meurah Silu hingga sultan-sultan yang memegang tampuk pemerintahan.&lt;br /&gt;7. CERITA 7 : Sebuah hasutan oleh orang-orang Tamil yang membuat Raja Ibrahim meninggal dan digantikan oleh Sultan Muzaffar Syah.&lt;br /&gt;8. CERITA 8 :Siam (Thailand) melakukan penyerangan terhadap Malaka, dan mengalami kegagalan.&lt;br /&gt;9. CERITA 9 : Menceritakan pertengkaran antara Hang Jebat dan Hang Tuah serta terbakarnya Istana Sultan.&lt;br /&gt;10. CERITA 10 :Menceritakan tentang penyakit kulit Raja Cina dan telah mendapatkan obatnya.&lt;br /&gt;11. CERITA 11 : Proses Penyerangan Kerajaan Siak oleh Perdana Menteri Pasai dikarenakan pembangkangannya yang tidak mau menghadap ke kotaraja (Malaka).&lt;br /&gt;12. CERITA 12 : Masa Pemerintahan Sultan Mahmud Syah.&lt;br /&gt;13. CERITA 13 : Campur Tangan Malaka di Kerajaan Samudera Pasai.&lt;br /&gt;14. CERITA 14 : Kunjungan Raja Maluku ke Pasai&lt;br /&gt;15. CERITA 15 : Penaklukan Haru dan Kampar&lt;br /&gt;16. CERITA 16 : Raja Abdullah dinobatkan sebagai Raja Kampar&lt;br /&gt;17. CERITA 17 : Raja Kedah diakui sebagai daerah bawahan dari Pasai&lt;br /&gt;18. CERITA 18 : Hang Tuah Meninggal&lt;br /&gt;19.  CERITA 19 : Sultan Abdul Jamal yang berkuasa di Pahang digantikan oleh Sultan Mansur&lt;br /&gt;20. CERITA 20 : Penaklukan Patani dan Pengangkatan Sultan Ahmad Syah sebagai raja di Patani&lt;br /&gt;21. CERITA 21 : Penyerangan Alfonso de’Albuquerque (Portugis) terhadap Malaka.&lt;br /&gt;22. CERITA 22 : Merebaknya fitnah di kalangan bangsawan Istana.&lt;br /&gt;23. CERITA 23 : Portugis berhasil mengalahkan Malaka secara telak, Sultan Ahmad mundur ke Paguh&lt;br /&gt;24. CERITA 24 : Raja Abdullah Kampar memberontak terhadap Bintan (Wilayah Kekuasaan Islam) dan meminta bantuan militer Portugis untuk membantu mengahalau serangan Bintan.&lt;br /&gt;25. CERITA 25 : Portugis mulai menyerang kerajaan-kerajaan Islam kecil di sekitar Kampar.&lt;br /&gt;26. CERITA 26 : Terjadi regenerasi kepemimpinan di Kesultanan Siak&lt;br /&gt;27. CERITA 27 : Pernikahan Sultan Husein Haru dengan Raja Putih (anak Sultan Mahmud)&lt;br /&gt;28. CERITA 28 : Perkawinan Politik antara Sultan Pahang dengan Hatijah (anak Sultan Mahmud) bersamaan dengan serangan Portugis atas daerah Bintan.&lt;br /&gt;29. CERITA 29 : Sultan Alaudin Ri’hayat Syah melakukan lawatan diplomasi ke kerajaan-kerajaan sekitar (antara lain Ujung Tanah, Pahang, Perak dll).&lt;br /&gt;30. CERITA 30 : Terjadi pertempuran terbuka antara Portugis dengan kesultanan-kesultanan koalisi Pasai.&lt;br /&gt;31. CERITA 31 : Terjadi regenerasi di Kesultanan Pasai serta perang terbuka antara kesultanan-kesultanan Melayu dengan Portugis &lt;br /&gt;Tulisan-tulisan Raffles hanya menulis hingg jatuhnya Malaka atas serangan Portugis. Karena sumber-sumber rujukan yang dipakai Raffles juga sangat terbatas. Situasi Melayu pasca serangan Portugis juga lebih banyak digambarkan oleh hikayat-hikayat di daerah lain, seperti Hikayat Banjar dll.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;GAMBAR 001. Peta wilayah eksodus dan penyebaran Kerajaan Melayu Islam yang diceritakan dalam Sejarah Melayu (sumber gambar: http://archive.kaskus.us/thread/4275858).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt; Situs-situs ataupun sejarah kerajaan-kerajaan Islam di wilayah Semenanjung Melayu ternyata mendapat porsi besar dalam penulisan Sejarah Melayu. Hal tersebut bisa dilihat dari sebagian besar naskah-naskah klasik yang membahas mengenai suksesi berdirinya kesultanan-kesultanan di Semenanjung Melayu. Walaupun sebagai sebuah karya sastra, naskah-naskah klasik Melayu dapat dikatakan sebagai sumber sejarah karena bisa melewati kritik sumber yang valid. Sumber-sumber sejarah dari karya sastra ini ternyata dapat dibandingkan dengan sumber sejarah yang berasal dari daerah lain (istilahnya isinya tidak bertentangan dengan sumber sejarah lain). Contoh nyatanya beberapa peristiwa sakitnya Raja Cina juga ada dalam Berita Cina. Serta adanya Raja Majapahit dari Melayu juga ditulis dalam Kitab Negarakretagama dan Babad Pararaton. Dengan demikian, naskah-naskah klasik Melayu dapat memberikan gambaran lebih banyak mengenai persebaran, silsilah, regenerasi kepemimpinan serta tata letak kerajaan-kerajaan Islam di sekitar Semenanjung Melayu dan Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Sumber Gambar 001: http://archive.kaskus.us/thread/4275858, diakses tanggal 3 November 2010.&lt;br /&gt;Iskandar, Teuku. Kesustraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Bandar Seri Begawan: Jabaran Kesustraan: 1991.&lt;br /&gt;Liauw, Yock Fang. Sejarah Kesusatraan Melayu Klasik. Kuala Lumpur: Pustaka Nasional: 1982.&lt;br /&gt;Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Sejarah Melayu sebagai karya sastra dan karya sejarah: sebuah antologi. Jakarta: 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samad, Ahmad. Sulalatussalatin (Sejarah Melayu). Kuala Lumpur:1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas Penulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subandi Rianto, NIM 120914028&lt;br /&gt;subandi.rianto@gmail.com, mobile: 085646035208&lt;br /&gt;www.subandi-rianto.blogspot.com.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-3536481266095099529?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/3536481266095099529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=3536481266095099529' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3536481266095099529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3536481266095099529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2011/04/sejarah-melayu-dalam-narasi-naskah.html' title='Sejarah Melayu dalam Narasi Naskah-Naskah Melayu Kuno: Sebuah Tinjauan Mengenai Situs Kerajaan-Kerajaan Islam di Melayu-Sumatra (Kerajaan Melayu, Ace'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-8126675165090429182</id><published>2011-04-20T07:59:00.001-07:00</published><updated>2011-04-20T07:59:32.078-07:00</updated><title type='text'>Sejarah Asia Tenggara: sebuah review atas buku karya  Prof. Anthony Reid dan Prof. M.C. Riklefs.</title><content type='html'>Oleh: Subandi Rianto*&lt;br /&gt;Mahasiswa Ilmu Sejarah Univ. Airlangga 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai sejarah Asia Tenggara, mengutip kata Prof. Taufik Abdullah, APU. Sejarawan LIPI. Tidak afdol jika tidak membahas mengenai sejarah Asia Tenggara tempo klasik. Tidak afdol juga jika tidak menyertakan seorang arkeolog besar asal Prancis, George Coedes (1913) yang berhasil “menemukan” sisa-sisa peradaban besar Kerajaan Besar Sriwijaya. Melalui empat buah prasasti yang ditemukan di Sumatera Selatan. Coedes berhasil merekonstruksi kembali sisa-sisa peradaban klasik Asia Tenggara yang meliputi Sumatera (Sriwijaya) dan Indo-Cina (Angkor-Kamboja). Seluruh penemuannya ditulis di Hanoi dan direvisi kembali di Paris dengan judul Les Etats Hindouise’ d’indo-Chine et d’Indonesie. Buku inilah yang kemudian menjadi pegangan para arkeolog dan sejarawan Asia Tenggara. Entah sebagai buku rujukan atau buku perbandingan. &lt;br /&gt;Selepas Coedes, penelitian mengenai sejarah Asia Tenggara. Baik secara klasik dan kontemporer terus berlanjut. Sejarawan Harry Benda, Guru Besar Sejarah Asia Tenggara dari Yale University turut meramaikan penelitian sejarah Asia Tenggara. Harry Benda bahkan membawa penelitiannya bersinergi dengan penelitian dunia geopolitik Asia Tenggara. Ia membahas terlalu jauh mengenai perpolitikan Indonesia dan negara-negara periferi di Asia Tenggara. Konsentrasi besar penelitian sejarah Asia Tenggara diberikan Riklefs dan Anthony Reid. Sama-sama dosen luar biasa di universitasnya untuk studi Asia Tenggara. Riklefs merupakan professor kehormatan Monash Universty-Australia untuk studi Asia Tenggara. Sementara Anthony Reid, juga guru besar di University California of Los Angeles untuk Studi Sejarah Asia Tenggara.&lt;br /&gt;Anthony Reid mengawali tulisan bukunya “Sejarah Modern Awal Asia Tenggara” dengan membahas pada hal-hal umum. Mengawali seperti seorang anak kecil yang berhati-hati dengan mainan barunya. Reid mengulas awalan Asia Tenggara dengan narasi-narasi besar. Seperti geografis, kondisi etnografi dan baru masuk mengenai sejarah-sejarah awal perniagaan besar di semenanjung paling strategis di dunia ini. Berbeda dengan Reid, Riklefs cenderung apa adanya. Menulis ‘agak modern” dengan judul “Sejarah Indonesia Modern”. Riklefs mengawali esainya dengan opini besar bahwa persebaran agama Islam merupakan faktor penting berkembangnya sejarah Indonesia. Namun, sebagai proses paling buram dalam sejarah nasional kita. &lt;br /&gt;Sepertinya, Riklefs mengamini pendapat para sejarawan Indonesia. Dimana sejarawan Indonesia setuju bahwa persebaran Islam di Nusantara menjadi titik penting adanya perubahan. Perubahan komunitas-komunitas dagang menjadi pemukim yang mengawali adanya sebuah konsep negara. Seperti Prof. Dr. Ayzumardi Azra, beliau menolak adanya anggapan bahwa persebaran Islam di nusantara hanya sebatas air tipis yang menggenangi nusantara. Anggapan tersebut mementahkan anggapan orientalis yang meragukan akan jasa-jasa Islam terhadap peradaban awal nusantara dan Asia Tenggara. Mereka menganggap Islam hanya sebagai karpet tipis pelapis peradaban yang datang sebelumnya di Nusantara. Kini, opini tersebut bisa dimentahkan dengan sendirinya.&lt;br /&gt;Anthony Reid mengawali esai dalam bukunya dengan hal-hal yang bersifat general to specific. Menulis peristiwa-peristiwa besar di sekitar Asia Tenggara seperti kondisi-kondisi awal Daratan Cina dan Semenanjung Jepang. Terkecuali mengenai perkembangan militer, Reid juga membahas kebangkitan awal Asia Tenggara yang disebabkan karena majunya sistem perniagaan dan adanya sistem kapitalisme di semenanjung tersebut. Reid membuat analogi bahwa Asia Tenggara tak ubahnya seperti Eropa. Sama secara geografis dan keanekaragaman etnografis. Namun, berbeda dalam reaksi terhadap perubahan dari dunia luar. Asia Tenggara, tulisnya. Merupakan kawasan yang dianugerahi pemandangan berbeda. Terpecah-pecah dalam kekuasaan pemerintahan yang berbeda. Diawali dari Vietnam hingga memanjang ke Indonesia. Kronik pemerintahan yang mendiami Asia Tenggara silih berganti ikut mewarnai perjalanan semenanjung tersebut. Maksudnya, pengaruh penguasa dalam wilayah-wilayah tersebut menjadi sebuah simbiosis dengan aneka kehidupan disekitarnya. Dengan para penghuni hutan pedalaman, dengan para pelaut dll.&lt;br /&gt;Berbeda dengan Reid yang fokus pada semenanjung Indo-Cina. Riklefs lebih fokus pada sejarah Indonesia modern. Pembukaan awalnya langsung membahas mengenai sebuah sejarah panjang masuknya Islam ke Indonesia. Seperti diuraikan di atas, Riklefs mengamini bahwa Islam merupakan faktor penting dari sebuah mozaik besar sejarah Indonesia. Riklefs tak ubahnya seperti indonesianis yang tertarik dengan Islam. Berbagai faktor-faktor penting dan pendukung adanya persebaran Islam dipaparkan secara runtut dan jelas. Butuh penjelasan satu bab awal untuk menerangkan awal masuknya Islam ke Nusantara. Riklefs berputar-putar pada semua teori yang berhipotesis masuknya Islam ke Nusantara. Sedikit banyak juga membahas mengenai penguasa-penguasa (baca: kerajaan Islam) di Indonesia.&lt;br /&gt;Perbedaan mendasar yang disuguhkan antara Reid dan Riklefs adalah pondasi dasar awal mereka menulis. Reid menulis Asia Tenggara dengan sudut pandang secara ekonomi, dimana sudah dikatakan pada pembukanya. Bahwa Asia Tenggara berkembang karena sistem perniagaan dan unsur-unsur modern-kapitalisme yang kemudian menyatu dengan budaya setempat. Unsur-unsur tersebut menjelma pada berbagai dimensi. Senjata api contohnya, yang menjadi sebab musabab bangkitnya militer-militer penguasa-penguasa lokal. Berangkat dari hipotesis ekonomi. Reid juga mengakhiri dengan tema yang sama. Asia Tenggara mengalami kemunduran disebabkan semakin kuatnya dominasi ekonomi VOC atas Bandar-bandar utama Asia Tenggara. Selepas Malaka Jatuh, menyusul Banten, Makassar, Tuban dll. Maka, praktis pusat-pusat ekonomi Semenanjung Asia Tenggara menjadi milik monopoli VOC. Reid menutup esainya dengan pernyataan sangat diplomatis. “Mungkin saja proses kemunduran perniagaan Asia Tenggara merupakan salah satu proses adaptasi, sehingga keadaan perlahan berubah berbeda”&lt;br /&gt;Sementara, Riklefs lebih bersifat multidimensional. Riklefs selain menulis mengenai perubahan sosial masyarakat Indonesia sejak masa Islam. Ia juga menulis berbagai hal politik dan ekonomi secara meluas. Pada BAB I selepas membahas mengenai rumitnya merekonstruksi proses awal masuknya Islam ke nusantara. Ia juga menulis mengenai awal-awal penjajahan kolonial atas Indonesia. Cara pandangnya yang sangat berbeda terhadap bab penjajahan membuatnya berbeda dalam memberi tema bukunya. Ia menulis bab penjajahan sebagai sebuah pembentukan negara-negara baru. Sudah bisa dimengerti bahwa proses penjajahan nantinya akan menjadi titik balik berdirinya banyak negara-negara di semenanjung Asia Tenggara. Lebih jauh lagi, Riklefs bisa menurut peristiwa per peristiwa yang terjadi dalam sejarah sosial ekonomi kita. Pantaslah jika kemudian bukunya menjadi rujukan penting pada jurusan-jurusan sosial di perguruan tinggi ternama di Indonesia. Isinya yang komprehensif dan lugas menandakan tingginya kadar keilmuan sang professor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-8126675165090429182?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/8126675165090429182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=8126675165090429182' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/8126675165090429182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/8126675165090429182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2011/04/sejarah-asia-tenggara-sebuah-review.html' title='Sejarah Asia Tenggara: sebuah review atas buku karya  Prof. Anthony Reid dan Prof. M.C. Riklefs.'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-5362197221399316741</id><published>2011-04-20T07:58:00.000-07:00</published><updated>2011-04-20T07:59:06.458-07:00</updated><title type='text'>Proses Pembentukan dan Pergeseran Arti Kota di Indonesia: Sebuah review atas BAB Sejarah Kota Buku “metodologi Sejarah”</title><content type='html'>Oleh: Subandi Rianto &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Proses pembentukan kota tidak lepas dari segala aktivis manusia. Selain didahului dengan segala aktivitas dari daerah pedesaan. Kota menjadi “pusat baru” dari segala pergeseran kegiatan di desa. Mulai dari aktivitas politik, perlawanan kolonial dan geliat ekonomi. Secara lugas, arus perpindahan aktivitas manusia dari desa ke daerah baru (kota) membawa perubahan besar bagi pergerakan nasional. Selain berpindah aktivitas, manusia juga membangun “peradaban” yang didasarkan pada aktivitas ekonomi, politik serta kebudayaan. Dapat dikatakan bahwa karakter masyarakat kota bisa jadi berasal dari residu budaya desa. Atau menjadi sebuah karakter baru hasil dari campuran. Studi kasus pada kota-kota pedalaman yang masih mewarisi budaya masyarakat desa. Dimana kepercayaan mistik-kuno masih menjadi bagian sehari-hari. Masyarakatnya masih mempercayai kekuatan roh-roh halus, dukun dan tokoh spiritual lainnya. Contohnya, bisa dilihat dari segala birokrat saat itu yang percaya akan sebuah wangsit, wahyu atau amanah dari langit. Dimana secara pola pikir hal-hal tersebut merupakan karakter masyarakat desa.&lt;br /&gt; Sementara, kota-kota pesisir cenderung membentuk karakter dan budaya baru. Dimana karakter dan budaya tersebut hasil dari percampuran berbagai budaya dari desa. Surabaya, sebagai kota pesisir-urban menjadi contoh paling baik. Disebut sebagai kota dengan ciri khas campuran, karena berbagai etnis datang dan mendiami Surabaya serta membentuk budaya baru. Sepenuhnya tidak bisa dikatakan “baru” karena ternyata juga menyimpan residu budaya lama. Ada banyak etnis di Surabaya yang membentuk kota ini menjadi “kebudayaan arek” . Kebudayaan campuran antara Jawa dan Madura dengan dominasi Jawa lebih kuat.&lt;br /&gt; Perbedaan karakter kota pedalaman dan pesisir akhirnya mempengaruhi letak dan tatakota. Dimana kota pedalaman yang lebih teratur dalam budaya karton. Mengalami penataan kota sesuai dengan etika dan pranata kraton sendiri. Akan bisa ditemukan alun-alun didepan kraton, masjid agung serta pengelompokan masyarakat dalam kelas-kelas tersendiri. Orang-orang Arab keturunan berdiam di Kampung Kauman, sementara pedagang Cina menyemut di China Town (Pecinan). Sementara, sifat kota pesisir malah lebih “kekotaan” dibandingkan kota-kota pedalaman. Kota pesisir mengalami perkembangan natural, dimana jarang ditemukan pengkotakan masyarakat berdasarkan etnisitas. Karena sifat kota pesisir yang lebih plural dan multikultural, maka sering terjadi asimilasi kebudayaan. Banyak pedagang-pedagang asing menikah dengan pribumi, menetap dan mengembangkan budaya mereka atau membaur dengan budaya lokal.&lt;br /&gt; Faktor selanjutnya perkembangan kota adalah munculnya kelas-kelas baru dalam hierarki masyarakat kota. Kelas-kelas baru yang terdidik dan intelektual tersebut menjadi basis utama perubahan kota. Basis utama dalam pergerakan dan perlawanan nasional. Serta membentuk pusat-pusat pendidikan dan kebudayaan (spt pasar, universitas, bandara, stasiun, perkantoran dll). &lt;br /&gt; Pembahasan selanjutnya adalah mengenai kajian sejarah kota yang sangat luas. Sehingga memerlukan garis-garis yang jelas dalam mengkaji masalah kota. Selain, membutuhkan garis kajian yang jelas. Sifat relasi kota dengan kajian sejarah lainnya menjadi permasalahan utama dalam memberikan batasan kajian sejarah kota. Kota bisa masuk dalam kajian sejarah ekonomi, politik, budaya serta sosial. Permasalahn diatas perlu diselesaikan untuk menghindari (bukan membatasi/mengecilkan) wilayah kajian sejarah kota yang sangat luas. Pembatasan diperlukan untuk mengfokuskan mengenai kajian “kota dan kekotaan” itu sendiri dibandingkan kajian sejarah lainnya.&lt;br /&gt; Historiograf Amerika, Eric Lampard memberikan batasan kajian sejarah kota hanya sebatas “proses urbanisasi” yang dianggap sebagai aktivitas masyarakat. Pembatasannya Lampard –ditegaskan kembali oleh Prof. Kuntowijoyo- hanya sebatas membuatnya jelas dan mengukuhkan keberadaannya sebagai suatu jenis penulisan sejarah. Bukan untuk mempersempit bidang kajian sejarah kota yang luas tersebut. Selanjutnya, agar pembahasan sejarah kota dapat berjalan sesuai koridor pembatasan di atas, Prof. Kuntowijoyo memberikan beberapa catatan dalam penulisan sejarah kota (yang telah dibatasi) agar bisa fokus pada “kekhasan” dan “permasalahan pokok” kota:&lt;br /&gt;1. Catatan pertama, fokus kajian pada perkembangan ekologi kota. Dimana pembahasannya seputar interaksi manusia dengan lingkungannya. Mengenai konsep agrarian, penataan kota, sanitasi, industri, perdagangan, transportasi dll.&lt;br /&gt;2. Catatan kedua, fokus kajian pada transformasi perkembangan sosial ekonomi kota. Dimana pembahasannya seputar pranata-pranata hidup masyarakat kota pedalaman (kraton), kota pesisir (multikultural), filosofi-filosofi hidup, aturan-aturan sosial serta faktor-faktor sosiologis lainnya.&lt;br /&gt;3. Catatan ketiga, fokus kajian pada sistem dan struktur sosial kota, membahas seputar relasi dan hubungan antar masyarakat kota. Pembentukan kelas-kelas dalam hierarki serta kebudayaan-kebudayaan yang terstratifikasi secara sosial.&lt;br /&gt;4. Catatan keempat, fokus kajian pada permasalahan sosial kota. Seputar segregasi pemukiman kota (yang biasanya dipisahkan secara etnis dan kelas), disparitas pemberian hak, kesenjangan sosial, serta perbedaan dalam akses ke sektor-sektor penting (pendidikan, ekonomi, politik, dll).&lt;br /&gt;5. Catatan kelima, fokus kajian pada mobilitas sosial. Menyoroti perkembangan naik turunnya masyarakat dalam kelas-kelas tertentu. Misalnya naiknya jumlah pedagang batik diikuti dengan banyaknya orang bergelar haji. Atau meningkatnya kelompok pedagang dalam ekonomi kota menjadikan pusat-pusat ekonomi semakin banyak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-5362197221399316741?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/5362197221399316741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=5362197221399316741' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/5362197221399316741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/5362197221399316741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2011/04/proses-pembentukan-dan-pergeseran-arti.html' title='Proses Pembentukan dan Pergeseran Arti Kota di Indonesia: Sebuah review atas BAB Sejarah Kota Buku “metodologi Sejarah”'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-6195648125813864144</id><published>2011-04-20T07:57:00.000-07:00</published><updated>2011-04-20T07:58:02.139-07:00</updated><title type='text'>Keistimewaan Jogja dalam Analisa Sejarah dan Filsafat</title><content type='html'>Oleh: Subandi Rianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Menjelaskan sebuah konsep tata kenegaraan dan tata pemerintahan, maka perlu dipertimbangkan sebuah fakta historis dan sosiologis daerah tersebut”. Demikian pendapat beberapa sejarawan, termasuk Aswi Warman Adam ketika menanggapi masalah kesistimewaan Jogja. Beliau lebih menekankan bahwa Jogja mendapat predikat “istimewa” bukan semata-mata untuk “dilebihkan” atas provinsi lain. Melainkan sebuah penghargaan atas perjuangan masyarakat Jogja yang mendukung republik Indonesia pada masa kolonial Belanda. Terlebih pengorbanan besar Sri Sultan Hamengkubuwono IX.&lt;br /&gt; Polemik status keistimewaan Jogja memang tidak lepas dari adanya kepentingan politik. Hingga hari ini kita bisa melihat, bagaimana proses negosiasi alot antara DPD RI, DPR RI dan Mendagri sebagai perwakilan pemerintah. Negosiasi tersebut sudah sangat alot sejak masih wacana dan memang semakin alot ketika bersidang di gedung dewan. Masyarakat Jogja pun juga mengekspresikan aspirasinya dengan beberapa kali mengadakan aksi dengan menawarkan konsep referendum.&lt;br /&gt; Berbicara lebih luas mengenai tata kenegaraan di Jogja, memang akan masuk ke dalam ranah pembagian kekuasaan secara politis. Dimana beberapa orang masih memandang kepemimpinan Sultan di Jogja merupakan representasi adanya jiwa feodalisme. Sesuatu yang jauh dari nilai-nilai demokrasi. Antropolog Cornell University, Benedict Andersen dalam sebuah wawancara dengan Tempointeraktif (Desember 2010) memandang bahwa kepemimpinan Sultan di Jogja bisa menimbulkan harapan serupa (iri) kepada raja-raja daerah lain untuk memegang kekuasaan secara politis. Sayangnya, Indonesianis ini sama seperti indonesianis-indonsianis lainnya yang memandang sebuah fakta historis dan sosiologis dari kacamata barat. Pastinya, Benedict Andersen memberikan pandangan tersebut karena menganggap sistem kesultanan di Jogja tidak bisa memberikan iklim politik dan budaya yang sehat. Sepaham dengan indonesianis lainnya, Ia akan menganjurkan sistem demokrasi yang secara teoritis dan beberapa prakteknya mampu memberikan kenyamanan. Dimana rekomendasi ini disuarakan sama oleh politisi kita di Jakarta.&lt;br /&gt; Lebih jauh dari sekedar wawancara Benedict Andersen. Semua orang memandang bahwa sistem demokrasi dengan pemilihan langsung adalah konsep pemerintahan modern. Dimana sistem tersebut bisa menjamin adanya iklim politik yang sehat dan dewasa. Walaupun dalam prakteknya memang tidak selalu. Demokrasi pemilihan langsung bahkan mempelopori adanya kecurangan pemilu hingga munculnya politik uang. Alasan terakhir inilah yang mendasari kenapa masyarakat Jogja menolak adanya pemilihan langsung terhadap gubernur (dalam RUUK DIY). Masyarakat pesimis demokrasi pemilihan langsung dapat menjamin harmonisasi kerukunan umat beragama dan suku yang ada di Jogja. Sementara, kerukunan tersebut sudah terbangun dan mengakar selama berpuluh-puluh tahun di bawah kepemimpinan Kesultanan Jogja.&lt;br /&gt; Disinilah pendapat-pendapat para sejarawan manjur dijadikan analisa. Menengok aspek sosiologis masyarakat Jogja yang sudah terbiasa hidup rukun dan harmonis secara plural. Hendaknya menjadi pertimbangan pemerintah. Kehidupan tersebut memang diatur oleh sistem Keistimewaan DIY yang dikawal oleh Kesultanan dan Pakualaman. Masyarakat hidup secara plural karena diajarkan untuk saling toleransi. Ada banyak suku dan agama yang mendiami Jogja secara tenang. Bahkan, Jogja menjadi kota terbanyak pemilik asrama mahasiswa se-nusantara. Karena mayoritas pelajar mahasiswa di Jogja adalah masyarakat Sabang sampai Merauke.&lt;br /&gt;  Secara historis pun, masyarakat sudah paham benar. Bahwa perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam mempertahankan kemerdekaan pada masa kolonial perlu dihargai. Beliau menolak iming-iming Belanda untuk menjadi raja Jawa dengan tambahan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, asalkan tidak mendukung Republik Indonesia. Bahkan, secara tegas ketika Indonesia masih muda dalam balutan proklamasi. Beliau bersama Paku Alam VIII menyerukan Amanat 5 September 1945 untuk bergabung bersama Negara Republik Indonesia. Tidak hanya itu saja, ketika agresi militer Belanda I berhasil merebut Jakarta. Sultan HB IX menganjurkan agar pusat pemerintahan dipindahkan ke Jogja. Akhirnya sejarah mencatat bahwa Jogja menjadi kota perjuangan untuk merebut kedaulatan Negara Indonesia yang dulu telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.&lt;br /&gt;  Kembali kepada sistem ketatanegaraan modern yang didengungkan para ahli politik, Bahwasanya sistem pemilu langsung dapat menjadi jembatan keadilan masyarakat Jogja secara ekonomi dan politik. Sepertinya mereka lupa ketika beberapa puluh tahun lalu, sepotong ilmu filsafat menolak adanya konsep modernitas dalam dunia ketatanegaraan. Filsafat menggarisbawahi bahwa modernitas belum berakhir begitu saja, sehingga masih ada penyempurnaan yang disebut post-modern. Dari sanalah sebuah konsep ketatanegaraan yang dinamakan modern belum berakhir. Jika demokrasi pemilu langsung dikatakan modern, maka selebihnya pasti ada penyempurnaannya. &lt;br /&gt;Begitu juga dalam proses pembagian kekuasaan dari pusat (Jakarta) kepada daerah-daerah. Ketika dulu masyarakat memandang bahwa pembagian kekuasaan melalui sistem sentralisasi adalah yang terbaik (modern). Namun, tak sampai beberapa tahun, gejolak keributan dari daerah memaksa Jakarta untuk merombak sistem tersebut menjadi desentralisasi (otonomi daerah). Muncul pula referendum sistem syariah Islam untuk Provinsi Aceh dan Otonomi Khusus putra daerah untuk Papua. Kesemuanya menunjukan bahwa sistem yang dianggap modern belum bisa menuntaskan permasalahan yang ada. Apalagi ketika memandang kekuasaan politik di Jogjakarta. Tidak selebihnya benar ketika politisi mengatakan bahwa demokrasi sistem langsung adalah yang terbaik untuk Jogja, dengan alasan sistemnya lebih modern. Anggapan lainnya bahwa sistem kesultanan di Jogja adalah kuno dan tidak sesuai konsepsi kenegaraan pancasila. Mereka sepertinya lupa bahwa Pancasila menghormati kultur-kultur daerah. Sepenuhnya lagi lupa bahwa post-modern berawal dari ketidaksepakatan (non-konsepsi) yang merombak sistem kaku dan pakem seperti sistem modern. Modern dianggap kaku karena sesuatu harus selaras dan sewarna. Semuanya harus sesuai sistem. Sementara post-modern bergerak jauh kedepan, bahwa semua bisa saja beda dan semua kebenaran ada di mana saja. Begitulah dengan keistimewaan Jogja, pemerintah tidak usah menyeragamkan konsep modern ke dalam tata kenegaraan Jogja. Karena masyarakatnya sudah jauh belajar mengenai konsep modern (demokrasi) dan kini mereka sedang dalam kesejahteraan menuju post-modern. Seperti kata Daud Joesoef, Mantan Mendikbud RI. “Bahwa mengajari orang Jogja untuk ber-demokrasi itu, seperti mengajari ikan berenang”. Mereka sudah tahu caranya berenang di air. (Subandi Rianto, Student History of Science Department, Faculty of Humanities, Airlangga University).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-6195648125813864144?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/6195648125813864144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=6195648125813864144' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/6195648125813864144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/6195648125813864144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2011/04/keistimewaan-jogja-dalam-analisa.html' title='Keistimewaan Jogja dalam Analisa Sejarah dan Filsafat'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-8018852504913964526</id><published>2011-04-20T07:56:00.000-07:00</published><updated>2011-04-20T07:57:21.920-07:00</updated><title type='text'>Heterogenisasi Etnis Masyarakat Islam di Nusantara Era Abad 15-19 M.</title><content type='html'>Oleh: Subandi Rianto &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Periodisasi masuknya Islam ke kepulauan nusantara hingga kini masih menjadi perdebatan hangat di kalangan sejarawan. Prof. Riklefs bahkan menggarisbawahi bahwa masa-masa tersebut merupakan wilayah “abu-abu” dalam sejarah Indonesia. Sepotong puzzle sejarah yang tidak jelas secara waktu dan spasial.  Jika kalangan sejarawan barat seperti Hurgronje berpendapat pada abad 13 M dengan patokan utama pada nisan Sultan Malik As-Salih.  Maka, Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara membantah dengan tegas. Beliau lebih menyetujui pendapat T.W. Arnold dalam The Preaching of Islam yang menulis bahwa Islam masuk ke nusantara pada abad ke-7 M.  Perdebatan demi perdebatan tidak sebatas pada apa yang disebut dengan “massa” atau waktu kedatangan Islam di nusantara. Tetapi juga melebar pada asal muasal Islam datang. Ada beragam teori yang menjelaskan darimana Islam nusantara berasal. Salah satunya Prof. Slamet Muljana yang mencetuskan teori bahwa Islam berasal dari muslim-muslim China. Tesis Prof. Slamet Muljana kebanyakan berlandaskan ada arsip-arsip di Kelenteng Sam Po Kong di Semarang. Hingga tesis tersebut berkesimpulan bahwa ada beberapa walisongo yang keturunan dari China. &lt;br /&gt; Jika ada beragam banyak daerah yang “memulai” islamisasi atas kepulauan nusantara. Maka dapat disimpulkan bahwa proses islamisasi pasti diikuti oleh difusi kebudayaan. Dimana difusi tersebut melibatkan migrasi beragam etnis benua lain untuk masuk ke nusantara. Proses tersebut akhirnya membuat nusantara menjadi “penuh” oleh keanekaragaman etnis. Prof. Sartono Kartodirjo menuliskan. Bahwa jaringan perdagangan di Asia Tenggara sejak abad 14 telah dipenuhi para pedagang dari Arab, Gujarat, Cina dll. Mereka membuat pemukiman disepanjang kantong-kantong perdagangan Semenanjung Malaya. Bercampur baur dengan penduduk asli dan mengalami akulturasi kebudayaan. &lt;br /&gt;Setelah etnis muslim India mewarnai nusantara lewat jalur Selat Malaka. Kemudian etnis Cina juga mewarnai kemajemukan masyarakat nusantara melalui migrasi besar-besaran. Tesis terakhir diperkuat pendapat bahwa serangan Portugis ke Malaka pada tahun 1511 memberikan efek besar bagi etnis muslim Cina (Hui)  di Kedah. Kedah saat itu merupakan kota satelit  muslim Cina dalam pelariannya dari negara asal. Ketika itu negeri Cina dilanda sebuah pemberontakan melawan kaisar. Kaisar sangat marah dan menuduh etnis Hui sebagai pelakunya. Untuk menghindari tekanan politik kaisar Cina. Etnis Hui bermigrasi ke Kedah. Akibat serangan Portugis pada 1511 membuat mereka berdiaspora ke seluruh kepulauan nusantara.&lt;br /&gt; Sebuah pengantar diatas sengaja saya tampilkan untuk pembuka sebuah analisis terjadinya fenomena “heterogenisasi” etnis-etnis muslim di kepulauan nusantara. Periodisasi pisau analisis akan tetap mengikuti pembabakan yang ditulis Prof. Sartono Kartodirjo dalam “Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900” yang menulis diawali dari runtuhnya kerajaan Hindu-Budha, terbentuknya jaringan kota-kota Islam yang kemudian berkembang menjadi kerajaan-kerajaan Islam. Serta ditutup dengan kedatangan bangsa kolonial atas kepulauan nusantara. Fokus utama pisau analisis terletak dari komposisi kependudukan etnis muslim yang secara spasial masih dalam satu kota. Praktis studi demografi kali ini akan banyak menyinggung tentang kota juga sebagai sebuah ruang heterogenisasi etnis muslim.&lt;br /&gt;Sartono mengawali tentang pola perdagangan Asia Tenggara yang denyut nadinya membesar di Semenanjung Malaya. Awal abad 13 terbentuk banyak pemukiman di sekitar pantai timur Sumatera. Bertepatan dengan gelombang besar Islamisasi atas kepulauan nusantara, banyak pedagang muslim beragam etnis mulai mendirikan pusat-pusat perdagangan. Malaka, Aceh hingga Palembang menjadi contoh yang baik akan pemukiman Muslim. Naguib Alatas bahkan menyakini di Kanton-Cina pada periode yang sama telah berdiri pemukiman pedagang muslim dari berbagai etnis. Bukti terkuat jaringan perdagangan tersebut (relasi perdagangan arab dan nusantara) adalah surat-menyurat antara kekhalifahan Umar dengan Maharaja Sriwijaya. Serta kunjungan Sahabat Nabi Muhammad Saw, Saad bin Abi Waqqash yang mendirikan masjid Canton di Cina. Relasi perdagangan antara nusantara dan arab membuat diaspora masyarakat arab masuk ke nusantara. Pusat-pusat perkampungan Arab dapat ditemui di jalur strategis yatiu Jayakarta (sekarang Kampung Melayu) hingga Ampel-Denta (Gresik-Surabaya). Bahkan, setelah jatuhnya Malaka kepada Portugis. Hubungan dagang tersebut tetap dilakukan dan berpindah ke Banten.&lt;br /&gt;Memasuki era kerajaan Islam, hubungan antara nusantara dengan jazirah arab tetap terjaga. Bahkan, Kerajaan Samudera Pasai memiliki hubungan khusus dengan Kekhalifahan Turki Utsmani. Dimana setiap keberangkatan kapal haji dari Aceh selalu mendapat pengawalan ketat militer Turki Utsmani di sepanjang India hingga Tanah Arab. Dibeberapa kerajaan-kerajaan lain, etnis arab mendapat tempat dan kedudukan tinggi di dalam kerajaan. Di Mataram, etnis arab bermukim di Kauman dan beberapa dari mereka diangkat menjadi Qadi (Penasehat Agama Sultan serta kepala Kehakiman). Di Aceh sendiri, beberapa ulama merupakan orang-orang keturunan Arab. Ada dari masyarakat Aceh yang juga menimba ilmu di tanah Arab dan menjadi mubaligh di Mekah.&lt;br /&gt;Era masuknya Tionghoa ke Nusantara melalui beberapa gelombang imigrasi. Van Leur berpendapat bahwa hubungan perdagangan antara Nusantara dan Tiongkok lebih muda dibandingkan dengan India dan Arab. Gelombang pertama terjadi pada awal abad 3 M hingga 5 M. Ketika para pedagang Tiongkok ikut dalam pelayaran ke Asia Tenggara. Mereka mengikuti arah angin muson dan menetap di Jawa untuk menunggu angin muson berikutnya.  Kemudian imigrasi kedua awal abad 15 M dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho ke berbagai tempat di Asia Tenggara. Disusul kemudian tesis diaspora etnis muslim Cina dari kota Kedah-Malaya pada paruh tengah abad 15 M. &lt;br /&gt;Menjelang abad 16, ketika memasuki fase kolonialisasi. Beberapa kota kolonial mulai terbentuk akibat hasil proses aneksasi kolonial ke nusantara. Kota-kota kolonial tumbuh dan berkembang mengiringi kota-kota tradisional yang khas dari kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Proses perubahan yang mengiringi kota kolonial membuat struktur sosial (demografi masyarakatnya) berbeda dengan struktur demografi kota tradisional. Penjelasan di bawah akan memberikan analisis tajam kenapa terjadi perubahan dan perbedaan antara struktur demografi antara kota kolonial dan kota tradisional (kota-kota kerajaan Islam Nusantara).&lt;br /&gt;Kota kolonial biasanya terbentuk setelah proses perdagangan mengalami dominasi kuat dari salah satu pihak. Terlihat dari semakin kuatnya aneksasi kolonial ke nusantara kemudian menciptakan kota-kota kolonial bergaya kota pesisiran. Kota pesisiran, seperti Tuban, Banten, Surabaya dan Palembang cenderung mempunyai struktur demografi yang heterogen dan mengalami akulturasi budaya. Hal itu disebabkan karena kota pesisiran yang notabene pelabuhan adalah tempat bertemunya beragam etnis. Sehingga, memungkinkan mereka untuk saling campur baur dalam perdagangan.  Pun, pengawasan dan aturan tata kota di kota pesisiran tidak seketat di kota pedalaman. Hanya ada syahbandar sebagai juru administrator dan penguasa pelabuhan. &lt;br /&gt;Akhirnya, kita bisa melihat di Palembang bahwa letak-letak rumah penduduk mengikuti alur sungai. Mengikuti heterogenisasi pemukiman penduduk. Bandar Banten yang terkenal setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, juga mempunyai struktur kota heterogen. Dimana banyak etnis-etnis Arab, Cina dan Portugis mewarnai tatanan kotanya. Masjid Banten terutama bergaya arsitektur campuran Islam, Arab dan Portugis. Pun Surabaya tidak jauh sama. Sebagai kota kolonial, Surabaya menjadi kota tujuan urban masyarakat muslim pedesaan. Mereka yang datang dari Arab kemudian menetap di Ampel dan membaurkan kebudayaannya. Begitu juga dengan masyarakat muslim pribumi membaur secara kebudayaan. Sehingga, Surabaya menciptakan kebudayaan baru. Kebudayaan Arek, hasil akulturasi kebudayaan Jawa-sentris dan Madura yang cenderung agamis.&lt;br /&gt;Sementara itu, kota-kota tradisional yang sebelumnya dibangun oleh kerajaan-kerajaan Islam masih mengalami pengkotak-kotaan. Hasil dari warisan sistem konsentris membuat kota tradisional memiliki aturan tegas dalam menata kota. Di Mataram Islam, para etnis arab berprofesi agamawan ditempatkan di Kampung Kauman. Beberapa dari mereka menjadi penasehat agama Sultan. Sementara kaum pribumi yang berprofesi sebagai prajurit raja ditempatkan dalam kampung-kampung tertentu. Wilayah kerajaan yang dikelilingi benteng hanya dikhususkan oleh keluarga sultan. Wilayah tersebut (kutaraja) sangat terlarang dari pemukiman pedagang dari etnis non-Jawa. Sehingga, dapat dilihat struktur dalam kota tradisional sangat homogen. Sebuah kraton dan infrastruktur pendukungnya yang meliputi alun-alun, masjid dan pendopo sangat sakral sekali bagi penduduk asli. Dengan artian hanya dikhususkan untuk kemakmuran kesultanan tersebut. Selain wilayah kutaraja, juga terdapat mancanegara dan pesisir. Yaitu sebuah wilayah yang jauh dari pusat kerajaan dan berfungsi sebagai penyokong kemakmuran sultan. &lt;br /&gt;Sistem demografi homogen di kota-kota tradisional memang sengaja diterapkan oleh sultan. Dengan harapan agar terjaga stabilitas pada setiap elemen masyarakat. Ketika stabilitas terjaga, maka legitimasi atas kekuasaan raja semakin besar. Sehingga kondisi kerajaan dapat dikendalikan untuk kemakmuran rakyat. Demikian, sebuah review dan analisis komparasi atas sebuah fakta-fakta sejarah mengenai kependudukan masyarakat muslim Indonesia pada abad 15-19.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-8018852504913964526?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/8018852504913964526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=8018852504913964526' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/8018852504913964526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/8018852504913964526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2011/04/heterogenisasi-etnis-masyarakat-islam.html' title='Heterogenisasi Etnis Masyarakat Islam di Nusantara Era Abad 15-19 M.'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-4751702221028546617</id><published>2011-04-20T07:55:00.000-07:00</published><updated>2011-04-20T07:56:05.955-07:00</updated><title type='text'>Asia Tenggara dalam Masa Pembentukan Negara-Negara Baru Review atas essay “Southeast Asian Nations in a New World Order”</title><content type='html'>Oleh: Subandi Rianto, Ilmu Sejarah 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebuah Pengantar.&lt;br /&gt;Awal September 1939, ketika Eropa bergoncang karena perang dunia II. Asia, seperti halnya Eropa dengan cepat berubah menjadi zona pertempuran yang sama. Saat Jepang bergabung dalam poros fasis Jerman-Italia. Sebelumnya, Jepang berhasil mengalahkan Rusia dalam berbagai pertempuran di laut sebelah utara dalam masalah “Politik Air Hangat”. Mereka kemudian mengobrak-abrik kawasan Asia. Setelah menyerang Manchuria-China dalam pertempuran berdarah. Jepang kemudian melirik wilayah Asia Tenggara. Selain dinilai penuh dengan sumber daya alam. Asia Tenggara dinilai sebagai batu loncatan dalam menghambat pasukan Amerika dari Hawai. Jepang akhirnya masuk ke Indonesia dengan mula-mula menyerbu Tarakan-Kalimantan Timur. &lt;br /&gt; Setelah Tarakan jatuh, Jepang kemudian berturut-turut mencaplok Singapura, Indo-Cina dan kemudian lompat ke Palembang (Sumatera). Setelahnya, Jawa akhirnya ikut jatuh juga. Selama hampir 3,5 tahun dalam pendudukan Jepang. Indonesia akhirnya terseret juga dalam perang suci yang oleh Jepang disebut “Perang Asia Timur Raya”. Perang Dunia II berakhit tatkala Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh pasukan Amerika. Jepang akhirnya menyerah dalam pertempuran front Asia. Dengan sebelumnya Jerman dan Italia menyerah terlebih dahulu.&lt;br /&gt; Pasca menyerahnya Jepang pada pasukan sekutu. Hampir semua jajahan Jepang di Asia Tenggara mengalami kekosongan kekuasaan (status quo). Asia Tenggara akhirnya bergejolak dalam polemik-polemik kawasan. Negara Kepulauan Indonesia dengan berani mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka –disaat ratusan pasukan NICA sedang menuju Indonesia untuk menjajah kembali-. Sementara Indo-Cina mengalami gejala kebangkitan komunis. Ditandai dengan semakin merahnya Cina dan menyusul Vietnam. Indonesia nantinya menyusul merah juga dalam ideologinya.  Sekutu (sebagai pemenang Perang Dunia II) mewaspadai semakin merahnya Asia Tenggara dengan membentuk SEATO (Southeast Asia Treaty Organization) Organisai Pakta Pertahanan Kawasan Asia Tenggara.&lt;br /&gt;Jauh setelah pasca kemerdekaan, Indonesia berubah menjadi negara besar berkharisma dibawah kepemimpinan Soekarno. Selain mempelopori adanya Konferensi Colombo, Dasasila Bandung dan lahirnya gerakan non-blok. Indonesia juga menjadi garda terdepan dalam mempromosikan kemerdekaan bagi negara-negara terjajah. Menjadi negara paling kritis dalam kawasan Asia Tenggara pada masanya. Konsesi perubahan Asia Tenggara dalam mewujudkan kawasan yang terpadu akhirnya mulai terbentuk oleh prakarsa 5 menteri luar negeri negara-negara Asia Tenggara untuk membentuk ASEAN (Association Southeast Asia Nations).&lt;br /&gt;Analisis&lt;br /&gt;Essai ini membahas mengenai pola-pola perubahan kawasan Asia Tenggara dari masa kolonial hingga post-kolonial. Dimana pengantar essai membahas mengenai kondisi Asia Tenggara yang terlibat dalam perang dunia II akibat ekspansi Jepang. Serta beberapa transisi kekuasaan di beberapa negara-negara Asia Tenggara seperti Indo-Cina yang berubah menjadi komunis. Indonesia di bawah “diktator-fasis” Soekarno. Serta krisis kawasan disekitar perubahan menuju Asia Tenggara Modern, seperti perang Vietnam, pembentukan SEATO serta berdirinya ASEAN. Secara khusus essai membahas kondisi 10 negara dalam rentang masa di atas. Ada Vietnam, Kamboja, Laos, Kerajaan Thailand, Burma (Myanmar), Malaysia, Singapura, Brunai, Republik Indonesia dan Republik Filiphina. &lt;br /&gt;Vietnam: dalam sub-bab ini, penulis menggambarkan proses pendudukan Jepang di Vietnam, terjadinya gejolak ideologi komunis versus liberalis. Dimana komunis Vietnam merupakan “imbas” dari peristiwa politik di Cina. Cina saat itu mengalami perpecahan kubu nasionalis (Chiang Kai Shek) dan Komunis (Mao Tse Tung). Saat Mao Tse Tung melakukan hijrah mengelili negara China untuk mencari dukungan rakyat. Chiang Kai Shek terdesak dan melarikan diri ke Kepulauan Taiwan. Ia kemudian mendirikan pemerintahan nasionalis disana. Sementara kemenangan Komunis-Mao Tse Tung di Cina kemudian mempengaruhi gerak politik di Vietnam. Komunis akhirnya bertemu dengan liberalis (yang dibawa Amerika) di Vietnam, sehingga memicu adanya perang Vietnam. Vietnam terbelah menjadi dua, Vietnam Utara yang komunis dan Vietnam Selatan yang Liberalis. Peperangan tersebut membawa kemenangan bagi kubu komunis dan memunculkan bapak negara komunis Vietnam yaitu Ho Chi Minh.&lt;br /&gt;Kamboja dan Laos: Dua negara bekas jajahan Prancis. Dimana ketika Jepang menyerbu Indo-Cina, Kamboja diperintah oleh kerajaan dengan raja Norodom Sihanouk. Kamboja terseret dalam polemik pemerintahan komunis Pol-Pot yang terkenal kejam dalam memperlakukan rakyatnya. Ia menyiksa ratusan orang untuk mengikuti kemauan diktatornya, membunuhnya dan menyimpan kerangkanya dalam sebuah museum. &lt;br /&gt;Kerajaan Thailand: Negara dengan sebutana gajah putih ini dalam cerita sejarah merupakan negara di kawasan Asia Tenggara yang belum pernah dijajah. Karena saat penjajahan masuk ke Asia Tenggara. Thailand dijadikan sebagai batas penjajahan antara Prancis, Belanda dan Inggris. Prancis menguasai Laos dan Kamboja. Inggris menguasai Malaysia dan Singapura. Sementara Belanda menguasai Indonesia (Hindia Belanda). Thailand mewarisi sistem pemerintahan perlementer yang lemah dalam politik. Dalam kurun waktu modern 2000-2009 sejak kudeta militer yang menumbangnya Perdana Menteri Thaksin Sinawatra. Thailand telah mengalami pergantian perdana menteri sebanyak sembilan kali. Sementara, selain adanya kepala pemerintahan perdana menteri. Thailand juga mempunyai raja sebagai simbol negara yaitu raja Bumibol Adulyadey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burma (Myanmar): Negara dengan pahlawan terkenal Aung San. Dimana putrinya sekarang, Aung San Suu Kyi merupakan pejuang demokrasi Myanmar. Burma berubah menjadi nama Myanmar setelah militer dibawah pimpinan Jenderal Than Swe mengkudeta pemilu dan menguasai pemerintahan. Pemilu saat itu dimenangkan oleh Party Democratic League, partai yang didirikan Aung San Suu Kyi. Secara sepihak, militer membekukan partai tersebut dan menahan Aung San Suu Kyi dalam tahanan rumah. Hingga kini, Myanmar menjadi negara paling otoriter di Asia Tenggara. Ketiadaan demokrasi di sana membuat komunitas ASEAN berada dalam dilema. Di satu sisi, ASEAN berkomitmen dalam penegakan demokrasi, sementara di dalam negeri Myanmar. Demokrasi sangat susah diterapkan. Selain posisi eksekutif yang dikuasai, peran parlementer juga dikuasai militer. Hampir 70% parlemen dikuasai pihak pro militer. &lt;br /&gt;Malaysia, Singapura dan Brunai: Kolonialisasi Barat atas Semenanjung Malaya dimulai dengan pendudukan Inggris atas Malaysia. Inggris berusaha mencari keuntungan atas perseturuan Portugis, Belanda dan Prancis di Kawasan Asia Tenggara. Setelah sebelumnya sempat menduduki Indonesia (Hindia Belanda). Inggris akhirnya menancapkan kukunya di Singapura dan Malaysia. Selama menduduki kedua daerah tersebut, Inggris berusaha membuat sebuah negara persemakmuran dibawah naungan ratu Inggris. Pembentukan negara Malaysia ditentang habis-habisan oleh Soekarno saat itu. Federasi Malaysia semakin luas tatkala Inggris memasukkan Sabah dan Sarawak menjadi bagian dari Malaysia. Sebagai bentuk protes atas berdirinya Federasi Malaysia dan terpilihnya Malaysia dalam Dewan Keamanan PBB, Indonesia menyatakan keluar dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Inggris, secara tidak langsung mempelopori berdirinya negara Malaysia dan Singapura.&lt;br /&gt;Indonesia dan Filiphina: Pasca deklarasi kemerdekaan yang didengungkan oleh Soekarno, Indonesia menjadi negara secara de facto berada sejajar dengan negara-negara lain. Walaupun Belanda (NICA) berniat kembali ke Indonesia. Segala perlawanan semesta dikerahkan untuk menghadapi NICA. Secara lugas, dapat dikatakan bahwa penjajahan Belanda (VOC) atas Nusantara membuat sebuah kawasan baru yang dinamakan Hindia Belanda atau lebih dikenal Indonesia. Sementara untuk Filiphina, konsensus terbentuknya negara Filiphina didengungkan oleh Spanyol yang kemudian diteruskan oleh Amerika pada saat Douglas McArthur “menyelamatkan” Filiphina dari penjajahan Jepang.&lt;br /&gt;Transformasi Perubahan Asia Tenggara:&lt;br /&gt;1. Asia Tenggara yang sebelumnya berbentuk konsep mandala (pada saat dikuasai kerajaan-kerajaan lokal) berubah menjadi konsep imperium dan emporium (jaringan perdagangan dan imperium perdagangan) yang tersebar sepanjang Semenanjung Malaya hingga Sulawesi.&lt;br /&gt;2. Asia Tenggara “bereaksi” dan bertransformasi atas kedatangan bangsa-bangsa barat dan Timur Asing yang menganeksasi wilayah kepulauan Asia Tenggara. Reaksi dan transformasi menjadikan Asia Tenggara mengalami zaman baru dengan pembentukan negara-negara yang terkotak-kotak dalam batas geografis dan ideologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Author:&lt;br /&gt;Subandi Rianto, Student of History Department, Airlangga University.&lt;br /&gt;NIM. 120914028. www.subandi-rianto.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-4751702221028546617?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/4751702221028546617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=4751702221028546617' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/4751702221028546617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/4751702221028546617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2011/04/asia-tenggara-dalam-masa-pembentukan.html' title='Asia Tenggara dalam Masa Pembentukan Negara-Negara Baru Review atas essay “Southeast Asian Nations in a New World Order”'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-5626771484299332503</id><published>2010-11-24T06:45:00.000-08:00</published><updated>2010-11-24T06:46:18.703-08:00</updated><title type='text'>DAKWAH tanpa KOMA</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLASS0%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLASS0%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLASS0%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Oleh: Subandi Rianto&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kader semakin menurun kualitasnya! kader semakin sedikit jumlahnya! kader semakin sulit dicari!, suara-suara mengkhawatirkan dari sudut-sudut gerak dakwah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;almamater kita semakin menambah suram masa depan dakwah di kampus Universitas Airlangga. Tak bisa dipungkiri lagi, ketimpangan jumlah kader antara satu fakultas dengan fakultas lain menjadi corak permasalahan yang bisa menjadi gunung es. Pasalnya kebijakan fakultas yang “kelebihan” kader semakin mencerminkan gerakan dakwah yang sempurna. Sementara fakultas yang “minus” kader semakin tertatih-tatih dengan medan yang sangat terjal. Kondisi dakwahnya sangat jauh dari yang diharapkan. Kader sedikit, kualitasnya kurang serta sederet permasalahan lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Fenonema ini sudah menggejala hampir kurun waktu setahun, disaat-saat semakin meranggasnya rasa “nasionalisme” pada organisasi dakwah. Mahasiswa semakin apatis dengan yang namanya LDK. Perlu proses panjang penulis menemukan “inti” dari benang ruwet komunikasi antara fakultas dan pusat yang semakin tidak sinkron. Beberapa senior di fakultas berungkali berdiskusi dengan kader lainnya bagaimana menemukan format yang tepat dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjalankan dakwah di ranah fakultas. Hampir setiap kali juga, diskusi selalu mengambang karena terbentur dengan kurikulum yang telah digariskan oleh pusat. Entah semakin sedikitnya peserta PDK di fakultas menjadi barometer semakin susahnya pusat memahami keinginan daerah. Apa yang diingankan fakultas terhadap kebijakan pusat? Intinya hanya satu, bahwa pusat memahami dan menyerahkan otonomi dakwah kepada daerah (fakultas) agar mereka merancang strategi dakwahnya sesuai dengan medan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kesempatan otonomi ini sangat dinantikan fakultas untuk menggeber kembali semangat juang kadernya. Semangat juang untuk memahami medan dakwah fakultas masing-masing. Fakultas hanya meminta agar kebijakan dakwah untuk setiap fakultas tidak sama. Manakala disamakan, maka hal tersebut akan menimbulkan riak-riak kecil permasalahan di tingkat fakultas. Seperti contoh standardisasi bagi peserta PDK I dengan sederet kurikulum “mengerikan” dari pusat, akan membawa degradasi kader di tingkat fakultas. Peserta PDK akan semakin sedikit karena ketakutan dengan sederet prasyarat yang ada. Bayangkan, masak mahasiswa baru sudah harus hafal al-ma’tsurat, juz amma! Bayangkan masak mahasiwa baru sudah mengenal apa itu urgensi dakwah! Apa itu manhaj! Apa itu marhalah siyasi!. Entah, akhirnya mahasiswa berpikir bahwa LDK dan LDF adalah sebuah pesantren yang mewajibkan santr-santrinya harus hafal ini itu. LDK dan LDF semakin jauh dari citra tempat bertaubat. Hanya satu tempat bertaubat, yaitu masjid atau tempat ibadah lainnya… silakan cari saja gereja!.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dua tahun yang lalu, seorang senior memberitahu penulis bahwa tujuan orang masuk LDK/LDF sudah berubah. Dulunya mereka beranggapan bahwa LDK/LDF adalah tempat mencari ketenangan, tempat mencari pertaubatan dan tenpat menjalin ukhuwah. Makanya, setiap open recruitmen badan semi otonom yang paling banyak memperoleh anggota hanya LDF. Itu cerita lama yang bertumpuk di pikiran para pendahulu dakwah kampus kita. Sekarang? Jangan tanya lagi, bahwa mahasiswa masuk LDK/LDF hanya meneruskan ke-ROHIS-annya mereka semasa SMA. Bagaimana yang belum pernah mengikuti rohis? Bagaimana yang ingin taubat tapi masih pacaran? Cari saja gereja! Disana lebih aman bagimu. LDK/LDF hanya tempat penerus ke-ROHIS-an yang mahasiswa sudah hafal al-ma’tsurat, juz amma bahkan khatam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Semua cerita-cerita kejayaan dakwah dari para senior menguap begitu saja. Menguap utopis seperti Karl Marx yang gagal menyakinkan komunis pada dunia. Menguap tatkala fakultas terhegemoni oleh kepentingan pusat. Pusat mewajibkan standardisasi bagi anggota baru, pusat memberikan kurikulum yang bahkan “kalimatnya” saja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;malaikat tidak bisa mengubah. Semua menjadi semakin utopis tatkala “beberapa” fakultas gagal memegang medan dakwahnya. Di sisi lain “sebagian” fakultas berjaya dengan sebutan “center of kader”, “fakultas pesantren” dsb. Fakultas-fakultas yang “rontok” semakin diperparah dengan regenerasi yang mandek. Jabatan-jabatan posisi strategis masih saja diisi senior-senior yang sudah 3 tahun berjibaku. Kader-kader muda “tersingkirkan” dengan direbut ormawa-ormawa lainnya macam HIMA, BEM dan BSO lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;LDF fakultas semakin tidak berdigdaya ketika LDK bersiap menghadapi PEMIRA. Sudah menjadi lumrah tatkala “ikhwah” ingin mempertahankan regenerasi di tingkat BEM Universitas. Maka secara tersirat LDK bermain peran dibelakang pemenangan tim sukses calon “yang diusung dari ikhwah.” LDK kemudian secara instruktif membentuTPF yang lagi-lagi disini berperan sebagai “martil” disetiap fakultas masing-masing. Kerjanya hanya mengikuti instruksi pusat, melaporkan data dan bersiaga memenangkan pemira di tingkat fakultas. Tak lebih dan tak kurang. HANYA ITU SAJA! Lalu, dimana kalimat yang mengatakan bahwa dakwah harus sinergis. Lupakan “sinergis” karena yang ada hanya “instruktif”!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Menuju Pembaruan Dakwah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;LDK seyogyanya memberikan otonomi dakwah kepada LDF dengan segala kebebasannya seperti: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;a). Standardisasi Anggota baru LDF.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;b). Standardisasi kurikulum yang disesuaikan dengan LDK.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;c). LDF berhak menentukan corak dan gaya dakwah dalam lingkup fakultasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sementara peranan LDF dalam konstelasi PEMIRA:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;a).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seyogyanya TPF memberi masukan mengenai model kampanye yang produktif di tingkat bawah. Dan itu juga menjadi pertimbangan penting (jangan hanya jadi kacamata kuda).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;b). Seyogyanya antara TPF dan LDK secara aktif dan bersama-sama membangun proses kerjasama yang menguntungkan bukan merugikan di satu pihak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Identitas Penulis,,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Subandi Rianto merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Merupakan mahasiswa yang baru belajar, mengenal dan memahami dakwah. Pernah mengikuti pelatihan Islamic Youth Camp di Cibubur Jakarta dan Bogor-Jawa Barat. Mabit Pemenangan Pemilu 2009 PKS di Masjid Ummul Quro-Bogor. Saksi pada PILKADA Putaran Kedua Kabupaten Bogor dari utusan PKS 2009. Panitia I’tikaf di Masjid Labschool-Jakarta Timur, Tim Trainer Quantum Learning di beberapa sekolah dasar islam terpadu (SDIT Rahmaniyah-Bogor, SDIT Insan Kamil Depok dan SMPIT Ummul Quro-Bogor). Pernah mengikuti Aksi Akbar “One Man One Dollar for Palestine” long march dari Bundaran HI-Jakarta ke Kedubes AS yang digagas oleh Partai Keadilan Sejahtera 2007. Serta aksi akbar “Mengutuk Pembantaian Sabra dan Shatila” di Bundaran HI-Jakarta yang digagas oleh Lembaga Amil Zakat se-Indonesia 2008. Penulis juga aktif di LDF SKI FIB sebagai staff Syiar, pernah menjadi Panitia Training Keislaman I. serta beberapa ormawa seperti BEM dan HIMA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-5626771484299332503?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/5626771484299332503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=5626771484299332503' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/5626771484299332503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/5626771484299332503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/11/dakwah-tanpa-koma.html' title='DAKWAH tanpa KOMA'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-2056092670178737548</id><published>2010-11-24T06:41:00.002-08:00</published><updated>2010-11-24T06:45:06.262-08:00</updated><title type='text'>Diplomat Indonesia dari Masa ke Masa : Sebuah Tinjauan Historis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TO0kyEif-9I/AAAAAAAAAHc/KDhYeKDxFwg/s1600/dilpoma.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 179px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TO0kyEif-9I/AAAAAAAAAHc/KDhYeKDxFwg/s200/dilpoma.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543127158993451986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Subandi Rianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia hingga saat ini mempunyai hampir ratusan diplomat yang bergerak diluar negeri. Baik yang dari tingkatan atase hingga duta besar (ambassador). Dimana dari sekian banyaknya diplomat dari masa ke masa, publik sepertinya sudah familiar dengan nama Ali Alatas. Sebagai seorang menteri luar negeri di era Soeharto, beliau mempunyai kemampuan berdiplomasi yang ulung. Mulai dari mahir beberapa bahasa asing, kemampuan bernegosiasi hingga kemampuan dalam persuasif.&lt;br /&gt;Kemampuan Ali Alatas dalam bernegosiasi di dunia Internasional sudah tidak diragukan lagi. Disaat seluruh dunia menghujat Indonesia ketika terjadi “agresi” TNI/ABRI ke Timor-Timor, beliau dengan tenang dan sabar menyakinkan Negara-negara lain untuk menunggu investigasi menyeluruh. Dengan artian bahwa beliau menyakinkan bahwa kesalahan “Agresi Timor-Timor” bukan hanya pada pihak Indonesia saja. Perjuangan beliau sungguh melahkan sekali, karena harus berbicara dari satu forum internasional ke forum lainnya.&lt;br /&gt;Selain contoh-contoh di atas, beliau juga menjadi pemeran utama dalam mendamaikan konflik di Kamboja. Saat itu, beliau menganjurkan agar pihak-pihak yang bertikai dapat menjernihkan pikiran dengan berunding di luar Kamboja. Keberhasilan beliau mempersuasi pihak-pihak yang bertikai agar menuruti saran Indonesia membuahkan hasil yang luar biasa. Terjadi proses perdamaian yang berarti bagi kemajuan Kamboja saat itu hingga kini. Keberhasilan tersebut membuat nama Ali Alatas harum di mata diplomat-diplomat Internasional, dan khususnya menjadi kebanggaan bagi Indonesia.&lt;br /&gt;Keberhasilan Ali Alatas mendamaikan konflik Kamboja menjadi inspirasi bagi diplomat-diplomat Indonesia agar bisa lebih aktif dalam percaturan dunia Internasional. Beberapa tahun setelahnya, Wakil Presiden Jusuf  Kalla sukses meneruskan keberhasilan Ali Alatas dalam mendamaikan sebuah konflik. Jikalau dulu Kamboja, maka Jusuf Kalla bisa meredakan konflik Aceh dengan sederet perjanjian damai. Tidak dimungkiri lagi bahwa diplomat-diplomat Indonesia mempunyai daya tawar yang tinggi di mata dunia Internasional.&lt;br /&gt;Era Millenium menjelang kebangkitan negara-negara  berkembang dalam kancah ekonomi dan politik dunia. Memaksa terjadi persaingan dan pemaksaan peningkatan kualitas diplomat-diplomat Indonesia dalam “mengamankan” kepentingan nasional ataupun internasional di mata dunia. Ttidak dipungkiri lagi bahwa dikemudian hari akan terjadi gesekan-gesekan dalam percepatan pembangunan dan daya saing ekonomi politik antar Negara. Sehingga dibutuhkan diplomat-diplomat yang ulung dalam menata kepentingan nasional. Sayangnya, menjelang era percepatan millennium Indonesia ini, kualitas diplomat kita menurun tajam. Meningkatnya kasus trafficking, sengketa perbatasan wilayah hingga pembajakan budaya tidak segera ditanggapi oleh diplomat-diplomat kita sebagai wakil di Internasional. Maka, tidak heran jika harga diri Indonesia seolah-olah merosot tajam. Sorotan paling tajam diarahkan kepada Menlu Marty Natalegawa  yang terkesan sangat lambat dalam mengamankan kepentingan Indoensia di kancah internasional. Kesan lambatnya Kementerian Luar Negeri dalam pekerjaan ini semakin diperparah dengan kasus-kasus TKI bermasalah di dua pengimpor TKI Indonesia yaitu Malaysia dan Arab Saudi. Walaupun beberapa kasus “mampu” diselesaikan. Namun, tidak semua tuntas. Masih begitu banyak residu yang membuat Indonesia terganjal di mata dunia. Kami rindu diplomat Indonesia yang tegas. Kami rindu Ali Alatas sebagai diplomat. Kami merindukan harga diri bangsa yang terhormat. Kami rindu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subandi Rianto, S.Hum., SE, MSM, Ph. D&lt;br /&gt;Pemimpin Redaksi PERSPEKTIVA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-2056092670178737548?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/2056092670178737548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=2056092670178737548' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/2056092670178737548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/2056092670178737548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/11/diplomat-indonesia-dari-masa-ke-masa.html' title='Diplomat Indonesia dari Masa ke Masa : Sebuah Tinjauan Historis'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TO0kyEif-9I/AAAAAAAAAHc/KDhYeKDxFwg/s72-c/dilpoma.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-2226789190974946853</id><published>2010-11-24T06:41:00.001-08:00</published><updated>2010-11-24T06:41:53.134-08:00</updated><title type='text'>Weighing sources against each other</title><content type='html'>It ,will be clear, then, that historical research is not a matter of identifying the authoritative source and then exploiting it for all it is worth. for the majority of sources are vi some way inaccurate, incomplete or tainted by prejudice and self-interest. The procedure is rather to amass as many pieces of evidence as possible from a wide range of sources – preferably from all the sources that have a bearing on the problem in hand. In this way the inaccuracies and distortions if particular sources are more likely -o be revealed, and the inferences drawn by the historian can be corroborated. Each type of source possesses curtain strengths and weaknesses; considered together, and compared one against the other, there is at least a chance that they will reveal the true facts – or something very close to them.&lt;br /&gt;This is why mastery of a variety of sources is one of the hallmarks of historical scholarship – an exacting one which is by no means always attained. One of the reasons why biography is often disparaged by academic historians is that too many biographers have studied only the private papers left by their subject, instead of weighing these against the papers of colleagues and acquaintances and (where relevant) the public records for the period. Ranke himself has been criticized for relying too heavily on the dispatches of the Venetian ambassadors in some of his writings on the sixteenth century. Observant and conscientious as most of them were, the ambassadors saw matters very much from the point of view of the governing elite. They were also foreigners, free from local political. loyalties, it is true, but lacking a real feel for the culture of the country to which they were accredited." The need for primary evidence from 'Insiders' as well as 'outsiders' is an important guideline for historical research, with wide ramification. The failings of Western writers on African history before the 1960s could be summed up by saying that they relied on the testimony of the European explorer, missionary and administrator, without seriously seeking out African sources." In the case of the Middle East comparable distortions arise from drawing exclusively on what Edward Said has called 'Orientalist' discourse – the testimony of Western travellers and 'experts' Whose stereotyped representations effectively silenced the indegenous peoples of the region. Carroll Smith-Rosenberg recalls that  when she started out in nineteenth-century American women's history, she found herself portraying women as victims because she had stuck to the well-thumbed educational and theological works which men wrote for and about women; her angle of vision was transformed when she uncovered the letters and diaries of ordinary women which documented the active consciousness of the 'insider'.&lt;br /&gt;Tough standards now tend to be expected of historians regarding the range of sources they use. In the history of international relations, for example, it is a golden rule that both sides of a diplomatic conversation must be studied before one can be certain what the subject of the conversation was and which side put its case more effectively; this is why the inaccessibility of the Soviet archives prior to the Gorbachev era was so frustrating for Western historians of the origins of the Second World War. For historians of government policy in twentieth-century Britain, the temptation may be to confine research to the public records, because these survive in such profusion, and their number is increased every year as more records become available for the first time under the thirty-year rule. But this method is hardly conducive to a balanced interpretation. The public records tend to give too much prominence to administrative considerations (thus reflecting the principal interest of the civil servants who wrote most of them) and to reveal much less about the political pressures to which ministers, responded; hence the importance of extending the search to the press and Hansard, private letters and diaries, political memoirs, and for recent history – to first-hand oral evidence.&lt;br /&gt;Hidden traces in the records&lt;br /&gt;The examples just discussed – international relations and government policy – are topics for which there exists primary source material in abundance. In each case there is a well-defined body of documents in public custody, with numerous ancillary sources to corroborate and amplify the evidence. But there are many historical topics which are much less well served, either because little evidence has survived or because what interests us today did not interest contemporaries and wary therefore know recorded. If historians are to go beyond the immediate concerns of those who created their sources, they have to learn how to interpret them more obliquely. There are two principal ways of doing so. in the first place, many sources are value for information which the writers were scarcely aware they were setting down and which was incidental to the purpose of their testimony. This is because people unconsciously convey on paper clues about their attitudes, assumptions and manner of life which may be intensely interesting to historians. A given document may therefore he useful in a variety of ways, depending On the questions asked of it – sometimes questions that would never have occurred to the writer or to people of the time. This of course, is one reason why beginning research wit  clearly defined questions rather than. 1 simply going where the documents lead can he so rewarding: it may reveal evidence where none was thought to exist. From this point of view, the word 'source' is perhaps somewhat inapposite: if the metaphor is interpreted literally, a 'source' can contribute evidence to only one 'stream' of knowledge. It has even been suggested that the term should be abandoned altogether in favour of  'trace' or 'track'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unwatting evidence&lt;br /&gt;This flair for turning evidence to new uses is one of the distinctive contribution of recent historical method. It has been most fully displayed by historians who have moved beyond the well-lit paths of mainstream political history to fields such as social and cultural history, for which explicit source material is more difficult to come by. A case in point is the religious beliefs of ordinary people in Reformation England. Although the switches of doctrinal allegiance among the elite are relatively well recorded, evidence is very sparse for the rest of the population. But Margaret Spufford in her study of three Cambridgeshire villages has used the unlikely evidence of wills to show how religious affiliation changed. Every will began with a dedicatory clause, which allows some inference to be drawn concerning the doctrinal preference of the testator or the scribe. From a study of then clauses, Spufford shows how by the early seventeenth century personal faith in the mediation of Christ — the hallmark of Protestant belief — had made deep inroads among the local people. It was, of course, no part of the testators' intentions to furnish evidence of theirs religious beliefs; they were concerned only to ensure that their worldly goods were disposed of in accordance with their wishes. But historians alert to the unwitting testimony of the sources can go beyond the intentions of those who created them.&lt;br /&gt;Legal history arouses relatively little interest among historians at present, but court records are probably the single most important source we have for the social history of the medieval and early modern periods, when the vast majority of the population was illiterate and therefore generated no records of its own. Emmanuel Le Roy Laurie's Moritaillou (1978) is a classic illustration of this point. In the Vatican library there survives the greater part of the Register recording an Inquisition carried out between 1318 and 1325 by Jacques Fournier, bishop of Pampers. Of the 114 people accused of heresy, twenty-five came from Moritaillou, a village in the Pyrenees of no more than 250 inhabitants. They were quizzed on theirs beliefs, theirs circle of friends  France in them thirteenth (especially them heretical ones) and theirs moral conduct. The bishop saw to it that them lengthy statements made in his court them were meticulously recorded and checked by them witnesses them selves, and since he was also a tireless interrogator and a stickler for detail a sort of compulsive Maigret the result is an extraordinarily vivid and revealing document. With the help of supporting evidence, Le Roy Ladurie has been able to reconstruct everyday life of them peasants of Montaillou – theirs social relationship, their religious and magical observances, and not just theirs attitudes to sex but much of theirs actual sex life. As Le Ladurie was creading 'them Roy Ladurie puts it, them high concentration of Cathay heretics in records with very different Moritaillou 'provides an opportunity for them study not of priorities from those of them Catharism itself – that is not my subject – but of them mental outlook of the country people. When historians distance them selves from the contemporary significance of a document in this way, its reliability may be of only marginal significance: what counts is the incidental detail. In eighteenth-century France it was the practice for unmarried pregnant women to make statement to the magistrate  in order to pin responsibility on seducer and salvage something of their reputation. Ricahrd Cobb carried out a study of fifty-four such statemen made Lyon in 1790-2, and as he point out, the identify of the seducer is a trivial issue compare with the light that is shed on the sexual mores of urban poor, their condition of work an leisure, and the popular morality of the day. It is studies such as these that demonstrate the full force of Marc Bolch’s injuction to this fellow historians to study ‘the evidence of witnesses in spite of themselves’ &lt;br /&gt;Working backwards from them sources&lt;br /&gt; The second oblique method of exploiting historical evidence is much more controversial, and it was also propounded by Marc Bloch. Bloch wanted to reconstruct French rural society in the  Middle Ages. The documents for them period contain a great deal of information but little sense of how them details fit together to form an overall picture. Such a picture emerges only in them eighteenth century; when French agrarian life was systematically described by agronomists and by commissions of inquiry, and when accurate local maps began to appear in large numbers. Bloch maintained that only someone familiar with them structure of French rural society as it was revealed in them eighteenth century could make sense of them medieval data. He did not, of course, assume that nothing had changed in the meantime; his point was rather that in this kind of situation them historian should carefully work back by stages from what is known in order to make sense of them fragmentary and incoherent evidence for earlier periods.&lt;br /&gt;The historian, especially them agrarian historian, is perpetually at the mercy of his documents; most of them rime he or she must read history backwards if he or she hopes to break them secret cypher of them past. &lt;br /&gt;This approach, known as them regressive method, is much used in African history, where them documentary sources for pre-colonial society are of poor quality. In his book Them Tio Kingdom (1973), for example, Jan Vansina draws on his own ethnographic fieldwork in them 1960s to shed light on them observations of European visitors to them kingdom in them 1880s, who mentioned many indigenous features without understanding their meaning or theirs place in them social structure. It would otherwise have been quite impossible to make any sense of Tio society as a whole on the eve of them European takeover. Them regressive method is certainly a second-best which contravenes them usual rules for evaluating primary sources, but if applied sensitively with an eye for change it produces revealing results.&lt;br /&gt;Methodology and instinct&lt;br /&gt;In approaching the sources, them historian is anything but a passive observer. The relevant evidence has to be sought after in fairly out-of-the-way and improbable places. Ingenuity and flair are required to grasp them full range of uses to which a single source may be put. Of each type of evidence them historian has to ask how and why it came into being, and what its real import is. Divergent sources have to be weighed against each other, forgeries and gaps explained. No document, however authoritative, is beyond question; the evidence must,in E.P. Thompson's telling phrase, 'be interrogated by minds trained in a discipline of attentive disbelief'. Perhaps these precepts hardly merit them name of method, if that suggests them deliberate application of a set sequence of scientific procedures for verifying them evidence. Innumerable handbooks of historical method have, it is true, been written for them guidance of research students since Ranke's time, and on the continent and in the United States formal instruction in research techniques has long been part of them postgraduate historian's training." Britain, on the other hand, has until recently been them home of them 'green fingers' approach to source criticism. G.M. Young, an eminent historian of them inter-war period, declared that his aim was to read in a period until he could hear its people speak. He was later echoed by Richard Cobb:&lt;br /&gt;The most gifted researchers  show a willingness to listen to them wording of them document, to be governed by its every phrase and murmur ... so as to hear what is actually being said, in what accent and with what tone.&lt;br /&gt;This suggests not so much a method as an attitude of mind – an instinct almost – which can only be acquired by trial and error.&lt;br /&gt;But to argue further, as Cobb has done, that the principles of historical enquiry defy definition altogether is a mystification.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In practice. unfavourable notice of a secondary work often turns on them author's failure to apply this or that test to them evidence. Admittedly, the rules cannot be reduced to a formula, and the exact procedures vary according to them type of evidence; but much of what them experienced scholar does almost without thinking can be described - as I have tried to do here - in terms that are comprehensible to them uninitiated. When spelt out in this way, historical method may seem to amount to little more than them obvious lessons of common sense. But it is common sense applied very much more systematically and sceptically than is usually the case in everyday life, supported by a secure grasp of historical context and, in many instances, a high degree of technical knowledge. It is by these taxing standards that historical research demands to be judged.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-2226789190974946853?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/2226789190974946853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=2226789190974946853' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/2226789190974946853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/2226789190974946853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/11/weighing-sources-against-each-other.html' title='Weighing sources against each other'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-3894684237985422487</id><published>2010-11-24T06:38:00.000-08:00</published><updated>2010-11-24T06:39:45.010-08:00</updated><title type='text'>Dolly dan Penyakit Masyarakat</title><content type='html'>Menjadi sebuah pertanyaan dialektis ketika kita semua menyikapi pemkot yang berencana “menertibkan” dolly lebih teratur. Bila dilihat secara norma-norma sosial maka lokalisasi adalah sebuah penyakit masyarakat. Namun, untuk mewadahi “hasrat” beberapa masyarakat yang kelewat besar, lokalisasi adalah tempat terbaik. Ranah persoalan ini menjadi semakin rancu manakala dibawa dalam diskusi logika. Bagaimana bisa? Seumpama seperti ini, manakala lokalisasi tetap ada, maka kejahatan pemerkosaan di Surabaya bisa diminimalisir. Sementara jika rencana lokalisasi Dolly akan ditutup, bukan tidak mungkin kriminalitas pemerkosaan akan kembali naik. Bukan tidak mungkin gadis-gadis yang berkeliaran di malam hari menjadi korban? Bukan tidak mungkin akan semakin banyak para suami selingkuh dan akhirnya berujung kepada tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian,&lt;br /&gt; Mungkin permasalahan dialektis seperti inilah yang dirasakan Tri Rismaharini sebagai Walikota Surabaya. Kenapa beliau tidak setegas Sukarwo yang segera “menutup” Dolly. Ada banyak faktor yang berubah manakala Dolly ditutup, begitulah efek selanjutnya. Tri Rismaharini mungkin punya strategi sendiri untuk mengawasi Dolly dengan lebih ketat. Semisal dengan usulan pemasangan CCTV kemarin, dan berlanjut pada hal-hal teknis di kemudian hari. Namun, apapun perkembangan rencana Tri Rismaharini, cepat atau lambat Dolly akan mengalami senjakala dalam perjalanan hidupnya. Sama, seperti di atas, ada banyak faktor yang dipertimbangkan kenapa Dolly perlu ditutup.&lt;br /&gt; Sejatinya rencana besar Sukarwo dan Tri Rismaharini “menertibkan” Dolly perlu didukung segenap masyarakat Surabaya dari berbagai lapisan. Ingat sebagian besar latar belakang PSK adalah korban-korban pacaran. Dimana mereka merasa ternoda oleh perbuatan pacarnya dan kemudian nekat menceburkan diri ke dalam dunia hitam. Separuhnya lagi karena kesulitan ekonomi sehingga nekat melacurkan diri. Penyakit AIDS (sebagai penyakit kelamin mematikan) banyak muncul dari kawasan lokalisasi. Sementara sebagian besar pelanggan lokalisasi Dolly sendiri enggan menggunakan kondom dalam prakteknya. Sudah berapa banyak keluarga di Surabaya yang suaminya “jajan” di lokalisasi tersebut kemudian terkena AIDS? Angka ini mungkin belum ada datanya. Namun, perlahan tapi pasti bisa menjadi masalah mematikan bagi perkembangan Kota Surabaya kedepannya.&lt;br /&gt; Menertibkan Dolly dalam artian yang lebih luas menutup lokalisasi terbesar di Indonesia ini, bukan semudah membalikkan tangan. Ada beragam faktor derivatif yang perlu dipikirkan pemkot untuk memuluskan rencana besarnya. Pertama, mempersiapkan lapangan pekerjaan bagi ratusan PSK, agen-agen, preman serta mucikari yang siap kembali ke dalam masyarakat. Tentunya dengan membekali mereka keterampilan kerja terlebih dahulu. Kedua, memberikan perhatian ketat terhadap lokalisasi Dolly agar tidak ada lagi suplai PSK dan kemajuan bisnis esek-esek ini. Dalam bahasa lugasnya, mematikan secara perlahan-lahan ekonomi bisnis esek-esek tersebut. Pemkot sudah membuktikan dengan mulai mengusulkan pemasangan CCTV. Ketiga, dengan tentu saja mengubah kawasan Dolly menjadi tempat yang lebih produktif. Semisal membangun pasar rakyat, taman kota atau pusat rekreasi lainnya.&lt;br /&gt; Terakhir, akan lebih indahnya pemkot memfasilitasi adanya nikah massal. Ini untuk menghindari terjadinya praktek seks komersial dan selingkuh. Manakala nafsu disalurkan dalam jalan yang benar maka akan menunai pahala, begitu juga jika dilakukan di jalan yang salah akan membawa akibat yang negatif.&lt;br /&gt;Subandi Rianto, student of Airlangga University-Surabaya&lt;br /&gt;Subandi.rianto@gmail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-3894684237985422487?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/3894684237985422487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=3894684237985422487' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3894684237985422487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3894684237985422487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/11/dolly-dan-penyakit-masyarakat.html' title='Dolly dan Penyakit Masyarakat'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-7736713985210452817</id><published>2010-11-05T09:17:00.001-07:00</published><updated>2010-11-08T07:47:03.423-08:00</updated><title type='text'>Kondisi Tiongkok Pada Masa Dinasti Qing</title><content type='html'>Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Sejarah Asia&lt;br /&gt;Disusun Oleh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ainur Rofiah (120610162)&lt;br /&gt;2. Agung Pramudita (120710260)&lt;br /&gt;3. Aji Kusuma Atmaja (120914067)&lt;br /&gt;4. Rajendra Rizza D (120914066)&lt;br /&gt;5. Arfita Meifiana S (120914044)&lt;br /&gt;6. Yeni Susanti (120914071)&lt;br /&gt;7. Subandi Rianto (120914028)&lt;br /&gt;8. M. Dziky Dzulkarnain (120914021)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Dari ketiga Negara yang berada di asia timur, kebudayaan yang paling&lt;br /&gt;mendominasi adalah kebudayaan Cina. Sepanjang sejarah Cina, beberapa Dinasti&lt;br /&gt;memerintah tapi tidak semuanya berasal dari Cina. Kerajaan Turki yang ingin&lt;br /&gt;melebarkan sayapnya dibawah panji-panji Islam pernah menguasai Cina&lt;br /&gt;meskipun hanya sebentar. Suku bangsa Mongol merupakan suku bangsa dari luar&lt;br /&gt;Cina yang memerintah cukup lama dan berhasil membawa Cina ke dalam zaman&lt;br /&gt;modern. Setelah kekuasaan Mongolia runtuh digantikan oleh dinasti Manchu.&lt;br /&gt;Dinasti ini merupakan dinasti terakhir sebelum masa imperialisme dan&lt;br /&gt;kolonialisme oleh orang-orang Eropa menguasai Cina dan melakukan politikpolitiknya.&lt;br /&gt;Pertengahan abad lima belas di sekitar Sungai Amur, bangsa Yurchen&lt;br /&gt;yang merupakan cikal bakal dinasti Manchu menghimpun kekuatan. Oleh dinasti&lt;br /&gt;Ming, di wilayah Manchuria dibentuklah sistem pemerintahan yang berbentuk&lt;br /&gt;organisasi Wei yaitu pemerintahan sipil yang dipersenjatai dan diberi organisasi&lt;br /&gt;militer. Penduduknya dibebaskan dari pajak. Mereka juga dilatih dan dimasukkan&lt;br /&gt;kedalam satuan-satuan militer sehingga mereka selain menjadi petani namun juga&lt;br /&gt;seorang prajurit.&lt;br /&gt;Bangsa Yurchen melakukan perdagangan barter dalam memasarkan hasil&lt;br /&gt;tani mereka. Sistem pertukaran ini semakin meluas hingga kota Peking dan setiap&lt;br /&gt;tahun pemimpin dari suku Yurchen membawa persembahan upeti ke Peking.&lt;br /&gt;Pada masa kaisar Wan, orang-orang Manchu dibawah kepemimpinan&lt;br /&gt;Nurhachi berhasil menggetarkan Cina dengan pemutusan hubungan dengan&lt;br /&gt;vasalnya yaitu Peking dan kemudian mendirikan kerajaan sendiri.&lt;br /&gt;Dinasti Manchu mengalami masa kejayaannya pada masa kaisar K’ang&lt;br /&gt;Hsi sekaligus masa yang terberat saat imperialisme dan kolonialisme bangsa&lt;br /&gt;Eropa mulai masuk ke Cina. Mengahadapi bangsa-bangsa Eropa tersebut dinasti&lt;br /&gt;Manchu yang dibawah kepemimpinan K’ang Hsi menerapkan sistem Kohong&lt;br /&gt;yang membatasi perdagangan bangsa-bangsa Eropa. Kemudian perdagangan&lt;br /&gt;candu pun dilarang, hal ini disebabkan karena candu memberikan efek kerugian&lt;br /&gt;yang luar biasa bagi pemerintah Cina.&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Dengan adanya pelarangan jual beli candu, bangsa-bangsa Eropa&lt;br /&gt;khususnya Inggris mengalami kerugian yang cukup signifikan. Kerugian tersebut&lt;br /&gt;yang memacu Inggris untuk mengumumkan perang pada Cina. Sebelumnya,&lt;br /&gt;pemicu yang dijadikan Inggris sebagai alasan untuk menyatakan perang pada Cina&lt;br /&gt;karena pembakaran dan pemusnahan candu yang mereka miliki. Perang antara&lt;br /&gt;Inggris dan Cina, memaksa Cina untuk menandatangani perjanjian Nanking&lt;br /&gt;dimana isi perjanjian tersebut merugikan pihak Cina.&lt;br /&gt;Setelah Inggris berhasil menancapkan kukunya di Cina, beberapa bangsa&lt;br /&gt;Eropa yang lain pun melakukan hal yang sama sehingga wilayah Cina terbagi&lt;br /&gt;dalam beberapa koloni dengan penguasa yang berbeda-beda. Diantaranya&lt;br /&gt;Amerika, Jepang,dan Rusia ketiganya melakukan perjanjian- perjanjian yang juga&lt;br /&gt;membawa untung di pihak mereka.&lt;br /&gt;Selain imperialisme dan kolonialisme yang menjadi tantangan berat bagi&lt;br /&gt;kelangsungan Dinasti Manchu, pemberontakan-pemberontakan di dalam negeri&lt;br /&gt;juga memperparah keadaan. Pemberontakan yang paling hebat adalah&lt;br /&gt;pemberontakan Tai Ping namun pemberontakan tersebut mengalami kegagalan.&lt;br /&gt;Kemudian gerakan Boxer, sebuah gerakan yang anti terhadap hal-hal berbau asing&lt;br /&gt;yang mengacu pada bangsa Barat dan Manchu. Gerakan Boxer ini melakukan&lt;br /&gt;tindakan membunuh orang-orang asing yang ada di Cina. Gerakan ini mendapat&lt;br /&gt;reaksi keras dari berbagai pihak diluar Cina.&lt;br /&gt;Setelah gerakan ini dapat dipadamkan, Dinasti Manchu belum memasuki&lt;br /&gt;tingkat keamanan sebagai penguasa satu-satunya di China. Namun babak baru&lt;br /&gt;dimulai yang salah satunya ditandai dengan pembentukan Negara Cina. Dan&lt;br /&gt;kehancuran Dinasti Manchu menjadi pembuka bagi reformasi di Cina.&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;DINASTI QING .&lt;br /&gt;1. KONDISI TIONGKOK PADA MASA DINASTI QING 5&lt;br /&gt;2. PERLAWANAN RAKYAT TIONGKOK MELAWAN&lt;br /&gt;DINASTI QING 8&lt;br /&gt;3. PERSENTUHAN DENGAN BANGSA BARAT 10&lt;br /&gt;4. KEBANGKITAN RAKYAT TIONGKOK 11&lt;br /&gt;MELAWAN IMPERIALISME ASING&lt;br /&gt;(MANCHURIA, EROPA DAN JEPANG)&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;AKHIR KERUNTUHAN DINASTI MING DAN MASUKNYA&lt;br /&gt;MANCHURIA&lt;br /&gt;Dinasti Qing atau lebih familiar disebut Dinasti Manchuria, merupakan&lt;br /&gt;produk dari hasil ekspansi Etnis Mongolia (Manchuria) ke wilayah selatan (Cina).&lt;br /&gt;Hasil dari serangan yang menembus tembok besar Cina tersebut memaksa&lt;br /&gt;panglima-panglima Kekaisaran Cina Dinasti Ming tunduk dibawah pengaruh&lt;br /&gt;Mongol. Dinasti Ming saja sebelumnya dalam masa masa akhir pemerintahannya&lt;br /&gt;diwarnai dengan kekisruhan negara. Mulai dari adanya pemberontakan,&lt;br /&gt;kriminalitas merajalela hingga meregangnya kekuatan militer. Hal tersebut&lt;br /&gt;menjadikan celah Manchu (Mongolia) untuk berekspansi ke Cina. Melalui&lt;br /&gt;serangan terhadap Kota Jinzhou, Mongol mendapat perlawanan kuat dari pasukan&lt;br /&gt;Dinasti Ming. Sementara itu, barisan tentara Mongol diawah pimpinan Nurhachi&lt;br /&gt;berhasil merebut daerah Liaoning. Dari tempat pijakan tersebut barisan Mongol&lt;br /&gt;kemudian meyapu daerah Manchuria Utara dan menyerang Mukden (Mukden saat&lt;br /&gt;itu dikuasai pemberontak Li Zicheng, dan kaisar terakhir Dinasti Ming, Kaisar&lt;br /&gt;Chongzhen telah bunuh diri). Jenderal-jenderal Dinasti Ming yang masih setia&lt;br /&gt;dengan Kaisar Chongzen bersekutu dengan Dinasti Manchu untuk menyerang&lt;br /&gt;Mukden (Istana Kaisar) untuk memberangus pemberontak. Namun, sebelum&lt;br /&gt;peperangan terjadi. Pemberontak Li Zicheng melarikan diri dengan sebelumnya&lt;br /&gt;membakar istana kerajaan. Selepas peristiwa tersebut, tentara Manchuria berbaris&lt;br /&gt;menuju ibukota negara (Mukden) serta menguasainya dan memindahkan ibukota&lt;br /&gt;ke Beijing. Pemindahan ibukota tersebut menandai adanya dinasti baru, yaitu&lt;br /&gt;Dinasti Qing (1626)1. Sebuah dinasti yang orang-orangnya berawal dari Cina&lt;br /&gt;Utara atau Mongolia.&lt;br /&gt;1 Ivan Taniputera. History of China. 2008 : hal 471&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;MASA-MASA AWAL CINA DIBAWAH DINASTI MANCHURIA&lt;br /&gt;Pada permulaannya, Dinasti Manchuria berkuasa di Cina berdalih bahwa&lt;br /&gt;mereka berniat menyelamatkan Cina dari pemebrontakan besar dimasa Dinasti&lt;br /&gt;Ming. Namun, konsep itu berubah manakala sifat asli mereka keluar. Mereka&lt;br /&gt;dengan semena-mena memerintah Cina dengan beragam peraturan yang ada.&lt;br /&gt;Mereka menyuruh orang-orang Cina untuk mengucir rambut sebagaimana seperti&lt;br /&gt;Bangsa Mongol. Tentu saja peraturan-peraturan semacam itu menjadi bibit&lt;br /&gt;pemberontakan baru bagi Dinasti Qing yang berumur jagung.&lt;br /&gt;Pemberontakan pada mulanya diawali di Cina bagian selatan, karena di&lt;br /&gt;daerah ini keloyalan penguasa-penguasa lokal terhadap Dinasti Ming masih ada.&lt;br /&gt;Pun pusat pemerintahan Dinasti Qing juga jauh dari Cina selatan. Pusat kerajaan&lt;br /&gt;semenjak Dinasti Qing dipindah ke Beijing (Cina Utara). Pemberontakan terjadi&lt;br /&gt;secara sporadis, sehingga tidak terlalu membuahkan hasil yang bagus. Bahkan&lt;br /&gt;satu per satu dapat ditumpas oleh balatentara Dinasti Qing. Belum lagi dengan&lt;br /&gt;merajalelanya para pengkhianat yang semakin menyudutkan pemberontakan.&lt;br /&gt;Salah satu pemberontakan di zaman ini adalah pemberontakan yang&lt;br /&gt;dipimpin Zheng Cenggong (1624-1662) 2. Beliau merupakan salah satu orang&lt;br /&gt;yang loyal terhadap Dinasti Ming. Keloyalan tersebut ditunjukkan dengan&lt;br /&gt;perjuangan pemberontakannya hingga akhir hayatnya. Semasa kekuatan&lt;br /&gt;pemberontakannya melemah, Zheng menyerang Taiwan (yang saat itu dikuasai&lt;br /&gt;Belanda) menguasainya dan berkedudukan disana hingga ajal menjemputnya.&lt;br /&gt;Hingga Dinasti Qing pun menaklukkan Taiwan.&lt;br /&gt;1.2 MASA PEMERINTAHAN SHUNZI DAN QIANLONG&lt;br /&gt;Shunzi merupakan kaisar pertama dari Dinasti Qing yang berfokus&lt;br /&gt;mengkonsolidasikan daerah-daerah Cina. Selepas terjadinya pemberontakan&lt;br /&gt;besar-besaran, kebanyakan wilayah Cina tercerai-berai dan kaisar pertama inilah&lt;br /&gt;yang membereskannya. Beliau juga dikenal sebagai kaisar yang gemar belajar&lt;br /&gt;bahasa Tionghoa karena ingin mendalami arsip-arsip dinasti yang terdahulu.&lt;br /&gt;Kaisar pertama ini meniggal terserang penyakit muntah darah (TBC) dengan&lt;br /&gt;2 Ivan Taniputera, History of China. 2008 : hal 496&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;sebelumnya didahului peristiwa meninggalnya selir yang sangat Ia cintai. Tahta&lt;br /&gt;kemudian beralih kepada putra ketiganya Kangxi, karena dirasa masih muda.&lt;br /&gt;Kaisar baru ini pemerintahannya dijalankan oleh semacam wali, yaitu Oboi.&lt;br /&gt;Namun, setelah berlanjut dewasa. Sang Kaisar Kangxi merebut tahtanya dari Oboi&lt;br /&gt;dibantu pleh salah seorang pamannya.&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi terjadi pemberontakan besar&lt;br /&gt;diwilayah Cina Barat. Hal ini memicu sang kaisar untuk turun langsung&lt;br /&gt;menanganinya, karena ditakutkan dapat membahayakan negara. Pada masanya&lt;br /&gt;juga, sang kaisar memeperlakukan diskriminasi politik. Orang-orang Tionghoa&lt;br /&gt;yang dinyatakan sebagai bangsa tertakluk dipaksa untuk pindah ke Cina bagian&lt;br /&gt;selatan. Mereka dibatasi kebebasannya, dilarang menikah antara Tionghoa dan&lt;br /&gt;Manchu, serta diberikan tempat terpisah untuk hidup. Sebuah tempat yang&lt;br /&gt;terpisah dari etnis Manchu.&lt;br /&gt;Namun, sang kaisar juga tidak memperlakukan diskriminasi politik secara&lt;br /&gt;total. Kangxi melarang adanya penyitaan tanah dan mengurangi pajak atasnya.&lt;br /&gt;Maka dalam pemerintahannya, sektor pertanian tumbuh dengan pesat dan menjadi&lt;br /&gt;sumber terbesar devisa negara. Selain itu, Kaisar Kangxi juga menaruh minat&lt;br /&gt;yang besar terhadap literasi sastra Cina, Ia mengumpulkan banyak para sarjana&lt;br /&gt;untuk menuliskan sejarah Cina, serta mempelajari berbagai cabang ilmu&lt;br /&gt;pengetahuan.&lt;br /&gt;Kegemaran sang kaisar lainnya adalah melakukan inspeksi ke daerahdaerah&lt;br /&gt;untuk memastikan proyek-proyek kerakyatan berhasil dibangun. Ia juga&lt;br /&gt;perah memimpin sebuah ekspedisi militer ke Asia Tengah untuk menumpas&lt;br /&gt;pemberontakan. Tak berapa lama kemudian, sang kaisar wafat meninggalkan&lt;br /&gt;tanda tanya bagi pewaris tahtanya. Tahta kemudian digantikan oleh putra&lt;br /&gt;keempatnya, Yinchen dengan gelar Yongcheng (1723-1735). Dalam masa&lt;br /&gt;pemerintahannya, Ia berhasil menyngkirkan lawan-lawan politiknya,&lt;br /&gt;merestrukturisasi pendidikan serta memajukan nilai-nilai moral agama. Salah&lt;br /&gt;satunya memperkuat ajaran Buddhisme Zen.&lt;br /&gt;Kaisar Dinasti Qing selanjutnya adalah Qianlong, putra keempat dari&lt;br /&gt;Yongcheng. Di bawah kepemimpinannya Cina berkembang dengan pesat sekali.&lt;br /&gt;Selain sebagai negara terkaya, juga terkenal dengan padat penduduknya. Kaisar&lt;br /&gt;Qianlong terkenal pemberani, Ia sering melakukan ekspedisi-ekspedisi militer&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;untuk menaklukkan negeri-negeri sekitar. Pernah pula memadamkan&lt;br /&gt;pemberontakan Bangsa Eleut, Bangsa Tibet hingga Burma. Dari proses itulah&lt;br /&gt;daerah kekuasaan Dinasti Qing semakin melebar. Bahkan mencapai Korea dan&lt;br /&gt;Annam.&lt;br /&gt;Qianlong juga terkenal sebagai kaisar yang menyukai pujasastra. Dalam&lt;br /&gt;kepemimpinannya terkenal sumbangsihnya bagi sastra Cina. Yaitu membuat&lt;br /&gt;30.000 syair mengenai Tiongkok serta mengumpulkan data-data sejarah dinastidinasti&lt;br /&gt;Cina guna dikumpulkan untuk dibukukan dan digandakan ke beberapa&lt;br /&gt;istana dan perpustakaan negara. Hingga karena kesukaannya terhadap sastra yang&lt;br /&gt;begitu tinggi. Voltaire, seorang filsuf Prancis sampai menjulukinya sebagai&lt;br /&gt;Frederik II, seorang raja Jerman yang gila sastra juga.&lt;br /&gt;Dimasa akhir pemerintahannya, terdapat banyak bermunculan&lt;br /&gt;pemberontakan-pemberontakan yang dulunya dimotori para aktivis yang loyal&lt;br /&gt;kepada Dinasti Ming. Proses selanjutnya, regenerasi kepemimpinan jatuh ke&lt;br /&gt;tangan pengawal istana yang korup dan malah menyuburkan pemberontakan. Cina&lt;br /&gt;akhirnya tercebur dalam perang melawan pemberontakan, serta usaha-usaha untuk&lt;br /&gt;menanggulangi adanya komoditas Candu Ilegal, proses ini berlanjut hingga&lt;br /&gt;masuknya bangsa barat ke Cina dan membuat adanya Perang Candu.&lt;br /&gt;1.3 PERLAWANAN MELAWAN DINASTI QING&lt;br /&gt;1.3.1 Pemberontakan Taiping&lt;br /&gt;Setelah Daoguang digantikan oleh puta keempat Aishingoro Yichu dengan&lt;br /&gt;gelar Xiangfeng (1851-1860) . Kerajaan saat itu sangat kacau karena&lt;br /&gt;pemberontakan dalam negeri dan kekalahan dari bangsa barat . Pemberontakan&lt;br /&gt;Taiping merupakan pemberontakan terbesar (1850-1864) karena pemberontakan&lt;br /&gt;ini telah menelan 20 jutajiwa dan memimpin kelompok pemberontakan yang&lt;br /&gt;disebut Gerakan Perdamaian Agung (The Great Peace Movement) .&lt;br /&gt;Pemberontakan ini dipimpin oleh Hong Xiuquan (1814-1864) . Ia adalah seorang&lt;br /&gt;anak seorang petani di selatan China yang selalu gagal saat mengikuti ujian&lt;br /&gt;Negara . Saat mengikuti ujian Negara Hong mendapat ajaran agama Kristen di&lt;br /&gt;para misionaris . Karena kegagalannya Hong sakit keras tahun 1837 , dan ia&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;mendapat mimpi aneh di dalam mimpinya ia menjadi seorang juru selamat , arti&lt;br /&gt;mimpi itu sama dengan buku – buku Kristen yang dibacanya . Tahun 1847 , Hong&lt;br /&gt;ingin di baptis tetapi ditolak karena pemahamannya dianggap masih kurang . Tapi&lt;br /&gt;, ia tidak menyerah , ia mulai menyebarkan agama Kristen di desanya . Bahkan ia&lt;br /&gt;menganggap dirinya sebagai adik Yesus . Awal mula gerakan ini adalah gerakan&lt;br /&gt;keagamaan tahun 1845 Hong membentuk Shangdihui (perkumpulan pemuja&lt;br /&gt;Tuhan) , namun tahun 1848 gerakannya berubah menjadi anti – Manchu&lt;br /&gt;dikarenakan pemerintahan Manchu melarang pergerakan Taiping yang melakukan&lt;br /&gt;perluasan penyebaran agama Kristen dan merusak patung – patung dewa . Namun&lt;br /&gt;hal ini memicu timbulnya nasionalisme dikalangan pergerakan Taiping . Mereka&lt;br /&gt;memotong kuncir rambut yang diharuskan oleh orang Manchu . Tahun 1851 Hong&lt;br /&gt;memproklamasikan berdirinya gerakan Taiping T’ienkou (Kerajaan Perdamaian&lt;br /&gt;Besar dari Langit) di Kungsi , ibu kotanya berada di Nanking dan berganti nama&lt;br /&gt;menjadi T’ien Ching (ibukota langit) .&lt;br /&gt;Gerakan ini berhasil menguasai Nanjing dan lembah sungai Yangzi .&lt;br /&gt;Sementara itu , pihak Qing mengutus Zeng Guofan untuk memadamkan&lt;br /&gt;pemberontakan ini sehingga Taiping hanya mempunyai dua kota saja yaitu&lt;br /&gt;Nanjing dan Anjing . Dinasti Qing pun bekerja sama dengan Inggris dalam 3&lt;br /&gt;tahun , kurang lebih 50 kota dapat direbut kembali . Hong Xiuquan putus asa dan&lt;br /&gt;meminum racun pada tanggal 30 Juni 1864 dan pada tanggal 19 Juli&lt;br /&gt;pemberontakan ini berakhir . Kegagalan gerakan ini disebabkan oleh beberapa hal&lt;br /&gt;seperti berikut :&lt;br /&gt;1. Perpecahan di dalam gerakan&lt;br /&gt;2. Reaksi dari orang orang Cina , terutama golongan konservatif yang tidak&lt;br /&gt;setuju dengan paham barat dan tidak suka pemberontakan kaum Taiping&lt;br /&gt;3. Kaum tuan tanah dan saudagar yang posisi sosial dan ekonominya&lt;br /&gt;terancam karena gerakan Taiping&lt;br /&gt;4. Golongan petani dan penduduk China Utara tidak bersimpati dengan&lt;br /&gt;gerakan – gerakan ini karena kuilnya di rusak .&lt;br /&gt;5. Bantuan bangsa barat pada Dinasti Qing&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;1.4 PERSENTUHAN DENGAN BANGSA BARAT&lt;br /&gt;Persentuhan dengan bangsa barat terjadi saat pemerintahan kaisar&lt;br /&gt;Daoguang. Dikarenakan pembatasan-pembatasan perdagangan candu. Diawali&lt;br /&gt;dengan diangkatnya pejabat Lin Zexu untuk mengatasi penyelundupan candu di&lt;br /&gt;Kanton. Lin awalnya meminta dengan baik kepada Charles Elliot(kepala&lt;br /&gt;perdagangan Inggris) agar tidak memperdagangkan candu bahkan sampai&lt;br /&gt;mengirimkan surat kepada Ratu Inggris, Victoria namun tidak membuahkan hasil.&lt;br /&gt;Kemudian Lin mengepung gudang penyimpanan candu yang di dalamnya ada&lt;br /&gt;para pekerja. Setelah 40 hari mereka menyerah karena kelaparan. Pihak Inggris&lt;br /&gt;diminta menandatangani perjanjian untuk tidak menyelundupkan candu&lt;br /&gt;lagi.Candu sebanyak 22.291 peti ditenggelamkan ke laut serta East India&lt;br /&gt;Company(EIC) harus meninggalkan Kanton.&lt;br /&gt;Hal ini menyulut kemarahan Inggris. Pada bulan November 1839 kapal&lt;br /&gt;perang China tiba-tiba ditembaki oleh kapal perang Inggris dan kota-kota&lt;br /&gt;pelabuhan dikuasai Inggris. Pada bulan Agustus 1842, Inggris hendak menyerang&lt;br /&gt;Nanjing sehingga kaisar Daoguang terpaksa menyerah pada Inggris. Pemerintah&lt;br /&gt;China dipaksa menandatangani Perjanjian Nanjing yang isinya merugikan China.&lt;br /&gt;Perjanjian ini ditandatangani pada 29 Agustus 1842. Amerika yang mendengar hal&lt;br /&gt;ini menuntut hak yang sama, perjanjian bilateral Amerika dengan China&lt;br /&gt;ditandatangani pada tahun 1844. Perancis kemudian juga menuntut hak-hak&lt;br /&gt;istimewa yang sama dan China harus mengizinkan penyebaran agama Katolik.&lt;br /&gt;Karena bangsa barat kurang puas, mereka lalu hendak memperluas&lt;br /&gt;kekuasaannya. Mereka menuntut agar China jadi wilayah terbuka bagi para&lt;br /&gt;pedagang Inggris, perdagangan candu dilegalkan dan mengizinkan duta-duta&lt;br /&gt;besar bangsa barat(Inggris, Perancis dan Amerika) ditempatkan di Beijing. Tapi,&lt;br /&gt;hal ini ditolak oleh Xianfeng, kaisar Dinasti Qing saat Perang Candu kedua. Hal&lt;br /&gt;ini diperparah dengan tindakan pengentian kapal Arrow, yaitu kapal milik warga&lt;br /&gt;China dan telah diregistrasikan di Hongkong. Kapal itu berawakan orang China&lt;br /&gt;tetapi kapten kapalnya orang Inggris agar bisa terbebas dari jeratan hukum China.&lt;br /&gt;Pada saat itu semua kapal China yang akan menyelundupkan sesuatu pasti&lt;br /&gt;diregistrasi terlebih dulu di Hongkong. Karena para pejabat China memenjarakan&lt;br /&gt;awak kapal Arrow, konsul Inggris Harry Parker tidak terima dan menuntut pihak&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;China agar meminta maaf. Sebab menurutnya kapal tersebut milik Inggris yang&lt;br /&gt;terbukti dengan bendera Inggris yang terpasang diatasnya. Harry pun memfitnah&lt;br /&gt;pejabat China telah menghina bendera Inggris dan menuntut adanya permintaan&lt;br /&gt;maaf. Karena China menolak meminta maaf, maka terjadilah Perang Candu&lt;br /&gt;kedua. Pada 1857, terjadi penggempuran terhadap Kanton. Perancis ikut&lt;br /&gt;bergabung dalam penggempuran tersebut karena salah satu misionarisnya telah&lt;br /&gt;dihukum mati pihak China. Perang berakhir saat China menandatangani&lt;br /&gt;Perjanjian Tianjing tahun 1858 yang isinya sama merugikannya seperti Perjanjian&lt;br /&gt;Nanjing. Pihak China tidak mematuhi isi perjanjian tersebut oleh karena itu pada&lt;br /&gt;1860 Inggris dan Perancis menggempur Beijing. Perang Candu berakhir setelah&lt;br /&gt;ratifikasi Perjanjian Tianjing tanggal 18 Oktober 1860.&lt;br /&gt;1.5 KEBANGKITAN RAKYAT TIONGKOK MELAWAN&lt;br /&gt;IMPEREALISME ASING (MANCHURIA, EROPA DAN JEPANG)&lt;br /&gt;Pada masa awal pemerintahannya, bangsa Manchu hanya berhasil&lt;br /&gt;menguasai Cina Utara saja , sementara itu bagian selatan masih berada di bawah&lt;br /&gt;kekuasaan sisa sisa kaum loyalis Dinasti Ming . Pada tahun 1645 , mereka&lt;br /&gt;mengangkat pangeran Fu sebagai kaisar baru di Nanjing . Tetapi , kaisar baru ini&lt;br /&gt;merupakan penguasa yang lemah yang lebih mementingkan kesenangan belaka&lt;br /&gt;ketimbang urusan pemerintahan . Bersamaan dengan itu , faksi – faksi pendukung&lt;br /&gt;Dinasti Ming lainnya melakukan perlawanan yang tidak terkoordinasi satu sama&lt;br /&gt;lainnya terhadap bangsa Manchu . Masing - masing faksi itu juga mengangkat&lt;br /&gt;pemimpinnya sendiri - sendiri . Salah satu kelompok mengangkat pangeran Lu&lt;br /&gt;sebagai kaisar baru mereka di Shaoxin , sedangkan lainnya mengangkat pangeran&lt;br /&gt;Tang di Fuzhou . Kedua pangeran itu adalah paman dan keponakan , namun tidak&lt;br /&gt;dapat bekerja sama dengan baik , sehingga akhirnya dikalahkan oleh bangsa&lt;br /&gt;Manchu . Diantara semua perlawanan terhadap bangsa Manchu , yang paling&lt;br /&gt;bertahan lama adalah yang dipimpin oleh seorang panglima perang pendukung&lt;br /&gt;setia dinasti Ming bernama Zheng Chenggong (1624-1662) . Ia lebih dikenal&lt;br /&gt;sebagai Koxinga oleh bangsa barat . Nama ini berasal dari kata Guoxingye , yang&lt;br /&gt;artinya tuan penyandang marga kerajaan . Atas kesetiaanya terhadap dinasti&lt;br /&gt;Ming , ia dianugerahi marga atau nama keluarga Zhu , yang merupakan marga&lt;br /&gt;keluarga penguasa Dinasti Ming .&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;Pada tahun 1840 – 1842 terjadi perang Candu pertama . Perang ini di latar&lt;br /&gt;belakangi penyelundupan candu ke Cina oleh Inggris pada abad ke 18 dan ke 19 .&lt;br /&gt;Selama ini bangsa barat hanya membeli barang – barang dari Cina , seperti&lt;br /&gt;porselin , sutra , rempah – rempah dan teh ; sehingga akhirnya menguras&lt;br /&gt;cadangan devisa barat (yang harus membayar dalam bentuk mata uang perak) .&lt;br /&gt;Perdangangan Candu dengan Cina sebelumnya dipelopori oleh bangsa India di&lt;br /&gt;bawah kemaharajaan Mughal (semenjak masa pemerintahan akbar , 1556-1605) di&lt;br /&gt;mana perdagangan ilegal melalui Cina selatan ini mendatangkan keuntungan yang&lt;br /&gt;luar biasa ; dan Inggris yang kemudian menancapkan kukunya di India melihatnya&lt;br /&gt;sebagai peluang emas untuk memperbesar cadangan devisanya . Ekspor Candu&lt;br /&gt;(atau lebih tepatnya penyelundupan) ke Cina ini meningkat dengan pesat , mulai&lt;br /&gt;dari 15 ton pada tahun 1730 hingga menjadi 75 ton pada tahun 1773 . Candu –&lt;br /&gt;candu di selundupkan melalui laut dalam ribuan peti , yang masing –masing dapat&lt;br /&gt;memuat sekitar 64 kg . membanjirnya Candu ke Cina secara ilegal ini sangat&lt;br /&gt;melemahkan rakyat Cina . Untuk mengatasi keadaan memprihatinkan ini ,&lt;br /&gt;pemerintah Cina pada tahun 1838 menjatuhkan hukuman mati bagi para&lt;br /&gt;penyelundup Candu lokal , dimana penyelundupan pertahun pada saat itu telah&lt;br /&gt;mencapai 1400 ton . Bulan Maret tahun berikutnya , seorang pejabat bernama Lin&lt;br /&gt;Zexu (1785-1850) diangakat oleh kaisar untuk mengatasi penylundupan Candu di&lt;br /&gt;Kanton dengan kekuasaan penuh . Candu sebanyak 22.291 peti di gudang milik&lt;br /&gt;Inggris ditenggelamkan ke laut . Lebih jauh lagi , Lin memaksa pihak Inggris agar&lt;br /&gt;menandatangani perjanjian agar tidak menyelundupkan Candu lagi . Selanjutnya ,&lt;br /&gt;pada bulan Mei 1839 , semua pejabat EIC (East India Company, perusahaan&lt;br /&gt;dagang Inggris , semacam VOC) dipaksa meninggalkan Kanton . Lin dan kaisar&lt;br /&gt;tidak menyadari bahwa hal ini akan mengakibatkan kemarahan Inggris . Tidak&lt;br /&gt;berapa lama kemudian , Inggris memborbardir pantai tenggara Cina . Karena&lt;br /&gt;keunggulan dalam bidang persenjataan , dengan mudah Inggris dapat menguasai&lt;br /&gt;kota kota pelabuhan Hongkong , Kanton , Xiamen , Ningbo , Fuzhou dan&lt;br /&gt;Shanghai . Kaisar Daoguang tidak menjumpai adanya jalan lain yang lebih baik&lt;br /&gt;selai menyerah saja pada pihak Inggris . Pemerintah Cina dipaksa&lt;br /&gt;menandatangani perjanjian Nanjing yang sangat merugikan Cina ; Perjanjian ini&lt;br /&gt;ditandatangani pada tanggal 29 Agustus 1842 , dan tidak menyelesaikan masalah&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;penyelundupan Candu yang masih berlangsung sebagaimana sebelumnya –&lt;br /&gt;kendati secara resmi tetap dilarang .&lt;br /&gt;Setelah ditandatangani perjanjian itu , Amerika Serikat juga menuntut hak&lt;br /&gt;yang sama dengan Inggris . Pada tahun 1844 di tandatangani perjanjian bilateral&lt;br /&gt;antara Cina dan Amerika Serikat dimana seluruh hak istimewa Inggris berlaku&lt;br /&gt;pula bagi Amerika . Perancis menyusul mengadakan perjanjian dengan Cina pada&lt;br /&gt;tahun yang sama guna memperoleh hak – hak istimewa . Demikianlah bangsa&lt;br /&gt;barat menancapkan kukunya semakin dalam ke Cina , dimana pemerintahan&lt;br /&gt;Dinasti Qing tidak dapat berbuat apa – apa .&lt;br /&gt;Perang Candu kedua dapat dianggap sebagai kelanjutan perang Candu&lt;br /&gt;yang pertama . Latar belakang perang ini adalah ambisi imperialisme barat yang&lt;br /&gt;hendak memperluas kekuasaanya . Pihak Inggris berambisi untuk makin&lt;br /&gt;menanamkan pengaruhnya di Cina dengan memaksa pemerintah Dinasti Qing&lt;br /&gt;memperluas perjanjian Nanjing . Isi perjanjian adalah :&lt;br /&gt;1. China dipaksa menyewakan Hongkong pada Inggris .&lt;br /&gt;2. Pelabuhan – pelabuhan Kanton , Xiamen , Ningbo , Fuzhou dan Shanghai&lt;br /&gt;harus dibuka bagi perdagangan dengan pihak Inggris .&lt;br /&gt;3. Membayar biaya perang sebesar 21 juta atau uang perak .&lt;br /&gt;4. Memberikan hak istimewa bagi Inggris serta membuka daerah khusus&lt;br /&gt;(ekstrateritorial) sebagai tempat kediaman warga Inggris .&lt;br /&gt;5. Hubungan antara pejabat – pejabat Cina dan Inggris yang memiliki&lt;br /&gt;tingkatan sama harus didasari oleh asas sama rata .&lt;br /&gt;6. Inggris berhak mengangkat konsul di tiap – tiap kota pelabuhan yang&lt;br /&gt;dibuka bagi aktivitas perdagangan itu .&lt;br /&gt;Pada tahun 1854 , mereka menuntut agar seluruh Cina dijadikan wilayah&lt;br /&gt;terbuka bagi para pedagang Inggris , perdagangan Candu dilegalkan ,&lt;br /&gt;mengizinkan duta besar Inggris ditempatkan di Beijing , dan lain sebagainya .&lt;br /&gt;tuntutan senada juga datang dari Perancis dan Amerika Serikat . Namun ,&lt;br /&gt;pemerintah Dinasti Qing menolak semua tuntutan tersebut , sehingga hubungan&lt;br /&gt;kedua bangsa menjadi tegang . Tetapi , perang Candu II oleh tindakan pejabat&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;Dinasti Qing yang menghentkan kapal bernama Arrow , kapal Cina yang telah&lt;br /&gt;diregistrasi di hongkong . Sudah menjadi kebiasaan saat itu , bila kapal Tionghoa&lt;br /&gt;hendak menyelundupkan sesuatu , mereka meregistrasikan dahulu kapalnya di&lt;br /&gt;Hongkong , sehingga seolah – olah berlayar di bawah bendera Inggris . Sehingga&lt;br /&gt;terhindar dari jeratan hokum Cina . Kapten kapal itu lalu mendatangi konsulat&lt;br /&gt;Inggris dan malporkan penahanan itu . Konsul Inggris , Harry Parkes , dengan&lt;br /&gt;gusar mendatangi pejabat Cina yang melakukan penahanan itu serta memprotes&lt;br /&gt;tindakan tersebut . Karena tidak berhasil membebaskan para awak kapal , Parker&lt;br /&gt;kembali ke kantornya dan menyurati Gubernur Ye Mingchen3 . Parker juga&lt;br /&gt;menyirati Gubernur Sir John Bowring dan Admiral Sir Michael Seymour di&lt;br /&gt;Hongkong . Ia menyatakan agar Inggris menuntut permintaan maaf dari&lt;br /&gt;pemerintah Cina .&lt;br /&gt;___________________________________&lt;br /&gt;3 Ivan Taniputera, History of China. 2008 : hal 511&lt;br /&gt;Gubernur Ye menanggapi kesombongan pihak Inggris itu dengan menyatakan&lt;br /&gt;bahwa hukum ekstrateritorial hanya berlaku bagi kapal Inggris , sedangkan&lt;br /&gt;Arrow saat berlabuh adalah kapal Tionghoa . Pihak Inggris menolak penjelasan&lt;br /&gt;pihak Cina diatas , meskipun bukti – bukti dan saksi yang ada menguatkan&lt;br /&gt;pernyataan Ye . Karena penolakan – penolakan itu , akhirnya Inggris mulai&lt;br /&gt;menampakkan arogansinya dengan pengerahan angkatan perangnya pada tahun&lt;br /&gt;1857 guna menggempur Katon . Perancis ikut bergabung dengan Inggris karena&lt;br /&gt;dipicu oleh hukuman mati terhadap seorang misionaris Perancis bernama August&lt;br /&gt;Chapdelaine . kanton berhasil ditaklukkan dan mereka lalu berbaris menuju&lt;br /&gt;Beijing. Kaisar Xianfeng ( 1851-1860) yang ketakutan melarikan diri ke Jehol.&lt;br /&gt;Perang baru berakhir pihak Cina bersedia menandatangi perjanjian Tianjin pada&lt;br /&gt;bulan Juni 1858. meskipun perjanjian telah ditandatangani, kerajaan tetap masih&lt;br /&gt;belum menjalankan perjanjian tersebut. Oleh karena itu, pada tahun 1860, kembali&lt;br /&gt;kekuatan gabungan Inggris – Perancis melancarkan serangannya, dan berhasil&lt;br /&gt;menaklukkan Beijing pada 6 oktober. Untuk meredam kebiadaban bangsa barat&lt;br /&gt;ini, pangeran gong lalu menyampaikan kembali kesediaan Dinasti Qing untuk&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;menjalankan seluruh isi perjanjian Tianjing dalam wujud konvensi Beijing yang&lt;br /&gt;di ratifikasi pada tanggal 18 Oktober 1860.&lt;br /&gt;Pada tahun 1937, Jepang makin menggencarkan aneksasinya terhadap wilayah&lt;br /&gt;cina. Gesekan dengan pasukan jepang beberapa kali terjadi. Salah satu insiden&lt;br /&gt;penting adalah insiden jembatan marcopolo pada tanggal 7 juli 1937. saat itu&lt;br /&gt;pasukan jepang sedang melakukan latihan perang-perangan di dekat jembatan&lt;br /&gt;yang terletak propinsi Hebei tersebut. Ketika latihan berakhir, seorang prajurit&lt;br /&gt;jepang didapati hilang. Jepang menuduh pihak cina telah menculiknya. Namun&lt;br /&gt;ternyata, beberapa jam kemudian ia muncul kembali. Meskipun demikian&lt;br /&gt;pemerintah jepang menuntut agar pasukan cina mengundurkan diri dari kota&lt;br /&gt;Wanping yang berada di ujung jembatan marcopolo. Peristiwa ini mengingatkan&lt;br /&gt;pada hilangnya wakil konsul jepang yang bernama kuramoto yang bertugas di&lt;br /&gt;Nanjiang pada tahun 1934. pemerintah jepang dengan segera menuduh pihak&lt;br /&gt;Tionghoa telah membunuhnya. Insiden Marcopolo ini menyulut peperangan&lt;br /&gt;antara jepang dan cina. Pada tahun 1938, tentara jepang berhasil pula menguasai&lt;br /&gt;kota-kota penting Cina, namun kekuasaan mereka hanya sebatas didalam kota&lt;br /&gt;saja. Secara keseluruhan, pasukan jepang memang mendapat kemenangan telak,&lt;br /&gt;tetapi pasukan Tionghoa juga berhasil memperoleh kemenangan telak, tetapi&lt;br /&gt;pasukan Tionghoa juga berhasil memperoleh beberapa kemenangan berarti,&lt;br /&gt;seperti di Changsa dan provinsi Shandong. Selanjutnya, pada tanggal 9 September&lt;br /&gt;1945, Jepang menyerah secara resmi kepada Cina di Nanjing .&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1. Taniputera, Ivan. History of China. 2008. Jogjakarta : Ar-Ruzz&lt;br /&gt;2. Gernet, Jaques.. A History of Chinese Civilization. 1987 New York :&lt;br /&gt;Cambridge University Press&lt;br /&gt;3. Beasly, B.G.. Pengalaman Jepang : Sejarah Singkat Jepang. 2003&lt;br /&gt;Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.&lt;br /&gt;4. www.osdir.com/serial Sejarah Dinasti Qing.&lt;br /&gt;5. Wiriaatmadja, Rochiati. Prof, Dr, MA, Hj. Sejarah Kebudayaan China.&lt;br /&gt;2004. Bandung: Humaniora Utama Press.&lt;br /&gt;CATATAN:&lt;br /&gt;Makalah ini terbuka untuk dijadikan rujukan/referensi. Namun, jika anda&lt;br /&gt;ingin membangun bangsa ini lebih beradap. Maka, jangalah melakukan&lt;br /&gt;PLAGIATISME, tumbuhkan KREATIVITAS dalam karya tulis Anda!&lt;br /&gt;Selamat Berkarya!&lt;br /&gt;Surabaya, 2010.&lt;br /&gt;Subandi Rianto&lt;br /&gt;Mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya,&lt;br /&gt;Universitas Airlangga-Surabaya.&lt;br /&gt;(History Science of Department, Faculty of Humanities, University of Airlangga-Surabaya).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-7736713985210452817?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/7736713985210452817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=7736713985210452817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/7736713985210452817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/7736713985210452817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/11/kondisi-tiongkok-pada-masa-dinasti-qing.html' title='Kondisi Tiongkok Pada Masa Dinasti Qing'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-6424477202872994767</id><published>2010-11-05T09:16:00.000-07:00</published><updated>2010-11-05T09:17:27.828-07:00</updated><title type='text'>Analisis Ekologi Kota dan Teori Landasan Berpikirnya (Essai Mata Kuliah Ekonomi Perkotaan)</title><content type='html'>Oleh: Subandi Rianto&lt;br /&gt;Landasan Berpikir Analisis Ekologi Sebuah Kota&lt;br /&gt; Membicarakan masalah ekologi perkembangan sebuah kota, perlu adanya landasan berpikir yang menjadi pendukung analisis kedepannya. Landasan berpikir biasanya diambil dari beberapa teori mengenai perkotaan dari para pakar perkotaan yang berkompeten. Essai ini akan mengambil beberapa contoh teori analisis kota yang bisa dijadikan landasan berpikir kita dalam mengamati ekologi sebuah kota. Beberapa teori dari pakar analisis perkotaan:&lt;br /&gt;T.G. McGee, seorang pakar perkotaan dari University of British Columbia memberikan teori bahwa kota Jakarta-Bandung, Yogyakarta-Semarang dan Surabaya-Malang akan berkembang menjadi kawasan mega-urban atau Extended Metropolitan Region (EMR) yakni sebuah kawasan perkotaan yang amat luas dengan jumlah penduduk besar melebihi ukuran metropolitan. McGee menambahkan bahwa kawasan EMR terdiri atas kota inti (core city), wilayah metropolitan, serta wlayah-wilayah pedesaan yang tumbuh menjadi pendukung dan sedang mengalami transisi industrialisasi.&lt;br /&gt;Alan Gilbert dan Josef Gugler, penulis buku “Cities, Poverty and Development: Urbanization in The Third World”  memberikan pernyataan bahwa ciri-ciri perkembangan kota-kota di negara dunia ketiga adalah terjadinya polarisasi dan distorsi. Dimana disaat pusat kota mengalami akumulasi modal dan pertumbuhan ekonomi yang memicu akselerasi industrialisasi. Namun, disaat lain kota tersebut menjadi tidak sensitif dengan masalah kemiskinan dan kaum terpinggirkan lainnya. Dengan kata lain, ada beberapa orang yang tergusur haknya dengan perkembangan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Ekologi Kota Oleh Penulis&lt;br /&gt; Berlandaskan dengan teori yang ada, penulis berusaha memaparkan analisis dan beberapa pengalamannya dalam menjelajah beberapa kota di Pulau Jawa.&lt;br /&gt;Pendapat McGee yang menyatakan bahwa Jakarta-Bandung, Yogyakarta-Semarang dan Surabaya-Malang akan menjadi kota urban besar (megalocities) memang tidak bisa dinafikan lagi, karena pada kenyataannya kota-kota diatas tumbuh dan berkembang lebih cepat dibanding kota-kota lain di Indonesia. Analisis McGee dilengkapi dengan pemaparan mengenai struktur kota EMR yang sesungguhnya. Dan analisis Gilbert dan Gugler lebih terfokus pada sebab dan akibat dari perkembangan sebuah kota. Sementara penulis sendiri akan menganalisis secara kota-perkota sesuai dengan landasan teori diatas.&lt;br /&gt;a). Jakarta, secara historis memang sejak lama sebagai ibukota negara, pusat ekonomi-bisnis dan pusat pemerintahan. Tidak terelakkan lagi bahwa ketiga-tiganya menyebabkan Jakarta tumbuh menjadi kota yang kelebihan berat badan serta mengalami penyakit kronis. Dimana pertumbuhan jumlah penduduk meningkat tajam, kenaikan jumlah kendaraan bermotor juga mengalami hal yang sama. Kedua-duanya memicu adanya okupasi lahan dan pemukiman serta perluasan jalan raya. Manakala Jakarta berkembang menjadi pusat kota dari segala kota, maka membutuhkan kota-kota di sekelilingnya untuk menjadi kota pendukung. Ini bisa dilihat dimana 90% orang yang bekerja di Jakarta berasal dari kawasan Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Jakarta juga membutuhkan kota sekelilingnya untuk membantu pertumbuhan ekonominya agar lebih kencang. Bogor akhirnya menjadi pusat distribusi bahan baku makanan yang meliputi sayur-sayuran (Cipanas dan Puncak Bogor), teh dan kopi dll. Bogor sendiri juga menjadi kota pendukung Jakarta dalam hal perumahan. Kota pendukung perumahan untuk para pekerja di Jakarta bukan hanya Bogor saja, akan tetapi juga di Bekasi, Depok dan Tangerang. Perumahan-perumahan elit bisa dilihat disepanjang kota tersebut, Kemang Village, villa-villa di Puncak Bogor (Bogor), Ciputat, Pondok Indah, Pondok Labu, Pondok Ungu, Pondok Cabe (Depok) dan Jatimulya, Jatiwaringin serta Jatiluhur (Bekasi).&lt;br /&gt; Secara cepat juga Jakarta juga membangun transportasi ke berbagai kota-kota pendukungnya. Ada ratusan jaringan bus, angkot serta kereta api yang menghubungkan Jadebotabek. Setiap hari saja, dari Kota Bogor ada ratusan bus umum yang berangkat ke Jakarta. Serta ratusan Kereta Listrik yang diberangkatkan sejak pagi pukul 06:00 dari stasiun Bogor (stasiun paling selatan) hingga pukul 22:00 malam. Jakarta akhirnya semakin membesar dengan polarisasi kota-kota di sekitarnya yang tergabung dalam Jadebotabek.&lt;br /&gt;b). Bandung, hanya dua jam perjalanan menggunakan sepeda motor dari Jakarta. Hal ini terjadi manakala jalan tol Jagorawi, Cileunyi-Pasteur dibangun pada awal tahun 2000-an. Bandung seolah menjadi magnet kedua bagi pekerja kantoran di Jakarta yang ingin melepas lelah pada saat weekend. Bandung akhirnya berkembang menjadi pusat hiburan, mulai dari fashion, kuliner serta pusat jajan masyarakat dan hiburan. Dari Jakarta ke Bandung sudah banyak ratusan travel yang siap mendukung melewati jalan tol Jagorawi, Cileunyi-Pasteur. Serta jaringan kereta api dari Jakarta ke Kiaracondong dan Stasiun Bandung. Posisi Bandung sebagai ibukota Jawa Barat semakin memberikan nilai plus tersendiri.&lt;br /&gt;(Penulis pernah tinggal selama lima tahun di Bogor untuk menempuh pendidikan SMP dan SMA).&lt;br /&gt;c). Yogyakarta dan Semarang. Dua kota yang berbeda provinsi serta menjadi ibukota masing-masing dari provinsinya. Yogyakarta sebagai sebuah kota budaya dan pendidikan memiliki beragam nilai plus tersendiri bagi perkembangannya menjadi sebuah kota besar. Sebagai kota pendidikan, Yogyakarta memiliki ratusan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Lembaga pendidikan tersebut otomatis menjadi penyedot utama masuknya penduduk dari luar Yogyakarta untuk mendiami wilayah kota pendidikan tersebut. Implikasi dari arus migrasi pelajar dari luar kota ke Yogyakarta ada begitu banyak. Selain faktor-fakto negatif seperti adanya seks bebas tentu saja faktor positif  menjadi potensi untuk berkembangnya bisnis kos-kosan, kuliner serta industri kreatif lainnya. Universitas Gajah Mada pernah melakukan riset bahwa arah perkembangan kota Yogyakarta cenderung berkembang ke arah utara. Dimana batasnya mulai dari Kraton Yogya, Malioboro hingga ke utara, Jalan Kaliurang, UNY hingga terus ke UGM. Ada beragam faktor kenapa kecenderungan tersebut terjadi. Selain banyak perguruan tinggi di wilayah Jogja utara juga pusat-pusat pemerintahan Yogya ada di sebelah utara (Timoho, Kridosono dan Balaikota). Semarang sendiri merupakan kota pantai yang berkembang karena arus ekonomi dari pelabuhan-pelabuhan di pantai utara yang semakin menunjukkan sentiment positif. Arus Impor dan Ekspor Provinsi Jawa Tengah selalu bergerak di pintu gerbang utama Tanjung Mas-Semarang. Selain, itu faktor adanya perguruan tinggi Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Semarang juga menjadi pemicu meningkatnya jumlah penduduk musiman kota Semarang. Antara Semarang dan Yogyakarta dihubungkan oleh jaringan transportasi bus, kereta dan beragam travel lainnya. Yogyakarta dan Semarang didesain untuk menjadi kawasan terpadu dalam hal pariwisata, ekonomi dan budaya yang disebut kawasan JOGLOSEMAR (Jogja, Solo, Semarang).&lt;br /&gt;c). Surabaya-Malang. Secara historis dapat dilihat bahwa semenjak zaman kerajaan dan kolonial, Surabaya telah berkembang menjadi kota pelabuhan yang besar. Hal tersebut pastinya memicu adanya arus urbanisasi dari kota-kota disekelilingnya. Seperti Krian, Sidoarjo, Mojokerto dll. Arus urbanisasi tersebut menyebabkan adanya percampuran kebudayaan yang disebut budaya Arek. Seiring adanya percampuran kebudayaan, Surabaya semakin padat dengan penduduknya dan tentu saja naik ekonomi dan bisnisnya juga. Manakala Surabaya berhasil naik secara ekonomi, Malang juga terkena getahnya, karenanya urat nadi ekonomi Surabaya ditopang secara penuh oleh kota Malang (bahkan sejak zaman kolonial, para residen Belanda lebih sering berlibur ke kota Malang). Malang berkembang menjadi pusat kuliner, pariwisat serta pusat souvenir-souvenir.&lt;br /&gt;Subandi Rianto, NIM 120914028&lt;br /&gt;Student of History Department, Faculty of Humanities, Airlangga Universty&lt;br /&gt;subandi.rianto@gmail.com, www.subandi-rianto.blogspot.com.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-6424477202872994767?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/6424477202872994767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=6424477202872994767' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/6424477202872994767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/6424477202872994767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/11/analisis-ekologi-kota-dan-teori.html' title='Analisis Ekologi Kota dan Teori Landasan Berpikirnya (Essai Mata Kuliah Ekonomi Perkotaan)'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-5042020137799168413</id><published>2010-07-09T11:11:00.001-07:00</published><updated>2010-07-09T11:12:02.820-07:00</updated><title type='text'>"Sebuah Surat dari Akhwat tentang Cinta (Sebuah renungan untuk para Ikhwan)"</title><content type='html'>Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kisah yang sudah sangat melegenda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tentang Julius Caesar, kaisar Romawi yang rela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kehilangan kehormatan, kesetiaan dan bahkan negaranya demi si Ratu Penggoda: Cleopatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua dia lakukan (kata ahli sejarah)...atas nama cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ini kisah tentang pemuda bernama Romeo, demi seorang wanita, rela kehilangan keluarga, dan tentu saja nyawa... tetap saja: atas nama cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Satu lagi.., seorang janda bernama Khadijah, yang rela mengorbankan segalanya demi membela pemuda bernama Muhammad, yang dia yakini membawa risalah Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga: atas nama cinta -kata Jalaluddin Rumi- "Cinta akan membuat yang pahit menjadi manis, dengan cinta.. tembaga menjadi emas, dengan cinta.. yang keruh menjadi jernih, dan dengan cinta.. sakit menjadi obat, dengan cinta.. yang mati akan menjadi hidup dan cintalah yang menjadikan seorang raja menjadi hamba sahaya, dari pengetahuanlah cinta seperti tumbuh..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Afwan, aku bukan pujangga yang hendak membahas tentang cinta. Aku juga tidak sedang mencampuri urusan orang lain (Aku hanya ingin memposisikan diri sebagai seorang saudara.. yang wajib hukumnya untuk mengingatkan saudaranya yang mungkin...salah langkah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aku salah, atau... artikel ini tak berkenan, mohon maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saatnya aku untuk dikritisi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin bicara atas nama wanita, terlebih akhwat (kalau boleh sih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong untuk para ikhwan (atau yang merasa sebagai muslim): Wanita adalah makhluk yang sempit akal dan mudah terbawa emosi. Terlepas bahwa aku tidak suka pernyataan tersebut, but itu fakta. Sangat mudah membuat wanita bermimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong, berhentilah memberi angan-angan kepada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kami akan melengos kalau disapa. Atau membuang muka kalau dipuji. But, jujur saja, ada perasaan bangga. Bukan suka pada Antum (mungkin) but suka karena diperhatikan "lebih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kami, ada golongan Maryam yang pandai menjaga diri. Tetapi tidak semua kami mempunyai hati suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Antum tawarkan sebuah ikatan bernama ta'aruf bila Antum benar-benar belum siap akan konsekuensinya. Sebuah ikatan ilegal yang bisa jadi berumur tak cuma dalam hitungan bulan, tetapi menginjak usia tahun, tanpa kepastian kapan akan dilegalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong, pahami arti cinta seperti pemahaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar Al Faruq: seperti induk kuda yang melangkah hati-hati karena takut menginjak anaknya (afwan, bener ini ya riwayatnya?). Bukan mengajak kami ke bibir neraka. Dengan SMS-SMS mesra, telepon sayang, hadiah-hadiah ungkapan cinta dan kunjungan pemantapan yang dibungkus sebuah label: ta'aruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong, kami hanya ingin menjaga diri. Menjaga amal kami tetap tertuju pada-NYa. Karena janji Allah itu pasti. Wanita baik hanya diperuntukkan laki-laki baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan ajak hati kami berzina dengan berkhalwat denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beda...persahabatan sebagai saudara, dengan hati yang sudah terjangkiti virus..... Beda itu bernama "rasa" dan "pemaknaan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan, bukan seperti itu yang dicontohkan Rasulullah r.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antum memang bukan Mush'ab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antum juga tak sekualitas Yusuf I,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetapi Antum bukan Arjuna dan tak perlu berlagak seperti Casanova. Karena Islam sudah punya jalan keluar yang indah: segeralah menikah atau jauhi wanita dengan puasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong, sebelum Antum memutuskan untuk mendatangi kami, jawab dulu pertanyaan ini dengan jujur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Setelah 3 bulan Antum mendatangi dan menyatakan cinta, Antum masih belum siap untuk mengikrarkan dalam sebuah pernikahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ataukah Antum masih butuh waktu lebih lama dan meminta kami menunggu, dengan alasan yang tidak syar'i dan terlalu duniawi? Kalau jawabannya "YA",: "SELAMAT"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berarti Antum lebih pantas masuk surga dibandingkan Ali bin Abi Thalib t? Dia baru berani mengatakan cinta kepada Fathimah, setelah menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali pemuda kesayangan Rasul, tetapi menunggu waktu bertahun-tahun untuk mengatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena dia pengecut, tentu saja justru karena dia adalah laki-laki kualitas surga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong, kami tidak ingin menyakiti hati calon suami kami yang sebenarnya. Mereka berusaha untuk menjaga hijab, agar datang kepada kami dalam kondisi suci hati, tetapi kami malah menjajakan cinta kepada laki-laki yang belum tentu menjadi suami kami. Atau Antum sekarang sudah berani menjamin bahwa Antum adalah calon suami kami sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, wanita itu lemah dan mudah ditaklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai saudara kami, tolong, jaga kami. Karena kami akan kuat menolak rayuan preman, tapi bisa jadi kami lemah dengan surat cinta kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah akan lebih indah bila kita bertemu dengan jalan yang diberkahi-NYA? Bukankah lebih membahagiakan bila kita dipertemukan dalam kondisi diridhai-NYA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma saat menikah, tetapi saat pertemuan yang juga bebas dari maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Maha Pencemburu, dan DIA Maha Memiliki kami, so...mintalah kepada-Nya sebelum mendatangi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum Warahmatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.syahidismail.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-5042020137799168413?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/5042020137799168413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=5042020137799168413' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/5042020137799168413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/5042020137799168413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/07/sebuah-surat-dari-akhwat-tentang-cinta.html' title='&quot;Sebuah Surat dari Akhwat tentang Cinta (Sebuah renungan untuk para Ikhwan)&quot;'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-8858424934199643400</id><published>2010-06-09T08:41:00.001-07:00</published><updated>2010-06-09T08:41:30.206-07:00</updated><title type='text'>“The Crescent in The East : Islam in Asia Mayor”  BAB Muhammadiyah in Minangkabau dan  The Relationship between Muhammadiyah in Java and Minangkabau.</title><content type='html'>Awal-awal tahun 1925, seorang guru agama dari Sumatra (Minangkabau), Haji Rasul (Haji Abdul Karim Amrullah) mengunjungi komunitas penjual batik dari Minangkabau yang bermukim di daerah jawa tepatnya di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Beliau sangat terkejut dengan perkembangan organisasi islam Muhammadiyah yang dipimpin oleh saudara iparnya tersebut.  Dari Kota Pekalongan, beliau kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kota Yogyakarta. Disana beliau bertemu dengan anggota dan pimpinan Muhammadiyah pusat, serta mengunjungi beberapa sekolah/madrasah yang dikelola oleh Muhammdiyah. Haji Rasul kemudian kembali ke Sumatera dan terinspirasi untuk membentuk sebuah organisasi di kota asalnya tersebut. Dimana dengan sebelumnya Haji Rasul pernah terlibat dalam pergerakan perhimpunan pelajar Sumatra (Sumatara Thawalib/ Sumatra Student Association) dan kemudian diinfiltrasi oleh pengaruh-pengaruh komunis.&lt;br /&gt;Haji Rasul kemudian membangun sebuah perubahan dalam organisasi-organisasi pendidikan seperti Sandi Aman (Pusat Kedamaian) yag beliau dirikan di Sungai Batang, sebagai representasi dari cabang Muhammadiyah di Sumatra. Meskipun Sandi Aman secara ideologi dan pandangan sejalan dengan pusat Muhammadiyah di Yogyakarta. Namun dikemudian hari sejarah mencatat bahwa Sandi Aman berkembang berbeda dari organisasi induknya.&lt;br /&gt;Sekali didirikan di Sumatra, Muhammadiyah berkembang dengan pesatnya. Hal itu karena begitu konsep ke-Muhammadiyah-an dibumikan di Sumatra, dengan segera beberapa organisasi sayapnya juga turut berdiri. Antara lain Hizbul Wathan (organisasi kepemudaan dan kepanduan) dan Aisyiyah (organisasi keputrian) yang didirkan oleh putri Haji Rasul sepulang dari Jawa. Secara luar biasa kemudian, anggota Muhammadiyah cabang Sumatra naik drastis dari sebelumnya. Itu terlihat dari Kongres XIX Muhammadiyah di Sumatra Barat, Kota Bukit Tinggi pada tahun 1930. Fort de Kock memperkirakan anggota Muhammadiyah yang hadir antara kisaran 15.000 hingga 20.000 orang.&lt;br /&gt;Kongres tersebut juga membuat Muhammadiyah cabang Sumatra sebagai organisasi pergerakan sosial-keagaamaan, terutama para guru-guru agama menumpahkan kritik terhadap cabang jawa lainnya agara tidak membuka kerjasama dengan kaum kafir (penjajah).&lt;br /&gt;Kesimpulan daripada kongres tersebut mengerucut pada penyikapan aturan kolonial terhadap daerah, yaitu jika siapa saja memberikan dukungan terhadap Muhammadiyah (khususnya cabang Sumatra), maka pusat akan mengalami tekanan yang luar biasa untuk mengingatkan cabangnya tersebut agar kembali pada jalan yang “benar”.&lt;br /&gt;Sutan Mas Mansur akhirnya dikirim dari Jawa untuk mereformasi Muhammadiyah cabang Sumatra tersebut. Dengan misinya membuat politik Muhammadiyah Cabang Sumatra sama dengan induknya. Yaitu berpolitik netral terhadap pemerintahan kolonial.&lt;br /&gt;Akhirnya beberapa element kemasyarakatan yang berpolitik radikal atau Muhammadiyah yang berhaluan kiri secara massif menggabungkan diri dengan dua partai yang kemudian berkembang di Sumatra Barat. Yaitu Perhimpunan Muslimin Indonesia (Permi) dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Relationship between Muhammadiyah in Java and Minangkabau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cabang-cabang Muhammadiyah di Jawa dan Sumatra secara keseluruhan mempunyai kesamaan ideology. Yaitu percaya kepada tuhan (Allah) serta memberikan promosi tentang konsep Islam yang ideal dalam kehidupan sosial dan pendidikan masyarakat. Mereka juga membangun rasa persatuan antar etnis dan golongan yang ada di Hindia Belanda (Indonesia). Membangun kepercayaan bahwa persatuan antar mereka akan membawa manfaat yang besar dalam melawan pemerintahan kolonial. Yaitu untuk mengubah keadaan sosial dan ekonomi masyarakat yang masih kurang baik.&lt;br /&gt; Cabang-cabang tersebut juga sama-sama mencari inspirasi dari adanya pergerakan pembaharuan Islam yang dimotori oleh Guru Syekh Muhammad Abduh dan pergerakan pembaharuan Mesir. Hal inilah yang kemudian menyebabkan mereka lebih dekat kepada para pemimpin mereka yang reformis di Jawa, serta petinggi lainnya di Minangkabau. Hingga kemudian pergerakan reformasi antar cabang dapat membuat cabang lainnya mengikuti. Perlahan tapi pasti rasa persatuan dan kesatuan mulai terbentuk di kemudian hari.&lt;br /&gt; Sayangnya, karena berada dalam daerah yang berbeda. Maka antara Jawa dan Minangkabau terjadi perbedaan perkembangan organisasi. Di Jawa, Muhammadiyah berkembang bersamaan dengan organisasi lainnya. Yaitu Sarekat Islam, Budi Utomo dan beberapa organisasi lainnya. Meskipun begitu Muhammadiyah ternyata digerakkan oleh orang-orang yang tidak begitu objektif. Yaitu mereka yang berhaluan Marxis dan Nasionalis. Hingga hal tersebut membuat kondisi internal tidak begitu baik karena perbedaan pendapat yang terlalu tinggi. Akhirnya Muhammadiyah Jawa hanya menjadi organisasi sosial relegius yang tidak berpolitik praktis karena tensi internalnya tersebut. &lt;br /&gt; Pertumbuhan pergerakan lainnya juga menjadi saingan tersendiri bagi Muhammadiyah Jawa, antara lain pergerakan Misionaris Protestan dan Katolik yang dimana hal ini (pergerakan Protestan dan Katolik) jarang terjadi di daerah Minangkabau).&lt;br /&gt; Ada sekitar tujuh faktor yang membuat Muhammadiyah Minangkabau berkembang dan digerakkan oleh masyarakatnya sendiri pada akhir tahun 1920. Yaitu infiltrasi komunis terhadap Sumatra Thawalib membuat beberapa elemen masyrakat yang tidak sehaluan keluar dan bergabung dengan Muhammadiyah. Begitu juga dengan bergabungnya beberapa pemuda anti komunis serta anti pemerintahan dengan Muhammadiyah . Hal inilah yang melatarbelakangi perkembangan pesatnya Muhammadiyah Sumatra ketika Kongres XIX di Bukit Tinggi.&lt;br /&gt; Namun secara perlahan-lahan faktor yang membuat Muhammadiyah Sumatra berkembang ini juga ditekan karena reaksi Pemerintahan Kolonial akan perkembangan Muhammadiyah Sumatra yang membahayakan tersebut. Dan lewat tekanan terhadap induknya di Jawa lah, konsiprasi Pemerintahan Kolonial berhasil. Hingga tekanan yang begitu kuat tersebut membuat Muhammadiyah Sumatra mengalami penurunan dan para kadernya akhirnya berpindah organisasi yang baru lahir. Perhimpunan Muslim Indonesia (Permi).&lt;br /&gt; Berbeda dengan di Jawa, Muhammadiyah mengalami kesuksesan. Akan tetapi bukan kesuksesan karena konsolidasi organisasinya. Melainkan keeksisannya para kader (anggota) Muhammadiyah di organisasi-organisasi pergerakan lainnya seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam. Hal yang meningkatkan daya tawar Muhamadiyah Jawa terhadap pemerintahan kolonial. Sehingga, dengan sistem seperti itulah Muhammadiyah konsisten mendengungkan persatuan antara umat dan etnis di Hindia Belanda guna mengakhiri penjajahan dan memulai hidup baru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-8858424934199643400?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/8858424934199643400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=8858424934199643400' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/8858424934199643400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/8858424934199643400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/06/crescent-in-east-islam-in-asia-mayor.html' title='“The Crescent in The East : Islam in Asia Mayor”  BAB Muhammadiyah in Minangkabau dan  The Relationship between Muhammadiyah in Java and Minangkabau.'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-8407177091255705968</id><published>2010-04-26T06:57:00.001-07:00</published><updated>2010-06-09T08:16:34.263-07:00</updated><title type='text'>Berkaca dari Sebuah Kereta Ekonomi : Sebuah Diskursus Mengenai Sosialisme-Komunisme (Look ahead from Economic class Train : a discuss about Socialism</title><content type='html'>Written By : Subandi Rianto&lt;br /&gt;History and Culture Researcher from Airlangga University-Indonesia.&lt;br /&gt;Abstract&lt;br /&gt;Generally, we know that Indonesia Communist Party was destroyed by government at 1965s. Hundred of people Communist Party was killed with the gun in java and the others in Bali Island. Although Socialism and Communist will be swap from Indonesia. The Resident of Indonesia has that Socialism Paradigm long time ago before Indonesia Communist Party born. So, that socialism paradigm can we look and realize in around ourselves. The discuss will be focus in the Economic Class Train in Indonesia. You can look that condition in the third class was very amazing. The Passengers always sahre his seat to others, and they know if the all passengers are same. Both the Passengers and “Pengamen” is same and can seat in the train, and the seat are free from booking. &lt;br /&gt;That condition will not found in the Business Class and Executive Class. Why? Because in the Business and Executive class, the chair have been booking by ticket, booking by person. So, that condition only the people have many money. Not for poor people. Specially from Business and Executive class is the “Pengamen” and seller can not enter the train. Because that rules from Train Authority. Than, what is problem with this article? The problem is if long time ago government will swap the socialism, why now they give that paradigm into the Economic Class Train. &lt;br /&gt;Our paradigm government are not bright. If will give socialism paradigm, we can see The Cina, they success give socialism system into they country. What about Indonesia? Indonesia has two paradigm. Socialism in the Economic Class Train. And also capitalism in the Business and Executive Train. So, which one government to do?. If the government understand with the constitution, maybe they can change Economic Class Train like Executive class. With the comfortable Seat and Air conditioner. Maybe the Government not understand what is the constitution tell. The Resident must be cover that life by money from state.(The Constitution say “earth, water and country wealth as used by many people must be grasp by state and use to all resident again).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir puluhan tahun yang lalu, paham komunis dan sosialis di Indonesia dihabisi baik secara kultural maupun ideologisnya. Singkatnya, ideologi semacam itu dapat dikatakan membahayakan keutuhan negara, sebuah anekdot guyon politik gaya orde baru. Tapi, benarkah prinsip-prinsip sosialisme-kolektivis dapat hilang dari masyarakat kita, atau dengan bahasa lugasnya dikatakan dihilangkan dari sosiokultul negeri kita. Tampaknya hanya omong belaka bahwa hal-hal semacam itu bisa terjadi. Negara sebagai sebuah terminologi kontrak politik selalu mengingatkan warganya akan bahaya laten komunis-sosialis. Tapi, warga sebagai pemegang kontrak politik tetap saja mewarnakan unsur-unsur tersebut dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;Memang Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dulunya menjadi “tertuduh” dalam kudeta berdarah 1965 telah dihabisi secara frontal oleh sang penguasa. Beragam cara berusaha dimusnahkan agar “sang komunis-sosialis” segera lenyap dari bumi pertiwi. Beribu-ribu simpatisannya dibantai diseantero Pulau Jawa. Bahkan ada yang digiring ke Bali untuk dieksekusi. Negara tertawa sebagaimana mereka menyenangkan pihak-pihak yang ketakutan akan komunisme. Negara-negara yang berhaluan lberal-kanan selalu bermain tangan di Indonesia untuk menyingkirkan komunisme.&lt;br /&gt;Tulisan yang disusun seobjektif mungkin ini bukan berarti penulis mendukung komunisme, atau menyanjung sang penguasa yang liberal-kanan. Artikel disusun atas realita yang terjadi di konteks kekinian dengan sudut pandang refleksi sejarah. Ada sebuah pertanyaan penting yang bisa menyadarkan kita akan adanya prinsip-prinsip sosialisme disekeliling kita. Apakah unsur-unsur utama dari sosialisme dan Komunisme itu? Apakah hanya sekedar merebut kekuasaan negara dengan kekerasan macam revolusi merah di Uni Soviet? Atau revolusi tanpa pertumpahan darah macam Revolusi Bunga di Spanyo?. Tidak! Paham-paham itu masih mengatur hal-hal lain yang kebanyakan dilupakan orang. Paham-paham diatas menekankan akan kolektivisme yang sekarang sedang bergaung di Negera Cina.&lt;br /&gt;Beginilah realita yang ada di masyarakat kita, suatu hari datanglah anda ke stasiun. Naik kereta ekonomi dan rasakan perbedaannya jika menaiki klas Bisnis dan Eksekutif. Di kereta klas nomor 3 itu, anda akan menemui bagaiman semua orang. Semua penumpang adalah sama, penumpang bebas mengambil tempat duduk dimana saja. Dimana letaknya? Perhatikanlah, penumpang yang kebagian tempat duduk ataupun tidak akan merasakan bahwa mereka pasrah dengan keadaan yang ada. Dengan pola, setiap ada penumpang yang turun, dapat dipastikan ada siklus perpindahan tempat duduk. Tempat duduk yang kosong akan segera diisi oleh yang lainnya. Pun Para pengasong bebas berkeliarandi setiap gerbong, entah cuma hanya penjual tahu semata, koran atau pengemis pun dibebaskan untuk masuk. Bahkan jika para pengasong dan pengemis itu juga ingin naik kereta sampai tujuannya. Semua adalah sama dan tak ada yang diistimewakan. Begitulah kolektivisme? &lt;br /&gt;Bandingkan jika dengan klas Bisnis dan Eksekutif. Nomor tempat duduk telah ditentukan. Serta para pengasong dan pengemis dilarang masuk. Dulu untuk yang eksekutif ada service plus, mendapat makanan gratis. Serta untuk klas eksekutif terdapat pendingin udara. Jelas! Anda akan mendapat perbedaannya yang mencolok hanya dari melihat salahsatu contoh kecil saja. Apakah paham-paham kolektivisme di negara kita masih ada? Simpulannya saya serahkan kepada anda sendiri. Anda bisa melihat bahwa perkereta apiaan kita pun selain menganut paham-paham sosialisme-komunisme juga liberalisme-Kapitalis. Lihatlah, kolektivisme terjadi di hampir semua kereta klas ekonomi. Sementara prinsip-prinsip liberalisme-kapitalis terjadi di klas bisnis dan eksekutif. Lihatlah bahwa yang mempunyai modal (kapital) lebih pasti akan mendapat klas yang nyaman dan plus.&lt;br /&gt;Kemudian, apa yang harus dilakukan. Kalau negara ingin menerapkan kolektivisme dalam dunia masyarakat kita. Khususnya perkereta apiaan. Maka, pemerintah harus menganggarkan subsidi untuk penyejahteraan kereta kelas ekonomi. Denga subsidi, maka kereta kelas ekonomi dapat lebih baik. Bisa diperbaiki kuota tempat duduk tiap gerbong dan ditambah pendingin udara. Dengan demikian masyarakat yang berpenghasilan rendah pun dapat menikmati “kebaikan” pemerintahnya. Bukankah dana APBN juga berasal dari rakyat. Dan impian inilah telah terjadi di negara Cina, negara suporpower tersebut banyak menggelontorkan subsidi untuk perbaikan militernya, subsidi pertanian hingga elektronik dan transportasinya. Makanya Anda jangan heran begitu Asean-Cina Free Trade Area dibuka, semua negara ketakutan akan murahnya harga barang-barang dari Cina. Mereka murah karena banyak subsidinya.&lt;br /&gt;Demikianlah, paham-paham disekeliling kita pun sering tercampur aduk antara kolektivisme dan kapitalisme. Negara memang memerlukan kolektivisme untuk “mengelabuhi” rakyat agar tetap mendapat kebaikan pemerintah dengan klas ekonominya. Sementara negara juga tak ingin kehilangan simpati dari para “borjuasi” (klas menengah ke atas). Mereka dibutuhkan karena kemampuan dan uangnya. Maka pelayanan untuk mereka pun juga dilebihkan atas sebagian dari yang proleterat (klas bawah). &lt;br /&gt;Hasil akhir artikel ini bukan merekomendasikan paham kolektivisme-Sosialisme-Komunisme untuk dihidupkan di Indonesia. Tengoklah Undang-Undang Dasar, disana kita punya gabungan antara dua paham di atas, Kita mempunyai paham Ekonomi Kerakyatan. Paham-paham kerakyatan yang oleh Ir. Soekarno itu diambil dan diolah dari kepribadian rakyat Indonesia. Dan paham itulah yang harusnya dari, oleh dan untuk rakyat Indonesia. Bagaimana pola Ekonomi Kerakyatan tersebut? Salah satu pasal Undang-Undang mengatakan bahwa bumi, air dan kekayaan hidup yang digunakan untuk kepentingan rakyat banyak akan dikuasai negara. Serta digunakan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat sebesar-besarnya. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, sudahkan negara menguasainya? Sudah tentunya. Kemudian apakah rakyat sudah sejahtera dengan fasilitas negara yang ada? Belum sama sekali. Kereta kelas Ekonomi telah menunjukkan bagaimana kesejahteraan itu belum terjadi? Kalau ingin kesejahteraan itu terjadi, pemerintah tentunya akan mengucurkan dananya untuk Kereta Klas Ekonomi guna kesejahteraan rakyat kelas bawah. Semoga Pemerintah Indonesia, Pejabat tinggi Kementerian Perhubungan dan Dirjen Perkeretaapian serta jajarannya dapat dengan sadar melakukan perubahan.&lt;br /&gt;Sesungguhnya, kami ingin bahwa bangsa ini mengetahui bahwa Ia lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Semoga Indonesia ke depannya lebih sejahtera. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email : subandi.rianto@gmail.com&lt;br /&gt;Mobile : +62812 2779 7042&lt;br /&gt;http://www.subandi-rianto.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-8407177091255705968?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/8407177091255705968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=8407177091255705968' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/8407177091255705968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/8407177091255705968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/04/berkaca-dari-sebuah-kereta-ekonomi.html' title='Berkaca dari Sebuah Kereta Ekonomi : Sebuah Diskursus Mengenai Sosialisme-Komunisme (Look ahead from Economic class Train : a discuss about Socialism'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-7333645537493576582</id><published>2010-04-26T06:54:00.000-07:00</published><updated>2010-04-26T06:56:16.754-07:00</updated><title type='text'>Mendengarkan Shalawat Nabi dengan Nuansa yang Berbeda</title><content type='html'>Oleh : Subandi Rianto&lt;br /&gt;*Student of History Department of Airlangga University-Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Shalawat nabi merupakan sesuatu yang sakral dalam ritualisme ibadah umat islam. Biasanya shalawat lebih sering dibacakan secara bersama-sama di masjid dalam rangka pengajian, yasiinan, istighosah atau semacamnya. Nuansa yang kita tanggap akan kurang lebih sama. Yaitu, merasakan kegetaran hati yang sama disaat shalawat secara serentak dibaca. Tapi, anda akan merasakan hal yang lebih hebat lagi manakala shalawat nabi dibacakan secara berbeda. Bagaimana maksudnya?&lt;br /&gt; Saya pernah mengalami sedikitnya tiga kali nuansa yang berbeda dalam mendengarkan shalawat nabi. Tentu saja bukan di masjid atau di mushala-mushala. Nuansa itu, pertama saya tangkap ketika paruh terakhir tahun 2008. Beberapa hari menjelang Ramadhan tiba. Saat sedang duduk di mikrolet di Jakarta yang menuju ke arah Blok M. Bersama beberapa teman dan ”ustadz”, kami duduk di bagian depan. Hingga kemudian naiklah tiga orang pengamen yang penampilannya beda dari yang lainnya. Dua orang mengenakan kopiah, sementara yang satu mengenakan surban. Sebuah gendang dan ecrekan mereka pegang. Beberapa menit nada awal dinyanyikan. Hemm... ternyata shalawat nabi. Bisa anda bayangkan, disebuah bus kota (mikrolet) di Kota Jakarta yang sedang kondisi penuh, pengap dan sesak. Plus macet lagi. Setetes embun dinyanyikan diantara kami. Hati saya mak cess mendengarnya, terasa ada yang berbeda suasana siang itu, sebuah rindu terbit dari hati terdalam saya. Rindu kepada Kanjeng Nabi lewat nyanyian shalawatnya tadi.&lt;br /&gt; Akhir tahun 2009, ketika saya hendak balik ke Surabaya dari Yogyakarta untuk kuliah. Kereta Ekonomi Sri Tanjung menjadi pilihan transportasi. Selain hemat biaya juga bisa lebih merakyat. Ketika itu, kereta sudah berangkat dari Lempuyangan-Yogyakarta sejak pagi sekali, pukul 07:00. Menjelang Kota Sragen dan Solo. Para penumpang semakin menjejali angkutan rakyat tersebut. Selepas Kota Solo, serombongan pengamen. Berjumlah tiga orang juga, mengenakan pakaian pas-pasan. Seorang membawa gitar, sisanya membawa ecrek-ecrek dan sebuah gelas air minuman. Tahukah apa yang mereka nyanyikan? Ya, shalawat nabi lagi. Waktu itu saya hampir tidak tahu kalau ada pengamen yang naik kereta, kalau mereka tidak menyanyikan shalawat nabi. Bagi saya di sebuah kereta ekonomi sudah ada puluhan pengamen yang nyanyi dan kurang lebih nada maupun liriknya sama saja. Hingga membuat saya acuh tak acuh terhadap yang namanya pengamen. Tapi, ini adalah nuansa yang berbeda. Nuansa yang dibawakan beberapa orang pengamen. Saya sempat menoleh mencari asal suara shalawat tersebut, karena saya merasa ada nuansa yang begitu agung. Nuansa agung di tengah-tengah derit kereta ekonomi rakyat yang penuh dengan kesengsaraan. Panas, pengap, bising dan sesak. Tetes demi tetes membuat saya hampir saja menangis. Maklum suara mereka seperti mengingatkan bahwa sebentar lagi dunia ini mendekati kiamat. Seakan-akan langit di atas sana sudah terlalu tua.&lt;br /&gt; Awal tahun 2010, ketika sehabis mengikuti acara bedah buku di Universitas Kristen Petra-Sidoarjo. Saya harus segera kembali ke Surabaya sebelum hari gelap agar tidak sampai terlalu malam. Berawal dari menumpang angkot jurusan Terminal Joyoboyo, saya harus bersabar menunggu beberapa jam. Maklum, saat itu sedang ada razia gabungan Dinas Perhubungan terhadap angkot-angkot di sekitar Surabaya. Jadi, akhirnya saya pun baru sampai di Terminal Joyoboyo-Surabaya mendekati pukul 17:30. Hampir mendekati azan maghrib. &lt;br /&gt;Akan tetapi, ditempat yang suasana sama pula. Seorang pengamen remaja membawa gitar hendak menyanyi. Awalnya saya pikir Ia akan menyanyi seperti pengamen-pengamen lainnya. Lirik dan nadanya sama. Dan angkot yang saya tumpangi sudah puluhan kali didatangi pengamen yang jenjang usianya beragam tapi nada dan liriknya sama. Bayangkan betapa bosannya penumpang seisi angkot tersebut. Tapi pengamen remaja tadi tidak, agaknya ia lebih kreatif. Nyanyian shalawat akhirnya mengalun pelan diiringi petikan gitar. Cess, saya merasakan ada aura yang berbeda menjelang azan maghrib dikumandangkan. Beberapa detik sebelum azan, nyanyian shalawat dari pengamen cilik tadi mampu melunakkan hati kami setelah lelah seharian beraktivitas. Tampaknya dari sekian puluh pengamen yang ”nongkrong” di angkot yang saya tumpangi. Hanya dia yang mendapat uluran uang beberapa ribu dari penumpang. (Tanpa bermaksud riya akhirnya saya juga ikut mengulurkan uang, terkesan akan nyanyian shalawatnya).&lt;br /&gt;Begitulah, tampaknya Kanjeng Nabi akan selalu hadir disetiap sisi kehidupan kita. Hadir melalui shalawatnya untuk menjadi pengingat agar kita senantiasa selalu dekat dengan-Nya. Serta seperti yang kita harapkan selalu, semoga di akhirat nanti kita bisa bertemu dengan Kanjeng Nabi Muhammad Saw dan mendapatkan syafaatnya. Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad &lt;br /&gt;Wa ala alihi wasohbihi wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email  : subandi.rianto@gmail.com&lt;br /&gt;Mobile : +6281227797042&lt;br /&gt;Web : http://www.subandi-rianto.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-7333645537493576582?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/7333645537493576582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=7333645537493576582' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/7333645537493576582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/7333645537493576582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/04/mendengarkan-shalawat-nabi-dengan.html' title='Mendengarkan Shalawat Nabi dengan Nuansa yang Berbeda'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-252261498154405550</id><published>2010-04-15T07:29:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T07:30:32.932-07:00</updated><title type='text'>AIDS, Pendidikan Seks dan Norma Agama</title><content type='html'>AIDS di Indonesia saat ini sudah dipandang sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Beragam cara telah ditempuh untuk mengendalikannya, mulai dari sosialisasi penggunaan kondom, konser amal, seminar-seminar pendidikan seks dll. Namun, semua seolah-olah hanya gerakan sporadis yang belum menemukan ruhnya. Tingkat seks bebas yang dibarengi AIDS masih tetap saja tinggi. Bahkan hingga minggu-minggu ini, tingkat penderita seks mulai bergeser dari usia pemuda menuju usia remaja. Budaya seks bebas ternyata tidak mengenal umur, bahkan anak-anak usia produktif pun terancam masa depannya.&lt;br /&gt; Berangkat dari penyakit satu ini, penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Sikap pemerintah dan lembaga swadaya hanya sebatas tingkat kuratif saja. Tingkat penyembuhan dan penanganan korban dengan cara melakukan sosialisasi agar penderita tidak dikucilkan dari aktivitas lingkungan masyarakat. Sementara, untuk usaha preventifnya malah jauh dari panggang. Usaha-usaha preventif hanya sebatas menyebar brosur, mengadakan konser amal (yang tentunya hedon) atau malah menyebarkan kondom. Sesuatu yang menurut saya tidak sesuai dengan jalurnya.&lt;br /&gt; Bila usaha preventuf agar penyakit HIV-AIDS tidak meledak menjadi Kejadian Luar Biasa, kenapa yang dibagikan adalah kondom? Bukan obat-obatan yang bisa mencegah adanya HIV-AIDS. Saya rasa dengan membagi-bagikan kondom pada tempat yang umum malah akan menambah para penikmat seks bebas. Bayangkan, bila kondom-kondom itu jatuh ke tangan anak-anak muda yang notabene masih labil emosinya. Dengan rasa ingin tahunya yang begitu tinggi. Bukankah mereka juga akan mencoba-coba yang namanya seks bebas?. Lantas, yang terjadi bukan mencegah adanya penderita baru, tapi malah menambahnya. &lt;br /&gt; Kemudian, langkah apa yang tepat untuk menanggulanginya? Jawabannya terletak pada pendidikan seks sejak usia dini (sex education). Namun, yang menjadi catatan adalah pendidikan seks dalam konteks ini tidak dilakukan begitu saja tanpa adanya pegangan yang jelas. Pendidikan seks akan menemukan ruhnya apabila kita satukan dengan norma-norma agama. Agama akan secara jelas mengatur bagaimana tatacara pendidikan dalam seks tersebut secara gamblang dan terperinci. Jadinya, dengan agamalah pendidikan seks bukan sebatas mainan dan bahan lelucon, yang biasanya sangat dinikmati oleh penderita seks bebas.&lt;br /&gt; Langkah nyata pemerintah adalah membenahi pendidikan seks yang ada sekarang. Jangan sampai bola liar bernama sex education ini diumbar kesana-kemari tanpa ada hulu yang jelas. Dalam konteks umum, pendidikan seks hanya dipandang bagaimana cara-cara berhubungan seksual yang bersih dari ancaman virus HIV-AIDS, konteks tersebut biasanya mengacuhkan apakah hubungan seks tersebut legal atau ilegal. Bila pendidikan seks telah disatukan dengan norma-norma agama, maka akan terlihat jelas warnanya. Hitam atau putih akan tampak akibatnya. Agama memberikan panduan bagaimana tatacara berhubungan seksual yang aman dari ancaman virus dengan landasan utama adalah pernikahan. Dengan adanya pernikahan, maka setiap hubungan seksual yang dilakukan tergolong legal. Dan pelakunya akan terikat dengan aturan agama jika Ia melakukan hubungan seks diluar pernikahannya tadi.&lt;br /&gt; Demikian, dengan adanya seks yang sesuai norma agama. Maka wujud penyakit HIV-AIDS akan nyata terlihat segmentasinya. Karena sebagian besar penderita HIV-AIDS adalah orang-orang yang melakukan hubungan seks ilegal, bahkan jika sudah menikah pun pastinya sebelumnya pernah melakukan seks bebas. Belum lagi dengan para remaja kita yang sudah familiar dengan yang namanya pacaran. Berlanjut dari hubungan biasa dan kemudian berakhir dengan hubungan seks bebas yang memang rentan akan penyakit mematikan ini.&lt;br /&gt; Alangkah lebih baiknya lagi, jika para LSM-LSM tidak mengkampanyekan bahaya seks bebas dengan membagi-bagikan kondom di wilayah umum. Manakala kondom tersebut dibagikan di ranah lokalisasi silakan saja, karena hak tersebut ada dalam pemerintah guna menangani para PSK yang terlanjur jatuh ke dalam penyakit tersebut. Dengan membagi-bagikan kondom secara terbuka, maka jangan kaget jika penderita AIDS bukannya turun tapi terus melaju hingga tingkat yang mengkhawatirkan. &lt;br /&gt; Upaya pemerintah pun, baik pemerintah pusat maupun daerah. Hendaknya bekerja lebih intensif sesuai dengan domain mereka. Jika pemerintah pusat bisa memasukkan kurikulum pendidikan seks ada dalam pelajaran agama. Kenapa tidak? Bukannya seks dalam agama bisa diperjelas secara hitam dan putihnya. Untuk pemerintah daerah sendiri, akan lebihnya mengurangi jumlah kondom yang bertebaran guna menjaga jatuhnya kembali korban akan iming-iming mainan sesaat ini. Bahkan bila perlu, kondom hanya akan diperjualbelikan untuk para suami istri yang sah, guna meredam penggunaan kondom yang tidak pada tempatnya. &lt;br /&gt; Terakhir, pemerintah daerah dapat lebih menekan pusat-pusat lokalisasi agar mati secara berangsur-angsur. Contoh kasus adalah penanganan pemkot Surabaya dalam mengawal lokalisasi Kremil menuju kematian. Beragam cara dilakukan agar Kremil berubah status dan pusat lokalisasi bisa dimatikan. Secara preventif, memang para pengguana lokalisasi turun drastis akibat oembatasan penambahan PSK baru. Secara kuratif pun, para ”mantan” PSK tersebut juga dibekali ilmu-ilmu kewirausahaan sebagai bekal hidup selanjutnya. Seperti inilah, langkah konkret pemerintah yang patut dicontoh pemerintah daerah lainnya bahkan LSM-LSM sekalipun yang giat dan fokus akan isu-isu HIV-AIDS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-252261498154405550?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/252261498154405550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=252261498154405550' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/252261498154405550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/252261498154405550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/04/aids-pendidikan-seks-dan-norma-agama.html' title='AIDS, Pendidikan Seks dan Norma Agama'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-1212179364209027817</id><published>2010-01-18T02:25:00.001-08:00</published><updated>2010-01-18T02:25:54.075-08:00</updated><title type='text'>Moralitas Generasi Muda yang Bobrok…</title><content type='html'>Program Menteri Pendidikan Nasional yang baru, Muhammad Nuh untuk memasukkan teknologi dalam sistem pendidikan merupakan langkah inovatif. Langkah yang berguna untuk memajukan kompetisi pendidikan dalam Informasi dan Teknologi. Nah, ada baiknya sebelum pemerintah mengkonversikan dunia pendidikan menjadi berteknologi. Mental-mental generasi muda kitalah yang harus diperbaiki dahulu. &lt;br /&gt; Sangat mengenaskan, ketika saya sebagai seorang mahasiswa di sebuah universitas Jawa Timur. Seringkali menyaksikan adanya penyalahgunakan teknologi di ranah pendidikan di provinsi paling timur pulau Jawa ini. Bayangkan saja, mulai dari video mesum para siswa SMA hingga soal naskah ujian yang cabul. Yang menjadi pertanyaan bagi kita, akan dibawa kemana pendidikan bangsa ini?.&lt;br /&gt; Hampir sebulan ini, peristiwa-peristiwa bekisar video cabul atau video mesum sering menghiasai wajah media massa Jawa Timur. Bukan bermaksud etnosentris terhadap sebuah provinsi, tapi yang sangat saya sayangkan adalah jeda waktunya. Kasus itu beruntun dari kota ke kota yang mayoritas di provinsi para “santri” hanya hitungan bulan. Mulai yang dilakukan siswa-siswa SMA di sebuah kos, di sekolah maupun di sebuah universitas Islam ternama.&lt;br /&gt; Mayoritas video-video semacam itu direkam menggunakan kamera handphone, dan disebar antar siswa untuk ditonton bersama-sama. Ini baru teknologi yang dikatakan masih massif antar personal saja. Nah, bagaimana jika anak-anak yang masih latah akan teknologi diberi “mainan” internet di setiap sekolah mereka, jikalau pembekalan “teknologi internet” tidak dibarengi dengan pembekalan moral. Niscaya hanya butuh beberapa tahun saja, bangsa ini akan seperti bangsa barat yang doyan akan video-video porno. &lt;br /&gt; Bayangkan saja, jika kasus pembuatan video mesum oleh generasi muda bisa diupload ke internet. Akan geger semua para petinggi negeri ini. Salah satu cara menangkalnya adalah membekali mereka akan moralitas bijak menggunakan teknologi. Melarang generasi muda menggunakan teknologi merupakan kesalahan fatal bagi kemajuan bangsa, tapi membiarkan mereka “bermain” teknologi tanpa ada pembekalan moral malah lebih fatal bagi kemajuan bangsa. Bangsa ini tidak akan jadi maju.&lt;br /&gt; Merefleksi dari program baru Mendiknas Muhammad Nuh, adalah agar pendidikan moral penggunaan teknologi juga disisipkan. Seiring dengan pengkonversian pendidikan Indonesia menuju dunia teknologi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-1212179364209027817?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/1212179364209027817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=1212179364209027817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/1212179364209027817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/1212179364209027817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/01/moralitas-generasi-muda-yang-bobrok.html' title='Moralitas Generasi Muda yang Bobrok…'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-84120138021171771</id><published>2010-01-18T02:23:00.001-08:00</published><updated>2010-01-18T02:23:58.162-08:00</updated><title type='text'>Hari Guru dan Kondisi Pendidikan Kita</title><content type='html'>Beberapa hari yang lalu, tanggal 25 November 2009 merupakan hari yang bersejarah bagi para pendidik negeri ini. Karena pada hari itu, merupakan hari Guru nasional. Sebuah hari yang istimewa untuk merefleksikan kembali peran guru dalam peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Walaupun pemerintah pusat sudah menaikkan anggaran pendidikan hingga 20% pada APBN tahun 2009 dan yang akan datang. Hal tersebut tidak bisa menjadi jaminan kuat akan semakin baiknya pendidikan kita.&lt;br /&gt; Menteri Pendidikan Nasional yang baru, Muhammad Nuh, walaupun berkomitmen untuk memperbaiki infrastruktur sekolah-sekolah. Guna menunjang pendidikan, namun dirasa hal tersebut belum mengena apabila kesejahteraan guru belum termasuk dalam program 100 hari menteri baru tersebut.&lt;br /&gt; Sejatinya, guru sebagai pegawai negeri sekaligus pendidik generasi emas bangsa, harus mendapat tempat di hati para petinggi negara ini, tapi justru sebaliknya. Untuk proses kenaikan anggaran pendidikan yang 20% saja masih diributkan apakah sudah termasuk dalam dana kesejahteraan para guru. Kalau negara menganggap dana APBN sebesar Rp.200 Triliun itu hanya digunakan sebagai dana pembangunan kualitas pendidikan. Sementara, untuk kesejahteraan guru akan mencari pos lain. &lt;br /&gt; Alhasil, guru yang notabene manusia biasa, yang juga membutuhkan tunjangan kesejahteraan pasti akan menuntut “jatah” mereka selaku pendidik bangsa. Logikanya, mereka akan meminta balas jasa bagi negara akan ilmu yang telah dicurahkan.&lt;br /&gt; Selain gamangnya pemerintah mengurus kesejahteraan guru, dirasa juga kualitas pendidikan kita semakin jauh dari panggang. Semakin banyaknya aksi video porno yang didalangi oleh siswa-siswa sekolah menengah, hingga kasus soal cabul semakin membuat miris dunia pendidikan Indonesia. Apakah pendidikan kita semakin jauh dari nilai-nilai moral? Belum lagi dengan rencana komersialisasi dunia pendidikan pada tingkat perguruan tinggi semakin membuat kompleks problematika pendidikan kita. &lt;br /&gt; Beberapa hal diatas semakin membuat tanda tanya besar, akan dibawa kemanakah dunia pendidikan kita oleh pemerintahan yang baru?. Program 100 hari Mendiknas Muhammad Nuh yang menyinggung rencana pendidikan diintegrasikan dengan dunia teknologi, juga dikhawatirkan akan memunculkan persoalan baru. Akankah dengan integrasi itu tidak akan memunculkan kelatahan teknologi pada siswa-siswa Indonesia?. Dengan artian mereka akan latah menggunakan teknologi untuk cara-cara yang tidak sepantasnya. Seperti mendownload konten-konten berbau porno, searching cerita-cerita dewasa hingga lebih parahnya mengupload video porno karya mereka sendiri.&lt;br /&gt; Secara garis besar rencana Mendiknas Muhammad Nuh untuk menintegrasikan teknologi dalam pendidikan, merupakan inovasi yang sangat mutakhir. Dengan demikian dunia pendidikan kita tidak akan tertinggal dalam masalah teknologi. Nah, untuk menghindari kelatahan para siswa Indonesia tadi, akan lebih bijaknya terlebih dulu membicarakan kompetisi para pendidik kita. &lt;br /&gt; Apabila para guru sudah tercukupi kesejahteraannya serta kompetisi yang mencukupi –dengan semua hal tersebut diakomodasi oleh negara- maka pembangunan non-fisik dunia pendidikan kita bisa berjalan sempurna. Daya dukung pendidik yang kompeten pengetahuannya, didasarkan atas seringnya pelatihan upgrading dan terjaganya tunjangan hidup. Hal tersebut akan cukup untuk membuat siswa-siswa kita melek teknologi dengan moralitasnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-84120138021171771?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/84120138021171771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=84120138021171771' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/84120138021171771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/84120138021171771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/01/hari-guru-dan-kondisi-pendidikan-kita.html' title='Hari Guru dan Kondisi Pendidikan Kita'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-7229101924650629282</id><published>2010-01-18T02:21:00.000-08:00</published><updated>2010-01-18T02:22:55.630-08:00</updated><title type='text'>Seseorang Termenung</title><content type='html'>Seperti biasanya, saat saya bersama teman-teman hendak pulang kampung dari Bogor ke Yogyakarta. Selalu lewat Stasiun Pasarsenen-Jakarta. Dari sanalah kereta akan melaju menuju stasiun berikutnya di sekitar Jakarta. Antara lain, Jatinegara, Bekasi dan Karawang hingga seterusnya.  Suatu hari saat kereta dari Pasar Senen berangkat pagi-pagi sekali sekitar pukul 06:15. Keadaan stasiun masih agak gelap dengan remang-remang cahaya lampu pijar. &lt;br /&gt; Dipagi buta, dengan perlahan, Kereta Fajar Utama bergerak meninggalkan Jakarta. Sesaat keadaan malam Jakarta yang berubah siang terlihat dengan jelas. Warung-warung malam mulai berbenah bersih-bersih. Lampu-lampu rumah emperan rel kereta mulai dimatikan, menggeliat bangun sang penghuninya. Jalan-jalan sekitar rel mulai ramai oleh pemulung, pencari beling, pencari plastic, pengemis serta pencari nafkah lainnya. &lt;br /&gt; Sejenak kehidupan pagi beberapa stasiun juga terekam. Banyak petugas menyapu sampah-sampah bekas penumpang tadi malam, pedagang mulai merapikan dagangannya menghadapi pagi yang berbeda, beberapa orang lalu-lalang sambil merokok –dari penampilannya mengesankan seperti preman-, serta loper-loper koran yang beranjak menawarkan Koran pagi Jakarta. Entah Warta Kota atau Pos Kota, dua-duanya sama-sama laku. &lt;br /&gt;Ketika kereta melewati sebuah stasiun, melambat dengan perlahan-lahan. Pandangan saya tertuju pada sebuah tulisan besar “Stasiun Jatinegara”. Ah… teringat kawan saya orang Bogor yang pernah memberitahu sedikit nasihat mengenai satu stasiun ini. Ini adalah salah satu stasiun paling rawan di Jakarta. Katanya seringkali pencopetan dan perampokan mengintai penumpang d setiap sudut stasiun. Keadaan stasiun yang sedikit muram, semuram cerita kawan saya tadi memberikan kesan bahwa stasiun ini benar-benar “rawan”. &lt;br /&gt;Di sebuah ujung peron yang hampir kotor oleh kaki-kaki penumpang, seseorang dengan memegang bungkus es terlihat duduk jongkok merenung. Memandangi garis-garis rel kereta. Tatapannya kosong menyimpan misteri. Muram. Serta menyiratkan penyesalan. Sejenak Ia mengambil nafas menyedot habis udara pagi Jatinegara. Sedetik kemudian pandangannya dialihkan ke pelataran stasiun yang mulai ramai oleh penumpang dan pedagang. Garis-garis wajahnya masih menyiratkan kekosongan. Entah, apakah Ia menanti sesuatu atau telah terjadi sesuatu pagi itu.&lt;br /&gt;Fajar Utama kembali bergerak, Pikiran saya berkecamuk akan seseorang tadi, apakah yang terjadi dengannya? Beribu kemungkinan menghinggapi kepala saya hingga kereta beranjak keluar dari garis batas ibukota menuju Bekasi. Apakah ia sedang ada masalah dengan pikirannya, atau Ia menjadi korban pencopetan pagi itu?. Semestinya tidak, karena penampilannya layaknya penghuni sekitar stasiun. Tapi yang terngiang kembali adalah, apakah hingga sepagi itu Ia bekerja di stasiun belum mendapatkan sepeser uang pun? Sementara istri dan anaknya masih menunggu di rumah. &lt;br /&gt;Berrrr, bergetar hati saya melihat sekilas keadaan tadi. Semoga saja tidak ada apa-apa dengan seseorang tadi. Memang kehidupan keras jalanan Jakarta mengharuskan seseorang untuk berhati-hati.&lt;br /&gt;Derit mesin kereta beradu dengan rel, mengingatkan saya kembali tentang seseorang tadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 31 Oktober 2009&lt;br /&gt;Mengenang menuntut ilmu di kota hujan, Bogor Raya&lt;br /&gt;Subandi Rianto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-7229101924650629282?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/7229101924650629282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=7229101924650629282' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/7229101924650629282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/7229101924650629282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/01/seseorang-termenung.html' title='Seseorang Termenung'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-3123550812724160012</id><published>2010-01-18T02:20:00.000-08:00</published><updated>2010-01-18T02:21:09.846-08:00</updated><title type='text'>AIDS, Pendidikan Seks dan Norma Agama</title><content type='html'>AIDS di Indonesia saat ini sudah dipandang sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Beragam cara telah ditempuh untuk mengendalikannya, mulai dari sosialisasi penggunaan kondom, konser amal, seminar-seminar pendidikan seks dll. Namun, semua seolah-olah hanya gerakan sporadis yang belum menemukan ruhnya. Tingkat seks bebas yang dibarengi AIDS masih tetap saja tinggi. Bahkan hingga minggu-minggu ini, tingkat penderita seks mulai bergeser dari usia pemuda menuju usia remaja. Budaya seks bebas ternyata tidak mengenal umur, bahkan anak-anak usia produktif pun terancam masa depannya.&lt;br /&gt; Berangkat dari penyakit satu ini, penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Sikap pemerintah dan lembaga swadaya hanya sebatas tingkat kuratif saja. Tingkat penyembuhan dan penanganan korban dengan cara melakukan sosialisasi agar penderita tidak dikucilkan dari aktivitas lingkungan masyarakat. Sementara, untuk usaha preventifnya malah jauh dari panggang. Usaha-usaha preventif hanya sebatas menyebar brosur, mengadakan konser amal (yang tentunya hedon) atau malah menyebarkan kondom. Sesuatu yang menurut saya tidak sesuai dengan jalurnya.&lt;br /&gt; Bila usaha preventuf agar penyakit HIV-AIDS tidak meledak menjadi Kejadian Luar Biasa, kenapa yang dibagikan adalah kondom? Bukan obat-obatan yang bisa mencegah adanya HIV-AIDS. Saya rasa dengan membagi-bagikan kondom pada tempat yang umum malah akan menambah para penikmat seks bebas. Bayangkan, bila kondom-kondom itu jatuh ke tangan anak-anak muda yang notabene masih labil emosinya. Dengan rasa ingin tahunya yang begitu tinggi. Bukankah mereka juga akan mencoba-coba yang namanya seks bebas?. Lantas, yang terjadi bukan mencegah adanya penderita baru, tapi malah menambahnya. &lt;br /&gt; Kemudian, langkah apa yang tepat untuk menanggulanginya? Jawabannya terletak pada pendidikan seks sejak usia dini (sex education). Namun, yang menjadi catatan adalah pendidikan seks dalam konteks ini tidak dilakukan begitu saja tanpa adanya pegangan yang jelas. Pendidikan seks akan menemukan ruhnya apabila kita satukan dengan norma-norma agama. Agama akan secara jelas mengatur bagaimana tatacara pendidikan dalam seks tersebut secara gamblang dan terperinci. Jadinya, dengan agamalah pendidikan seks bukan sebatas mainan dan bahan lelucon, yang biasanya sangat dinikmati oleh penderita seks bebas.&lt;br /&gt; Langkah nyata pemerintah adalah membenahi pendidikan seks yang ada sekarang. Jangan sampai bola liar bernama sex education ini diumbar kesana-kemari tanpa ada hulu yang jelas. Dalam konteks umum, pendidikan seks hanya dipandang bagaimana cara-cara berhubungan seksual yang bersih dari ancaman virus HIV-AIDS, konteks tersebut biasanya mengacuhkan apakah hubungan seks tersebut legal atau ilegal. Bila pendidikan seks telah disatukan dengan norma-norma agama, maka akan terlihat jelas warnanya. Hitam atau putih akan tampak akibatnya. Agama memberikan panduan bagaimana tatacara berhubungan seksual yang aman dari ancaman virus dengan landasan utama adalah pernikahan. Dengan adanya pernikahan, maka setiap hubungan seksual yang dilakukan tergolong legal. Dan pelakunya akan terikat dengan aturan agama jika Ia melakukan hubungan seks diluar pernikahannya tadi.&lt;br /&gt; Demikian, dengan adanya seks yang sesuai norma agama. Maka wujud penyakit HIV-AIDS akan nyata terlihat segmentasinya. Karena sebagian besar penderita HIV-AIDS adalah orang-orang yang melakukan hubungan seks ilegal, bahkan jika sudah menikah pun pastinya sebelumnya pernah melakukan seks bebas. Belum lagi dengan para remaja kita yang sudah familiar dengan yang namanya pacaran. Berlanjut dari hubungan biasa dan kemudian berakhir dengan hubungan seks bebas yang memang rentan akan penyakit mematikan ini.&lt;br /&gt; Alangkah lebih baiknya lagi, jika para LSM-LSM tidak mengkampanyekan bahaya seks bebas dengan membagi-bagikan kondom di wilayah umum. Manakala kondom tersebut dibagikan di ranah lokalisasi silakan saja, karena hak tersebut ada dalam pemerintah guna menangani para PSK yang terlanjur jatuh ke dalam penyakit tersebut. Dengan membagi-bagikan kondom secara terbuka, maka jangan kaget jika penderita AIDS bukannya turun tapi terus melaju hingga tingkat yang mengkhawatirkan. &lt;br /&gt; Upaya pemerintah pun, baik pemerintah pusat maupun daerah. Hendaknya bekerja lebih intensif sesuai dengan domain mereka. Jika pemerintah pusat bisa memasukkan kurikulum pendidikan seks ada dalam pelajaran agama. Kenapa tidak? Bukannya seks dalam agama bisa diperjelas secara hitam dan putihnya. Untuk pemerintah daerah sendiri, akan lebihnya mengurangi jumlah kondom yang bertebaran guna menjaga jatuhnya kembali korban akan iming-iming mainan sesaat ini. Bahkan bila perlu, kondom hanya akan diperjualbelikan untuk para suami istri yang sah, guna meredam penggunaan kondom yang tidak pada tempatnya. &lt;br /&gt; Terakhir, pemerintah daerah dapat lebih menekan pusat-pusat lokalisasi agar mati secara berangsur-angsur. Contoh kasus adalah penanganan pemkot Surabaya dalam mengawal lokalisasi Kremil menuju kematian. Beragam cara dilakukan agar Kremil berubah status dan pusat lokalisasi bisa dimatikan. Secara preventif, memang para pengguana lokalisasi turun drastis akibat oembatasan penambahan PSK baru. Secara kuratif pun, para ”mantan” PSK tersebut juga dibekali ilmu-ilmu kewirausahaan sebagai bekal hidup selanjutnya. Seperti inilah, langkah konkret pemerintah yang patut dicontoh pemerintah daerah lainnya bahkan LSM-LSM sekalipun yang giat dan fokus akan isu-isu HIV-AIDS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-3123550812724160012?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/3123550812724160012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=3123550812724160012' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3123550812724160012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3123550812724160012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/01/aids-pendidikan-seks-dan-norma-agama.html' title='AIDS, Pendidikan Seks dan Norma Agama'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-3188321632966310782</id><published>2010-01-18T02:18:00.000-08:00</published><updated>2010-01-18T02:20:19.763-08:00</updated><title type='text'>Belajar Kejujuran dari siapa saja…</title><content type='html'>Suatu kali dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Yogyakarta,  ketika melewati barisan depan Stasiun Pasar Senen. Saya secara tak sengaja mendengar ucapan seorang tukang taksi kepada seorang temannya. Kalau tidak salah si sopir taksi tadi mengemukan kekhawatirannya apabila harga taksi naik maka konsumen akan pergi. Namun, beberapa temannya malah menyarankan berbohong saja (tidak jujur) kepada para penumpang, alasannya dibuat-buatlah. Namun, diluar dugaan, sang Bapak menggelengkan kepala dan berucap, “Aku ini udah lama di Senen, kalau gak jujur, mana penumpang bisa percaya sama saya. Pokoknya kalau gak jujur bisa hancur”. &lt;br /&gt; Tiba-tiba mengalir setetes es dalam sanubari saya, bagaimana tidak! Di sebuah kota sebesar Jakarta yang penuh dengan individualisme dan kompetitifnya masih ada yang menyadari betapa pentingnya memegang prinsip hidup sebuah kejujuran. Sebuah prinsip hidup yang mahal untuk dipraktekkan, mahal untuk dipegang dengan benar. Karena biasanya manusia lebih suka berbohong demi keuntungan dirinya daripada berbuat jujur dengan apa adanya.&lt;br /&gt;Inilah seperti yang dikatakan Rasulullah, bahwa jika kita berjualan, maka katakanlah barang itu apa adanya. Jika kita berbohong maka tidak akan berkah apa yang kita perjualkan hari itu. Senada dengan firman Allah Swt dalam Al-Qur’an, tentang peringatan agar tidak mengurangi timbangan-timbangan, peringatan untuk berlaku jujur dalam hal jual beli. &lt;br /&gt;Demikianlah, kejujuran memang mahal untuk dipraktekkan. Akan tetapi dari satu hal ini kita bisa mendapatkan sebuah pelajaran dari seorang sopir taksi. Seorang warga kota yang setiap hari harus bangun pagi untuk mengejar setoran, bergelut dengan panas teriknya Kota Jakarta, beradu gerahnya metropolis yang penuh kedengkian dan individualisme. Dari sebuah mutiara kehidupan yang dia pegang hingga di depan stasiun Senen kemarin, semoga beliau tetap Istiqomah dengan jalannya dan semoga Allah menjaganya agar tetap istiqomah. Amien.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-3188321632966310782?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/3188321632966310782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=3188321632966310782' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3188321632966310782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3188321632966310782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2010/01/belajar-kejujuran-dari-siapa-saja.html' title='Belajar Kejujuran dari siapa saja…'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-2871161664560877999</id><published>2009-10-12T01:02:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T01:15:55.209-07:00</updated><title type='text'>I'tikaf Ramadhan di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia-Jakarta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/StLkPRC30iI/AAAAAAAAABw/XiWg-VGAc7c/s1600-h/Copy+of+DSCI2225.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/StLkPRC30iI/AAAAAAAAABw/XiWg-VGAc7c/s320/Copy+of+DSCI2225.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391622654840525346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;I'tikaf merupakan anjuran dari Rasulullah pada saat sepuluh hari di akhir bulan Ramadhan. bersama dengan beberapa teman2 siswa SMART Ekselensia dan guru-guru. dilaksanakanlah acara I"tikaf yang bertempat di Masjid Baitul Ihsan-Bank Indonesia Jakarta. Ada pengalaman menarik dalam i'tikaf ini, saya bersama dengan teman-teman pada jam 11 malam berkunjung melihat-lihat kondisi Monumen Nasional (MONAS) tepat pada jam-jam malam. dapat dipastikan apa yang terjadi disana...? anda dapat melihatnya sendiri dengan berkunjung ke Monas pada malam hari :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-2871161664560877999?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/2871161664560877999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=2871161664560877999' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/2871161664560877999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/2871161664560877999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2009/10/itikaf-ramadhan-di-baitul-ihsan-bank.html' title='I&apos;tikaf Ramadhan di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia-Jakarta'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/StLkPRC30iI/AAAAAAAAABw/XiWg-VGAc7c/s72-c/Copy+of+DSCI2225.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-3772341095946809795</id><published>2009-10-12T00:38:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T00:57:07.092-07:00</updated><title type='text'>SuperCamp di Villa Cipanas bersama Angkatan Pertama SMART Ekselensia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/StLf2JJg3BI/AAAAAAAAABo/xZMesRwTPa0/s1600-h/dsc04730.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/StLf2JJg3BI/AAAAAAAAABo/xZMesRwTPa0/s320/dsc04730.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391617825177656338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah proses training motivasi yang dilakukan sekolah SMART Ekselensia dalam mengokohkan kebersamaan angkatan pertama SMART Ekselensia dalam menjadi alumni kemarin. Dalam berbagai acara tersebut yang dilakukan selama tiga hari di sebuah villa di Cipanas, mereka diberi pembekalan-pembekalan seputar kebersamaannya sebagai sebuah angkatan yang berpadu. Kini, setelah kita menjadi alumni, kita masih sering bersama dalam berbagai komunikasi baik via sms, telp maupun facebook an. smoga kebersamaan ini terus terjaga hingga akhir hayat nanti...&lt;br /&gt;written by:&lt;br /&gt;subandi rianto (alumni SMART)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-3772341095946809795?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/3772341095946809795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=3772341095946809795' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3772341095946809795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3772341095946809795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2009/10/supercamp-di-villa-cipanas-bersama.html' title='SuperCamp di Villa Cipanas bersama Angkatan Pertama SMART Ekselensia'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/StLf2JJg3BI/AAAAAAAAABo/xZMesRwTPa0/s72-c/dsc04730.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-1138966589534167507</id><published>2009-10-12T00:26:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T00:32:01.516-07:00</updated><title type='text'>Rihlah Mentoring di Puncak Bogor-Jawa Barat 2008</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/StLaY68W9hI/AAAAAAAAABg/V7qTrO9izw0/s1600-h/img_0061.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/StLaY68W9hI/AAAAAAAAABg/V7qTrO9izw0/s320/img_0061.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391611825590040082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Merupakan rihlah yang mengasyikkan bagi kelompok mentoring saya bersama Ust. Amru Asykari, menyusuri kawasan Puncak Bogor yang "dingin" serta sholat sejenak di Masjid At-Ta'awun yang meninggalkan kenangan bagi kami yang mendalam. Sekarang anggota kelompok mentoring ini telah tersebar di seluruh Indonesia. Ada yang di Surabaya, Medan, Bandung, Jakarta serta Makassar. Semoga semangat jihad anggota mentoring ini tetap bersemayam di hati mereka semua hingga kapanpun...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;written by: subandi rianto (alumni SMART)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-1138966589534167507?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/1138966589534167507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=1138966589534167507' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/1138966589534167507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/1138966589534167507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2009/10/rihlah-mentoring-di-puncak-bogor-jawa.html' title='Rihlah Mentoring di Puncak Bogor-Jawa Barat 2008'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/StLaY68W9hI/AAAAAAAAABg/V7qTrO9izw0/s72-c/img_0061.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-7306747763753875567</id><published>2009-10-12T00:06:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T00:13:14.625-07:00</updated><title type='text'>Nice Trip ke Taman Bunga Nusantara-Cipanas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/StLWElZ_lnI/AAAAAAAAABY/Cva9RRWhWec/s1600-h/nice+trip.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 228px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/StLWElZ_lnI/AAAAAAAAABY/Cva9RRWhWec/s320/nice+trip.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391607078164862578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan dewan guru SMART Ekselensia, rombongan siswa angkatan pertama SMART Ekselensia mengadakan nice trip ke Taman Bunga Nusantara-Cipanas dalam rangka memberikan kesegaran sebelum diadakannya Ujian Nasional SMP. Alhamdulillahnya, dengan adanya refreshing sebelum ujian nasional SMP. Nilai-nilai UN kami menjadi tinggi... bahkan ada yang mencapai nilai 10 pada mata pelajaran matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Written by:&lt;br /&gt;subandi rianto (Alumni SMART)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-7306747763753875567?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/7306747763753875567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=7306747763753875567' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/7306747763753875567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/7306747763753875567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2009/10/nice-trip-ke-taman-bunga-nusantara.html' title='Nice Trip ke Taman Bunga Nusantara-Cipanas'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/StLWElZ_lnI/AAAAAAAAABY/Cva9RRWhWec/s72-c/nice+trip.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-3204260941230900857</id><published>2009-10-09T06:36:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T06:51:38.400-07:00</updated><title type='text'>Delegasi Pesta Sains IPB dari SMA SMART Ekselensia tahun 2006</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/Ss889WowsFI/AAAAAAAAABI/d8FnPkD3I80/s1600-h/PESTA+SAINS+IPB+2006.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/Ss889WowsFI/AAAAAAAAABI/d8FnPkD3I80/s320/PESTA+SAINS+IPB+2006.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390594303732002898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Merupakan kehormatan bagi saya yang saat itu ditunjuk menjadi salah satu delegasi SMA SMART EI untuk Pesta Sains IPB 2006 bidang Biologi, sesungguhnya hal itu merupakan tindaklanjut dari keberhasilan saya menjuarai 2st Olimpiade MIPA Biologi se-Kab. Bogor 2006 dan Enrichment saya di bidang Biologi, yang sesungguhnya saya adalah siswa di jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial. Walaupun tidak mendapat apa-apa, tapi kami tetap bangga bisa menjadi delegasi "PERTAMA" dari sekolah yang baru berumur dua tahun.&lt;br /&gt;Walhasil sekarang kami semua telah menjadi alumni (alumni pertama juga) yang mencengkeram pulau Jawa.&lt;br /&gt;dari kiri ke kanan:&lt;br /&gt;Fathul Ali: delegasi KIMIA: Sekarang kuliah di PWK ITS&lt;br /&gt;Abdul Qodir: delegasi KIMIA: Sekarang kuliah di Teknik Perkapalan UI&lt;br /&gt;Yazid Ridla: delegasi MATEMATIKA: sekarang kuliah di Teknik Oseanografi ITB&lt;br /&gt;Mahbubi: delegasi BIOLOGI: sekarang kuliah di PPLN STAN&lt;br /&gt;Ryanto: delegasi FISIKA: sekarang kuliah di FKM UI&lt;br /&gt;Muh. Husein: delegasi BIOLOGI: sekarang kuliah di Sistem Informasi UI&lt;br /&gt;Subandi Rianto: delegasi BIOLOGI: sekarang kuliah di Ilmu Sejarah UNAIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kemudian saya kuliah di jurusan yang beda dengan basic saya dulu, tapi saya sadari bahwa ilmu saya dulu tetap berguna untuk mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar yang tak jauh juga dari BIOLOGI....Demikian hukum Allah Swt, bahwa tiada ilmu yang sia-sia di bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wriiten by:&lt;br /&gt;subandi rianto (alumni SMART angkatan pertama)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-3204260941230900857?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/3204260941230900857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=3204260941230900857' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3204260941230900857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/3204260941230900857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2009/10/delegasi-pesta-sains-ipb-dari-sma-smart.html' title='Delegasi Pesta Sains IPB dari SMA SMART Ekselensia tahun 2006'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/Ss889WowsFI/AAAAAAAAABI/d8FnPkD3I80/s72-c/PESTA+SAINS+IPB+2006.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-4733333864158658603</id><published>2009-10-09T06:14:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T06:25:25.887-07:00</updated><title type='text'>Bakti Sosial di sekeliling masjid-masjid Kab. Bogor-2007</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/Ss83qLfmLrI/AAAAAAAAAAU/LgW-qrLI1sc/s1600-h/img-2192.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/Ss83qLfmLrI/AAAAAAAAAAU/LgW-qrLI1sc/s320/img-2192.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390588476765122226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan mengucap puji syukur kepada Allah Swt, team relawan bakti sosial Sekolah SMART tahun 2007 berangkat untuk membersihkan dan mengecat ulang beberapa masjid di sekitar kawasan sekolah SMART EI. Dengan agenda menginap di masjid yang bersangkutan (mabit) selama beberapa hari untuk lebih fokus pada bakti sosialnya. Sekolah SMART EI juga menghibahkan beberapa sajadah dan al-qur'an untuk kemaslahatan warga sekitar masjid. Harapannya tali silaturahmi ini dapat mengeratkan antara lembaga Sekolah SMART Ekselensia dengan warga Jampang-Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;written by:&lt;br /&gt;subandi rianto (alumni SMART EI angkatan pertama)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-4733333864158658603?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/4733333864158658603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=4733333864158658603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/4733333864158658603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/4733333864158658603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2009/10/bakti-sosial-di-sekeliling-masjid.html' title='Bakti Sosial di sekeliling masjid-masjid Kab. Bogor-2007'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/Ss83qLfmLrI/AAAAAAAAAAU/LgW-qrLI1sc/s72-c/img-2192.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4417189262323785239.post-8858608497031546051</id><published>2009-10-09T06:02:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T06:09:34.074-07:00</updated><title type='text'>Islamic Youth Camp 2005, di Bumi Pengembangan Insani-Bogor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/Ss80-bbGsyI/AAAAAAAAAAM/HXXGAUjl38Q/s1600-h/p7082116.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/Ss80-bbGsyI/AAAAAAAAAAM/HXXGAUjl38Q/s320/p7082116.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390585526103749410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini merupakan program yang sangat bagus untuk menyambung tali silaturahmi antara siswa sekolah SMART EI Parung-Bogor dengan semua siswa SMA se-kabupaten Bogor. Beragam acaranya yang berorientasi pada leadership, kebersamaan dan kerjasama kelompok.&lt;br /&gt;Kini, setelah beberapa tahun berlalu, sekolah SMART yang dulu masih muda...sekarang sudah mempunyai alumni pertamanya yang tersebar di seluruh perguruan tinggi ternama di Indonesia di berbagai provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;written by:&lt;br /&gt;subandi rianto (alumni pertama SMA SMART EI-BOGOR TAHUN 2009)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4417189262323785239-8858608497031546051?l=subandi-rianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/feeds/8858608497031546051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4417189262323785239&amp;postID=8858608497031546051' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/8858608497031546051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4417189262323785239/posts/default/8858608497031546051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://subandi-rianto.blogspot.com/2009/10/islamic-youth-camp-2005-di-bumi.html' title='Islamic Youth Camp 2005, di Bumi Pengembangan Insani-Bogor'/><author><name>Subandi blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07140395112989416744</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/TJ4dzRwvtZI/AAAAAAAAAG0/-GtMwIFIrMA/S220/foto+direktur+perusahaan.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_vBzfWhKyHF8/Ss80-bbGsyI/AAAAAAAAAAM/HXXGAUjl38Q/s72-c/p7082116.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
